dukasetelah ditinggal Sang Bunda, ia pun harus kehilangan kakeknya ketika umurnya belum lagi menginjak delapan tahun. Setelah kepergian sang kakek, Nabi Muhammad saw diasuh oleh pamannya – Abu Tholib. 36 Pemandu umat manusia selalu saja dipilihkan oleh Allah swt untuk memiliki pengalaman hidup sebagai seorang gembala. Prolog Dari Ibnu Abbas r.a, berkata: bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: ” Para wanita penghuni surga setelah Maryam adalah Fatimah binti Muhammad, Siti Khadijah binti Khuwailid, dan Siti Asiah istri Fir’aun.” (H.R Ahmad) Bersabda Rasulullah SAW: “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam DalamAgama Islam, Bunda Maria disebut sebagai Siti Maryam (bahasa Arab: مريم), Ibu dari Nabi Isa (bahasa Arab: عيسى بن (Inggris) Studi mengenai sang perawan yang terberkati dalam kitab suci Diarsipkan 2007-06-13 di Wayback Machine Halaman ini 161331023Nadia Kusnadiah Maryam: Bunda Suci Sang Nabi 5555128379 ERASLAN 13-Sep-2017 37 D3 Teknik Telekomunikasi 171211023 Muhammad Ezar Mafazi Agama Islam : untuk Mahasiswa Politeknik 5555121562 FADLOLI 19-Sep-2017 38 D3 Teknik Telekomunikasi 151331042 Harris Satyaputra Lembaga Budi 5555129203 HAMKA 23-Oct-2017 ParokiMedan Pasar Merah – St. Paulus. Paroki Medan Timur – St. Petrus. Paroki Medan Kota – Kristus Raja. Paroki Medan Mandala – St. Yohanes Penginjil. Paroki Medan Martubung – St. Konrad. Kabupaten Deli Serdang. Paroki Deli Tua – St. Yosep. Paroki Lubuk Pakam – Gembala Baik. Kuasi Paroki Batang Kuis – Sta. Agatha. Ditengah-tengah kegelapan yang menutupi dunia ini selama supremasi kekuasaan kepausan, terang kebenaran tidak dapat seluruhnya dipadamkan. Ada saksi-saksi Allah pada setiap zaman -- orang-orang yang memelihara imannya pada Kristus sebagai satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia, yang berpegang pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman hidup, dan JKTLd. di waktu awal akan menguatkan perjuangan mereka sehingga dapat sampai ke lembah tempat penggembalaan domba dengan lebih cepat. Saat mentari mulai menyengat, mengaburkan pandangan dalam bayangan Kampung Baharat, udara yang berembus kencang dengan membawa wewangian bau cengkih telah memberi isyarat bahwa perkampungan yang akan menjadi tempat persinggahan mereka telah dekat. Kampung Baharat atau Rempah-Rempah ini disebut juga dengan nama Tawaifi Muluk. Sebuah daerah yang diwariskan Raja Meragi dari Negeri Asykanyan. Daerah subur dengan sedikit penduduk ini kebanyakan dihuni orang-orang Persia dan Armenia. Saking kecil perkampungan ini, di peta hanya digambarkan sebagai satu titik. Bahkan, kebanyakan orang sama sekali tidak mengetahui keberadaan kampung ini. Di kampung ini hidup masyarakat yang mencintai musik, membuat alat-alat musik, dan meracik obat-obatan kimia. Pemerintahan Romawi dan para tentaranya yang bahkan telah mencapai Suriah pun belum bisa menguasai kampung ini. Ini merupakan salah satu berkah dari hamparan padang pasir panas yang mengitarinya. Jadi, sebelum menempuh perjalanan panjang mengarungi hamparan padang pasir yang memutih menyala, siapa pun tidak akan bisa mencapai tempat ini. Tak heran kampung ini hanya ditinggali beberapa keluarga. Kampung Baharat adalah tempat persinggahan pertama dalam perjalanan menuju al-Quds. Mengingat perjalanan setelah ini akan penuh dengan bahaya karena hamparan padang pasir bisa berubah-ubah akibat tiupan angin kencang sehingga sulit untuk menentukan arah jalan, kampung ini 42menjadi tempat singgah paling aman. Orang-orang menyebut jalur padang pasir paling berbahaya ini dengan sebutan “jalur kematian”. Hanya petualang berpengalaman seperti Zahter dapat menentukan arah jalan dengan melihat bintang-bintang di langit. Dan memang, orang-orang sudah melupakan jalur ini sebagai pilihan perjalanannya, meski inilah jalur paling singkat menuju kota al-Quds. Tiga kampung yang berderet di jalur ini sebenarnya berkah tersendiri dari Tuhan. Inilah benteng persinggahan. Hanya Allah yang tahu berapa jumlah orang yang selamat dari ancaman para berandal dan kejahatan para penguasa. Kampung Baharat, Haritacilar, dan Vecize berderet seperti untaian mutiara. Setelah melewati ketiga kampung ini, masih sepuluh hari lagi untuk bisa sampai Damaskus, sebelum berlanjut ke kota al-Quds. Mendekati Kampung Baharat, wangi tumbuhan rempah- rempah yang terjemur di bawah mentari menyeruak. Di kampung inilah Merzangus dan Zahter akan tinggal selama satu hari. Ketika jarak hanya tinggal beberapa meter, Merzangus mencium bau tajam rempah-rempah seperti daun mint, cabai, salam, dan bawang putih. Mereka langsung disambut arak-arakan untuk dibawa ke tempat jamuan makan sebelum diantar ke tempat penginapan. Namun, sebelum sempat beristirahat, masih ada pertunjukan tari dan musik oleh para penduduk setempat di halaman depan penginapan. Merzangus tampak sangat gembira. Pertama kali dalam hidupnya ia menyaksikan acara tersebut. Seorang wanita setengah tua bertubuh besar menari dengan kerincing di tangan dan kaki yang diikat dengan tali dari kulit. Sementara itu, beberapa orang memainkan alat musik seperti 43rebana, gendang, dan rebab. Musik kemudian didominasi suara rebab sehingga suasana berubah menjadi sedih. Saat itulah seorang laki-laki hitam dan jangkung memasuki arena pertunjukan. Ia membacakan sejenis puisi dalam bahasa yang tidak dikenal Merzangus. Meski demikian, dari raut wajah dan cara membacanya, kisah dalam puisi itu menyedihkan. Bahkan, lantunan puisi berubah menjadi tangisan. Zahter lalu mengeluarkan sekeping uang perak untuk diberikan kepada mereka. Saat itulah suasana berubah menjadi bergembira. Merzangus heran dengan pertunjukan seperti ini. Bagaimana mungkin mereka yang baru saja menangis tiba-tiba berubah menjadi riang gembira dengan wajah penuh berbinar-binar. Zahter menunduk dan berbisik ke telinga Merzangus. “Saat kau tumbuh semakin besar, kita akan mempelajari bahwa lupa adalah sebuah nikmat yang sangat besar, wahai Putriku. Ya, saat engkau sudah tumbuh besar....” Setelah pertunjukan tari dan musik, Zahter dan Merzangus menyadari bahwa yang bertamu di Kampung Baharat tidak hanya dirinya. Masih ada lagi tiga orang penyembah api yang juga sedang mengadakan perjalanan seperti mereka. Ketiga orang itu akan mengadakan perjalanan ke Damaskus untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke al-Quds. Pergerakan bintang-bintang di langit pada hari-hari terakhir telah membuat keadaan di negeri mereka gempar. Tak heran jika para ahli astronomi penyembah api itu ditugaskan 44mengamati perjalanan pergerakan sebuah bintang berekor yang dinamakan “Mirza”. Seluruh perjalanan sampai tempat bintang berekor itu berhenti harus dicatat untuk dilaporkan kepada sang raja. Pada setiap persinggahan, ketiga ahli astronomi itu harus membawa bukti dan dalil. Namun, setiba di Kampung Baharat, mereka ragu dalam memilih bukti dan dalil yang tepat untuk dibawa. Bersandarkan mimpi yang dilihat, seorang dari mereka memutuskan membawa bunga siklamen. Bahkan, ia sudah memasukkan beberapa kuntum bunga siklamen kering ke dalam tas kulitnya. Para penyembah api itu pernah mendengar sebutan lain untuk bunga siklamen, yaitu buhuru maryam. Mereka pun kebingungan mengaitkan antara bunga buhuru maryam dan perjalanan yang sedang ditempuhnya. Wajarlah jika mereka bertiga selalu bersikap hormat kepada setiap orang alim dan para tetua di tempat persinggahannya dengan harapan mendapatkan bantuan jawaban dari apa yang sedang mereka pertanyakan. Kebetulan, mereka bertemu dengan cendekiawan Zahter. Mereka menyambut kedatangannya dengan mencium tangan ahli ilmu itu. “Kami bertiga adalah para pengembara. Kami mahir menunggang kuda, menjelajahi jalanan, dan taat terhadap perintah yang dititahkan. Menghadapi terpaan angin 45kencang, kami mampu menerobos empasannya selembut sehelai rambut. Meski demikian, kami belum cukup memiliki ilmu untuk menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi kegelisahan kami. Mohon kami diperkenankan meminta bantuan Anda untuk memecahkan beberapa kebuntuan. Hanya kepada Andalah kami bisa memohon bantuan...,” kata seorang dari mereka seraya memberikan penghormatan kepada Zahter. Zahter mendengarkan penuturan mereka dengan saksama. Setelah batuk beberapa kali sembari mengusap-usap rambut janggutnya yang sudah memutih, ia mengikatkan kembali kain sorbannya seraya mulai menjelaskan dunia tumbuh- tumbuhan kepada mereka. “Tumbuh-tumbuhan adalah salah satu dari makhluk Allah yang paling sabar sekaligus berserah diri kepada-Nya,” kata Zahter memulai penjelasan. Zahter lalu mengaitkan pembicaraan tentang dunia tumbuh-tumbuhan dengan kisah Nabi Adam yang diciptakan sebagai manusia pertama. Menurut Zahter, tumbuh- tumbuhan adalah kenangan Nabi Adam sejak ia berada di dalam surga yang kemudian bersamanya pula diturunkan ke bumi. Demikianlah asal-muasal keberadaan dunia tumbuh- tumbuhan di alam ini. Setelah Allah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari, keduanya kemudian berpisah. Kemudian, Allah menciptakan makhluk “yang bergerak” di antara langit dan bumi. Dalam penjelasannya, Zahter menyebutkan bahwa awal kehidupan bermula dari air. Para penyembah api itu pun kaget mendengar hal itu. 46Sementara itu, makhluk yang paling awal diciptakan dalam air adalah tumbuh-tumbuhan, yaitu ganggang dan alga. Tumbuhan itulah yang pertama kali menginjakkan kaki ke bumi ini. Setelah itu, Allah menumbuhkan tanaman berbunga dan berbuah. Saat Zahter menerangkan semua ini dengan runtun, ketiga pemuda itu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Hal yang membuat ketiganya tertegun adalah keindahan dan kuasa Ilahi dalam menyusun keseimbangan di muka bumi ini. Penjelasan Zahter yang juga menarik perhatian adalah tumbuh-tumbuhan yang diciptakan sebagai dasar kehidupan semua makhluk hidup di muka bumi ini. Mereka adalah makhluk yang menduduki landasan pertama. Sampai suatu hari, saat hari kiamat tiba, mereka pula, alam tumbuh-tumbuhan, yang akan membunyikan loncengnya. Demikianlah menurut penuturan Zahter. Merekalah makhluk terakhir yang akan diangkat dari muka bumi ini. Setelah itu, dunia ini pun hancur. “Dunia ini dimulai dengan tumbuh-tumbuhan dan akan diakhiri pula dengan tumbuh-tumbuhan,” tegas Zahter. Setelah terdiam untuk beberapa lama, salah satu dari ketiga pemuda itu berkata, “Kalau begitu, bukti kedua yang akan kita bawa dari kampung ini adalah tanaman pakis. Semoga saat kita kembali sang raja dapat memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu begitu penting. Apalagi, pakis termasuk tumbuhan generasi awal. Tidak ada di antara kita yang mampu menandingi kekuatan kesabaran yang ada padanya. Jadi, sebaiknya kita simpan tanaman ini. Mungkin, jika suatu hari keberadaan tanaman ini sudah mulai langka di muka bumi, saat itulah hari kiamat sudah mulai dekat. Ah... betapa kebanyakan manusia sangat tidak tahu bersyukur atas 47limpahan nikmat dari Allah. Mereka kerap bersikap tergesa- gesa dan mudah lupa.” Setelah mendengar semua penjelasan Zahter, salah seorang yang paling muda dari mereka segera mendekati cendekiawan itu untuk mencium tangannya. Dia juga bertanya kepada Zahter bunga apa yang harus dibawanya dari kampung Baharat sehingga bisa menjadi bukti dan kenangan yang akan membekas seperti jam yang akan selalu dilihat atau kompas yang dapat selalu menunjukkan arah yang benar. “Dalil ketiga yang harus dibawa akan kalian dapati besok pagi saat memulai perjalanan. Bunga itu begitu harum dan dengan sabar akan membangunkanmu dari saat tertidur paling pulas sekali pun. Ia menjadi simbol yang keharumannya akan disenangi Nabi Akhir Zaman. Semua orang di sepanjang zaman akan berkirim pesan kepada kekasihnya dengan bunga ini. Ia adalah tingkatan cinta paling tinggi; bunga yang paling layak mendapatinya. Dia juga salam. Pembawa berita Sang Pembawa Berita.” Ketiga pemuda itu masih heran dengan apa yang telah diceritakan Zahter. Mereka pun memilih tinggal di dalam tenda serta memberikan kamar yang telah disewanya kepada Zahter. Siapakah Zahter? Mengapa mereka melakukan perjalanan sejauh ini bersama dengan anak perempuan kecil? Keesokan hari, ketiga pemuda itu terbangun oleh semerbak wangi bunga mawar yang ada di taman. Saat itulah mereka baru memahami apa yang dimaksud Zahter pada malam sebelumnya. Mereka begitu terpesona sehingga segera memetik beberapa kuntum bunga dan helai daunnya untuk dimasukkan ke dalam tas perbekalan. Para penduduk terheran-heran melihat apa yang mereka lakukan. Ada di 48antara penduduk yang memahaminya dan segera membacakan puisi-puisi bunga mawar dengan suara merdunya. Tibalah kini hari berpisah. Penduduk Kampung Baharat yang telah menemukan rumus kimia untuk melangsungkan kehidupan dalam kedamaian dan kemakmuran ini tentu tidak tahu bahwa orang-orang di luar sana saling menyerang dan menindas sesamanya. Mungkinkah mereka saat ini sedang mendapati masa-masa terakhir dari kehidupannya? Saat meninggalkan kampung itu, tiba-tiba Merzangus berteriak keras menunjuk pada sebatang tanaman pakis. “Lihat tanaman pakis itu, Kakek! Sayang, ia hanya sendirian seolah-olah hendak berpamitan dari kampung ini seperti kita. Atau mungkin kampung ini yang akan berpamitan kepadanya?” Zahter segera memberi isyarat dengan jarinya kepada Merzangus agar diam. “Segala hal akan berjalan sesuai dengan takdirnya, wahai anakku. Kita semua sementara di dunia ini. Mau tidak mau, kita akan kembali kepada Allah.” Demikianlah... Kampung Baharat pun kelak akan bertemu hari perpisahan. -o0o- Kampung kedua warisan bangsa Eskanyan yang kini berada dalam ancaman Romawi adalah Haritacilar. Ketiga pemuda penyembah api menyaksikan warganya sudah bersiap menunggu mereka saat tiba. Masyarakat di sini suka menerima tamu, sebagaimana masyarakat di kampung sebelumnya. Zahter tergolong tamu kehormatan bagi 49mereka yang telah mengunjungi kampung ini beberapa kali sebelumnya. Biasanya, Zahter berkunjung untuk membawa berita dari berbagai belahan dunia, menceritakan hal-hal baru, menyampaikan inovasi dan penemuan terbaru, serta berkisah tentang legenda-legenda lama dan tabir mimpi. Kampung Haritacilar termasuk pusat permukiman yang begitu indah. Jalanannya sangat bersih. Rumah-rumah dibangun begitu rapi. Di kampung ini seakan-akan tidak ada seorang pun yang melawan kebijakan pemimpinnya. Rumah- rumah berderet dengan rapi mulai dari alun-alun kota. Tampak rumah tempat penelitian astronomi. Ada pula menara yang begitu tinggi menjulang seperti untaian anggur. Di sepanjang pematang, pinggir sungai, halaman rumah, dan di samping sumber air umum, para penduduk setempat menggelar tikar dan dengan tekun menggambar peta dengan pena. Hampir semua orang menunjukkan peta yang sudah jadi, yang sedang ditulis, dan yang akan ditulis di tempat-tempat ini. Peta-peta itu kemudian digantung agar kering tertiup angin sehingga melambai-lambai bagaikan kibaran bendera. Ketiga pemuda penyembah api membeli tiga peta di tempat ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Satu peta yang mereka lihat dibuat seorang ahli astronomi yang usianya sudah begitu tua, diperkirakan 120 tahun. Namun, apa yang diterangkan seorang yang sudah setua itu tidaklah mudah untuk dipahami. Kata-katanya bercampur aduk antara khayalan, mimpi, kenangan, dan kenyataan. Apalagi, kedua matanya yang tampak memar bukan mencerminkan kedalaman ilmu yang telah didapatnya selama puluhan tahun, melainkan akibat kepedihan hidup yang menumpuk. 50Orang tua itu masih juga memaksa menunjukkan peta yang menggambarkan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, seraya terus menerangkan sampai ke pergerakan benda-benda di angkasa yang begitu teratur pada garis edarnya. “Sungguh, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan malam dan siang, tua dan muda, kekuatan dan kelemahan dalam keteraturan, seperti saudara satu sama lain,” kata orang tua itu. Para pemuda penyembah api itu menyimpulkan bahwa kondisi pemikiran orang tua pembuat peta itu sudah tidak normal sehingga kata-katanya tidak berguna. Namun, Zahter yang mendengarkan pembicaraan mereka tertawa. “Ketahuilah, orang tua itu sedang menerangkan kepada kalian tentang kekuasaan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keteraturan yang sedemikian luar biasa. Yang ditunjukkan kepada kalian itu sebenarnya adalah peta kehidupannya sendiri. Setelah berpuluh-puluh tahun mengadakan perjalanan panjang, menyaksikan kelahiran dan pergerakan berbagai bintang di angkasa, meneliti dan menggambarnya, kembalilah kehidupannya pada fase masa- masa kecilnya. Saat pantai kehidupan sebagai seorang tua telah bertemu dengan pantai kehidupan sebagai seorang anak- anak, peta yang ditunjukkannya tidak lain adalah tentang hari kematian yang begitu dekat. Jika dalam perjalanan yang paling singkat sekali pun kita tidak bisa menentukan arah jalan tanpa sebuah peta, mungkinkah kita tidak menggenggam peta untuk mengarungi perjalanan yang tak akan pernah berujung?” tanya Zahter dalam kedua mata yang berkaca-kaca. 51“Kami semua...,” kata para pemuda penyembah api itu, “Kami semua tidak percaya bahwa ada perjalanan setelah kematian!” Zahter tampak kaget. “Kalau kalian tidak percaya, mengapa begitu khawatir? Mengapa kalian selalu mencari berita dari bintang-bintang di angkasa demi mendapatkan informasi tentang masa depan? Lalu, apa yang telah membuat kalian rela menempuh perjalanan panjang mengarungi padang pasir yang penuh dengan bahaya? Dan apa yang membuat kalian harus pergi ke kota al-Quds? Sungguh, aku pertanyakan semua ini kepada kalian.” Ketiga pemuda itu tampak ingin mengelak atas serbuan pertanyaan Zahter. “Peta yang akan kami bawa sebagai bukti ini tidak lain hanya sebuah peta yang menggambarkan jejak kehidupan seorang ahli cinta.” Mereka tertawa sambil kembali mencermati petanya. Kalau memerhatikan apa yang diterangkan cucunya, peta ini telah dibuat kakeknya selama empat puluh hari dengan tetesan darahnya sendiri. Jadi, peta ini memiliki nilai yang sangat tinggi. Namun, sang cucu telah menjual peta itu dengan harga yang hanya cukup untuk kembali ke kampung halamannya dan membeli dua lembar kertas untuk membuat peta yang baru. Jika seorang yang berbadan tinggi besar dari ketiga pemuda itu memberikan jubahnya, sangat mungkin ia bisa mendapatkan peta dari sang kakek itu. Bahkan, sangat mungkin pula ia mendapatkan potongan harga. Mendengar penuturannya, ketiga pemuda itu pun tertawa satu sama lain. “Meski tidak lagi memiliki baju, setidaknya aku sudah memiliki sebuah peta.” 52Sungguh, peta itu sangat aneh. Di situ tertulis nama- nama kekasihnya yang meninggal karena terjangkit penyakit mematikan. “Tertulis nama kampung, nama pancuran air umum, nama jalan, pekarangan, nama perpustakaan yang dikunjungi, tempat pemakaman sang nenek, dan pohon tempat kudanya ditambatkan. Tempat-tempat ini semuanya digambar secara detail dengan koordinatnya. “Demikianlah, telah ia tulis segalanya tentang sang kekasih....” “Itulah cinta...,” kata Zahter sambil tertawa. Bahkan, Merzangus ikut tertawa dengan menutupi mulutnya. “Cinta.... Ia butuh diketahui, dimengerti, dan dilihat. Namun, cinta itu hanya sesaat usianya. Ia mudah retak, mudah sakit hati, dan tidak bisa digenggam dengan tangan. Cinta ibarat sayap seekor burung yang terbang, bagaikan embus angin saat pintu rumah ditutup, seperti bulu-bulu kecil yang menyelimuti buah labu, atau laksana pancaran cahaya matahari menjelang pagi. Cinta memang begitu pemalu. Kedua mata kita jangan hanya memandangi jalan sang kekasih sehingga kelak tidak menyesal telah berkata cinta. Sebab, cinta adalah sebuah tirai. Engkau bisa saja cinta buta, namun sejatinya ia butuh penglihatan yang sehat. Kalau diperhatikan, penulis peta yang kini sudah lapuk tulang-tulang 53tubuhnya dalam tanah ini mengira sudah tidak ada siapa- siapa lagi selain orang yang dicintainya. Nafsu telah membuat penglihatan sehatnya menjadi buta. Ia mengira bahwa apa saja yang dilihatnya tak lain hanya dirinya. Setiap jalan, setiap arah tujuan, adalah dirinya, berada dalam bayangannya.” Dalam peta ketiga yang akan dijadikan bukti adalah kisah seorang raja dari masa fi. Sebuah peta yang sudah begitu lusuh saking tuanya. Tipis dan halus selembut bulu. Dipenuhi tulisan dan huruf-huruf yang sudah tidak lagi digunakan. Tidak ada seorang pun yang bisa mengerti maknanya. Karena sedemikian banyak tanda dan isyarat rahasia dalam peta itu, sampai-sampai tidak ada bagian yang kosong. Terdapat pula informasi mengenai negara-negara di sekitarnya, gunung- gunung dan lembah tempat persembunyian pasukan musuh, tempat-tempat rahasia benda-benda berharga milik para raja di masa lalu, persembunyian rahasia saat terjadi perang, tempat beribadah rahasia, jalan pintas, gudang cadangan senjata, sumber air, benteng, jembatan, kendaraan perang, area pemeliharaan gajah, unta, serta kesatuan pasukan perang. “Betapa banyak hal yang mesti diceritakan, bukankah begitu?” tanya Zahter saat memerhatikan peta itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Seperti itulah para raja, para penguasa dunia. Sebesar apa pun yang mereka miliki, tetap saja merasa kurang. Mereka tidak puas sehingga meminta lebih. Mereka tidak akan melewatkan waktu untuk tidur sebelum menghitung- hitung segala yang telah dimiliki. Padahal, mereka bahkan tidak bisa membawa selimut tipisnya saat kembali ke alam baka. Sebaliknya, merekalah yang terkekang oleh harta benda yang dimilikinya. Menjadi budaknya. Sampai-sampai, kedua 54mata mereka selalu melihat dengan pandangan keserakahan. Menjadi budak nafsunya untuk selalu meminta lebih dan terus meminta lebih. Semoga Allah membebaskan diri kita agar tidak menjadi budak dari apa yang kita miliki.” “Wahai Kakek! Apakah sebenarnya yang menghubungkan kami dengan takdir sehingga bertemu denganmu?” tanya seorang yang paling muda. “Jika aku katakan bintang berekor Mirza, sungguh ia sangat kecil jika disandingkan dengan bulan, dan apalagi bulan purnama. Jika aku katakan mungkin yang menghubungkan takdir kita adalah bulan purnama, selang berjalannya waktu ia pun akan tampak kecil sampai cahayanya meredup dan hilang. Masih ada yang melebihi bulan purnama, yang tidak lain adalah matahari. Namun, jika aku katakan apa yang telah mempertemukan kita adalah mentari, ia juga akan tenggelam saat waktu malam datang. Jadi, harus ada hal lain yang abadi dan tidak berkesudahan. Siapakah dia? Sepanjang usiaku yang sudah hampir purna ini, aku berjuang menempuh perjalanan sejauh ini untuk dapat menyerahkan anak yatim ini, sementara kalian menempuh perjalanan sejauh ini untuk menyaksikan kelahiran anak yatim yang lain. Semoga salam dan syukur tercurah ke hadirat Allah yang telah mempertemukan kita, yang telah bertitah kepada takdir sehingga segala sebab membuat kita saat ini bertemu. Segala puji bagi Allah yang tiada sesembahan selain Diri-Nya”. Pembicaraan selesai. Semua terdiam. Para pemuda itu melipat dan kemudian memasukkan peta yang mereka beli ke dalam saku untuk digunakan sebagai dalil. Mereka kemudian melompat ke atas punggung kuda 55dan pergi melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Zahter dan Merzangus bergerak menuju unta mereka. “Mungkinkah mereka bisa menyeberangi padang pasir ini dengan menunggang kuda. Padang pasir hanya mampu dilewati kendaraan yang mampu memikul beban. Semoga Allah memberi hidayah kepada mereka semua,” kata Zahter kepada dirinya sendiri. -o0o- Saat melanjutkan perjalanan ke arah Kampung Vecize, tiba-tiba jeritan ribuan burung-burung hitam yang terbang di angkasa terdengar. Wajah Zahter berubah sedih. Ia mengusap janggutnya yang memanjang hampir sampai ke perut, sementara tangan yang satunya lagi mengusap keringat yang mengalir dari dahi dengan sorbannya. “Sungguh, ini tanda yang tidak baik,” katanya kepada Merzangus dalam suara lirih... Benar saja, saat ketiga pemuda itu sampai di Kampung Vecize, keadaan tempat itu sudah luluh lantak dijarah berandal. Tak hanya itu, kampung itu juga dibakar. Asap hitam tampak masih mengepul ke angkasa. Perabotan rumah tangga berserakan di mana-mana, sementara barang-barang dagangan berceceran di jalanan. Jasad penduduk dengan tangan dan kepala terpisah tampak di mana-mana. Hati Zahter pedih menyaksikan kejadian ini. Dengan penuh khawatir, ia menutup mata Merzangus dengan sorbannya. Nampan-nampan dari tembaga, cermin, sisir, telur, sayuran, gulungan kain katun, berkarung-karung gandum, serta 56rempah-rempah tercecer di mana-mana. Napas pun seolah- olah terhenti menyaksikan kekejaman yang baru saja terjadi. Kampung kecil ini sebenarnya memiliki alun-alun pertunjukan teater, dengan menara yang yang menjulang tinggi, tempat puisi-puisi yang sudah terkenal di masa lalu dijunjung tinggi, dipajang, dan dibacakan. Namun, tempat itu kini telah hancur dibakar tanpa mewariskan kejayaannya. “Di sinilah pada suatu masa kata-kata telah membangun kerajaan kedigdayaannya. Setiap orang diukur dengan kata- katanya. Ditimbang dengan berapa jumlah bait-bait yang mampu dihafalnya. Di tempat ini pula pada suatu masa para sastrawan diagung-agungkan seperti seorang nabi. Bahkan, di tempat ini pula menggunjing dilantunkan dengan nilai sastra. Dengan kata-kata, peperangan dimulai. Dengan kata-kata pula, perdamaian dicapai. Saat inilah Kampung Vecize mendapati hari penghabisannya bersamaan dengan terhentinya kata- kata,” kata Zahter. Zahter mengajak Merzangus masuk dalam sebuah perpustakaan untuk melihat ada atau tidaknya buku-buku yang tersisa. Tampak ada beberapa kitab dan lukisan yang masih utuh. Zahter lansung mengambil dan membersihkannya dengan saksama dalam linangan air mata. Ia kemudian menaruhnya ke dalam kotak bersama dengan perbekalan yang dibawanya. “Bahkan, sang penjaga pintu perpustakaan telah menghafal tujuh belas ribu bait.” Kampung Vecize dikenal dengan sebutan kampung para penyair. Saat masih muda, para penduduk selalu menunggu kedatangan Zahter. Zahter memang telah mendapat tempat di hati mereka karena keluasan ilmunya. 57“Ahh...,” kata Zahter dalam hati yang menjerit pedih. Sebuah kampung warisan peradaban Eskanyan yang paling indah dan megah seindah kilau mutiara itu kini telah rata dengan tanah. Padahal, Vecize adalah simbol kekuatan kata-kata. Melihat Patung Caesar yang telah berdiri tegak di pintu gerbang, dapat dimengerti kalau pada akhirnya Romawi telah menghancurkan kedigdayaannya. “Ahh...,” kata Zahter. “Berarti orang-orang Romawi sudah sampai ke daerah ini. Berarti dua kampung lainnya kini juga sudah berada dalam bahaya. Berarti kita adalah orang terakhir yang akan berkunjung ke daerah ini....” Saat itu, seorang pemuda dari ketiga pemuda penyembah api mengeluarkan peta dari dalam saku dan kemudian membukanya. “Lihat...,” katanya penuh semangat. “Lihat isyarat dalam peta ini. Ternyata, sang raja sudah memberi tanda dalam peta ini. Di lereng perbukitan inilah ribuan pasukan musuh sudah berjaga-jaga.” Semua orang memerhatikan tanda yang ada pada peta dengan saksama. Ternyata benar, di perbukitan sebelah barat Vecize terlihat kilau senjata ribuan pasukan yang sudah bersiap menunggu perintah untuk melakukan pemberontakan. “Inilah...” kata Zahter, “Inilah perbedaan paling nyata antara seorang raja dan penyair. Seperti apa kita hidup, seperti itu pula kita akan mati. Dan seperti apa kita mati, seperti itu pula kita akan dibangkitkan kembali. Sekarang, tempat jasad para penduduk dan puing-puing yang kita injak ini adalah kampung yang di dalamnya kata-kata diagungkan melebihi segalanya. Mereka menghormati kekuatan kata-kata. Mengapa? Hal 58pertama yang diciptakan Allah adalah kata-kata. Jadilah’, begitu Allah beriman. Bersamanya seluruh jagat raya terjadi dengan perintah-Nya. Suatu hari, sebagaimana kampung Vecize, ajal akan menjemput kita. Sungguh sudah banyak raja telah menjadi tanah bersama dengan singgasana, istana, kuda, dan semua harta kekayaannya. Bahkan, banyak pula raja zalim yang membuat kuil menjulang tinggi sebagai surga tipuannya kini juga sudah tenggelam ditelan bumi.” Zahter melanjutkan pembicaraannya dengan mengambil sebuah ranting kering seraya mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara “Coba perhatikan! Kini di manakah raja zalim beserta tentara dan istananya yang telah melemparkan Nabi Ibrahim ke dalam unggun perapian? Padahal, Nabi Ibrahim kala itu telah bertanya pada bulan, kemudian bertanya lagi pada matahari untuk mencari jawaban apakah benar yang menjadi pencipta adalah mereka. Sayang, mereka yang terbit kemudian tenggelam, yang datang kemudian pergi, yang layu, yang mati, tidak mungkin bisa menjadi pencipta. Aku tidak menyukai yang tenggelam...’ demikian Nabi Ibrahim telah berkata lantang. Semoga Allah rela kepadanya. Segalanya datang dan pergi. Hanya satu yang akan tetap abadi. Dia tidak lain adalah Allah. Dialah Yang Mahakekal.” Seteleh bicara seperti itu dengan tegas dan cepat, Zahter melompat ke punggung untanya. Sejenak ia membenahi pelananya kemudian menarik Merzangus untuk naik ke atas. “Silakan kalian mengikuti kami sampai ke Damaskus. Dengan seizin Allah, Zahter akan mengantar kalian sampai ke sana dengan selamat. Dia tahu hamparan padang pasir ini sebagaimana genggamannya. Kalian pun bisa selamat dari 59empasan pasir yang bisa membutakan mata dan juga aman dari para ruh gentayangan yang telah menjadikan banyak kesatria terkubur ke dalam tanah.” -o0o- Mereka hanya tinggal di Damaskus dua hari. Kota telah dikuasai Romawi. Setiap tempat terdapat mata-mata yang sewaktu-waktu dapat memberi informasi kepada penguasa Romawi. Seolah-olah tidak saling kenal, mereka tinggal di penginapan berbeda. Setiap warung tempat mereka membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari ramai diperbincangkan kerusuhan yang telah terjadi di kota al-Quds. Para penduduk Yahudi yang mau tidak mau harus menerima kekuasaan Romawi membuat suasana kian hari semakin memanas. Bahkan, hampir semua orang yang berkumpul di warung-warung juga sudah mengerti soal perselisihan di antara para rahib di Baitul Maqdis yang saling berebut kekuasaan. Menurut apa yang telah ramai dibicarakan, al- Quds kini telah tenggelam dalam kerusuhan. -o0o- 606. Para Pejaln Tiba di al-Quds Al-Quds, Masjidil Aqsa Dari Ibnu Khaldun “Ketahuilah bahwa, Zat Yang Maha Mencipta telah menjadikan beberapa tempat di muka bumi ini menjadi sesuatu paling mulia yang penuh dengan berkah dan pahala; tempat ibadah, tempat mulia yang telah dikisahkan melalui bahasa para nabi dan rasul. Tempat yang menjadi inayah dan kebaikan bagi umat manusia, yang menjadi perantara paling mudah untuk mendapatkan pahala dan kebaikan. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim telah diriwayatkan bahwa utusan Allah  telah menerangkan bahwa di dunia ini ada tiga masjid. Ketiganya lebih mulia daripada semua masjid yang ada. Yang pertama di Mekah, kedua di Madinah, dan yang ketiga adalah Baitul Maqdis di al-Quds. Masjidil Aqsa atau “Masjid yang Jauh”. Pada masa Sabii, di daerah ini berdiri patung di bawah bintang Venus. Tempat orang-orang Sabii memberikan kurban dan minyak zaitun untuk Venus. Mereka menebarkan minyak zaitun itu 61ke hamparan padang pasir, sampai kemudian patung yang terletak di padang pasir ini menjadi tua. Setelah bangsa Israil menguasai Baitul Maqdis, tempat ini dijadikan arah kiblat untuk beribadah. Asal mula kejadian itu seperti demikian. Nabi Musa bersama dengan kaumnya telah meninggalkan Mesir demi mendapatkan tanah yang telah dijanjikan Allah , baik kepada Nabi Yakub maupun Nabi Ishak . Sesampainya di padang pasir Tih, Allah  memerintahkan mereka mendirikan kubah dari pohon sent. Ukuran luas, panjang, bentuk, hiasan, dan kriteria lainnya telah disampaikan pula oleh Allah  melalui wahyu. Diperintahkan pula kepada mereka melengkapi bangunan masjid tersebut dengan menara, tembikar, piring, hidangan, lilin, dan juga mazbah sebagai tempat pemotongan hewan kurban. Semua itu telah diterangkan dengan jelas di dalam Taurat. Kubah pun telah dibangun. Kotak perjanjian tabut diletakkan di dalam kubah. Sebagai ganti dari papan yang diturunkan dari langit yang pecah, dibuatlah perjanjian di antara mereka yang berisi sepuluh kalimat. Papan perjanjian itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak perjanjian. Dengan perantara Nabi Musa, Allah  telah memerintahkan Harun mengatur pemotongan hewan kurban. Saat Bani Israil mengadakan perjalanan melewati padang pasir Tih, mereka mendirikan kubah tersebut di antara tenda- tenda mereka. Ke arah itulah mereka mendirikan salat. Mereka pun kemudian memotong hewan kurban di mazbah yang terletak di depannya. Setelah itu, mereka menantikan wahyu dari Allah  turun. Sesampai di Damaskus, kubah itu masih dijadikan sebagai arah kiblat. Akhirnya, kubah 62tersebut diletakkan di Sahra yang terletak di dalam Baitul Maqdis. Meski Nabi Daud  telah berupaya membangun sebuah masjid di Sahra, usia beliau tidak sampai. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Daud pun berwasiat kepada putranya, Nabi Sulaiman . Akhirnya, pada tahun keempat kepemimpinannya, bertepatan dengan 500 tahun Nabi Musa wafat, masjid pun selesai didirikan oleh Nabi Sulaiman . Nabi Sulaiman  telah membangun tiang-tiang masjid dengan menggunakan tanah liat dihias zamrud. Pintunya berlapis emas, termasuk relief, kubah, dan menara. Kuncinya juga dari emas. Untuk menempatkan tabut, ia membuat kuburan di belakang masjid. Kotak yang menjadi tempat menyimpan papan perjanjian itu didatangkan dari kota Nabi Daud yang bernama Sihyun dengan dibawa para dukun Bani Israil. Nabi Sulaiman  telah menempatkan kotak itu di pekuburan. Kubah, piring, tembikar, dan lampu diletakkan di tempat yang semestinya. Semua barang tersebut telah berada di tempat yang semestinya sampai waktu yang telah diizinkan Tuhan. Setelah usia bangunan mencapai 800 tahun, Buhtunnasir merobohkan gedung itu. Ia membakar Taurat dan Tongkatnya. Ia juga melelehkan reliefnya dan membuang batu-batuannya. Sampai kemudian, Uzair yang menjadi nabi Bani Israil pada waktu itu membangun kembali Baitul Maqdis atas bantuan seorang putra dari salah seorang putri Bani Israil yang telah diusir pemimpin bangsa Persia, dan kemudian ditawan Buhtunnasir saat kembali ke Baitul Maqdis, yang bernama Behmen. Namun, penguasa pada masa itu telah menentukan sendiri bentuk, luas, dan panjangnya sehingga dirinya tidak dapat membangun kembali masjid dalam 63ukuran sebagaimana yang telah dibangun Nabi Sulaiman . Setelah masa itu, Bani Israil hidup dalam masa kekuasaan Yunani, Persia, dan Romawi.” Demikianlah sejarah singkat Masjidil Aqsa sebagaimana tertuang di dalam “sejarah” Ibnu Khaldun. Saat kami coba mengupasnya kembali dengan kesaksian Merzangus, al-Quds berada dalam kekuasaan Romawi. Kerusuhan, pertikaian, pertempuran, dan ketidakadilan selalu terjadi di setiap masa di sepanjang sejarah manusia. Namun, sepanjang sejarah manusia pula harapan dan doa akan perdamaian, kemakmuran, dan limpahan hidayah tiada pernah berhenti dimohonkan. Demikian pula apa yang diharapkan oleh Zahter dan Merzangus. Harapan akan kebaikan yang telah mendorong keduanya untuk melakukan perjalanan panjang. Sementara itu, tiga pemuda yang menyertai keduanya adalah para pejuang di dalam pencarian kebenaran. Takdirlah yang telah membawa mereka bersama sampai ke al-Quds. -o0o- 647. Hnna, Istri Imrn Hanna adalah salah seorang wanita al-Quds keturunan Bani Fakuz yang paling baik akhlak, pendidikan, dan rupanya. Ia tinggal dalam sebuah rumah yang berdekatan dengan saudara perempuannya, al-Isya. Takdir juga telah menggariskannya sangat mirip dengan saudara perempuannya itu, baik dalam kecantikan maupun kebaikan. Keduanya juga sesama keturunan keluarga besar Lawi. Mereka menikah dengan orang-orang alim terhormat keturunan Nabi Harun  yang diberi kehormatan sebagai pengasuh Baitul Maqdis. Hanna menikah dengan seorang alim agung bernama Imran dari Bani Masan, sementara al-Isya menikah dengan Nabi Zakaria  yang keturunannya segaris dengan Nabi Daud . Secara umum, kehidupan kedua wanita bersaudara ini sangat baik. Namun, lama sudah keduanya menahan kerinduan atas seorang anak yang tidak juga kunjung dikabulkan. Meski keduanya adalah kekasih dan pelindung bagi para yatim, fakir- miskin, dan musair, tetap juga tidak ada seorang buah hati yang memanggilnya “ibu”. Tidak ada pula seorang anak yang lelap dalam dekapannya. Meski demikian, sebagai keturunan para nabi yang dikaruniai ketaatan dan akhlak mulia, mereka 65tidak mengeluhkan keadaan itu. Mereka adalah hamba yang memahami bahwa takdir Ilahi telah digariskan sehingga keduanya pun selalu menunjukan rasa rela dan bersyukur terhadap apa yang telah dilimpahkan. Akan tetapi, inilah kehidupan. Sebagai seorang wanita, tentu saja jiwa Hanna secara naluri mudah luluh seperti daun yang dihempas angin kencang. Menguning dan gugur adalah tinggal menunggu masa. Sehari-hari, Hanna suka memintal benang dari bulu domba di bawah rerimbunan pohon zaitun di belakang rumahnya. Keahlian memintal telah menjadi budaya kaum wanita di Palestina. Hal ini juga telah menunjukkan seni mereka dalam bersabar selama berabad-abad. Setiap hari, mereka sibuk mengolah bulu-bulu domba. Setelah direbus, bulu-bulu itu kemudian dijemur. Tak lupa puji-pujian dilantunkan dan lagu didendangkan secara bergantian satu sama lain. Setelah itu, bulu-bulu diteliti, disisir, dan dipilah mana yang sudah bersih dan kering. Tidak salah kata pepatah di Palestina yang mengatakan bahwa “setiap wanita akan terlihat kemahirannya dari bagaimana caranya memegang jarum pintal”. Sampai saat ini pun pintalan benang kesabaran masih terus dirajut di tanah Palestina. Sesaat Hanna termenung. Pandangannya sesekali menyapu ke arah hamparan perkebunan zaitun yang berbisik dalam embusan angin semilir. Setiap kali memandang ke arah itu, seolah-olah daun-daun pohon zaitun menyapanya bagaikan seorang gadis Palestina yang bermata hitam, sehitam buah zaitun. Pada saat itu pula berembus angin semilir yang menebar kesejukan dari sungai Ariha di dataran Yordania. Bagi Hanna, embusan angin itu seolah-olah sedang berbicara kepadanya. 66“Ah, seandainya saat ini ada seorang tamu yang mengetuk pintu menginginkan air atau sesuatu yang lain,” katanya dalam hati. Sesaat setelah berkata seperti itu, hati Hanna menjadi merinding. Terlintas dalam pikirannya kata “ingin” yang baru saja diucapkannya. Ia pun segera membenahi isi hatinya dan ingin sekali menarik kembali kata yang telah terlepas dari mulutnya itu. “Mengapa keadaan seseorang yang menginginkan sesuatu dariku telah membuatku bahagia? “Bukankah manusia tidak butuh selain kepada Allah Yang Maha Mencukupi segala kebutuhannya?” renung Hanna. Sesaat kemudian, angin kembali bertiup semilir seolah- olah memanggilnya menuju hamparan perkebunan zaitun. Hanna pun kembali memandangi daun-daun pohon zaitun yang lembut bergoyang-goyang seolah bersuara dan memanggilnya “ibu!” Ah, seandainya sekarang ada seorang anak yang memanggilnya “ibu”, yang merengek-rengek kepadanya meminta digendong. Ia pun akan membawanya membelai daun-daun pohon zaitun itu. “Ah,” kata Hanna sembari mengembuskan napas panjang. “Mengapa setiap kata hanya berkutat untuk ingin’ dan meminta’?” Ingin sekali Hanna memberikan diri seutuhnya kepada seseorang. Ingin sekali ia mendengar seseorang memanggil namanya dan akan menjawab panggilan itu dengan kata “Ya, ibu di sini...!” Ingin sekali dirinya mendapati seseorang yang terikat kepadanya, yang selalu membutuhkan keberadaannya, yang akan selalu memanggilnya dengan kata “ibu”. Ingin... ingin... dan ingin. 67Kemudian, Hanna merasakan dirinya seperti gelombang lautan yang kadang-kadang meluap. Mengapa dirinya menginginkan keterikatan? Ia pun tidak bisa menguak rahasia itu. Keinginan untuk memiliki yang datang dari lubuk hatinya telah memuat dirinya merasa malu. Ia pun meletakkan jarum pintalnya sambil berjalan ke arah rerimbunan pohon zaitun untuk mengeyahkan lintasan- lintasan yang ada dalam pikirannya. Genap tiga puluh tiga jumlah pohon zaitun yang ada di dalam kebunnya. Ini adalah kebun zaitun yang diwariskan paman suaminya, Imran. Di kebunnya ini setiap pohon memiliki nama sendiri-sendiri. Hanna pun selalu memanggil masing-masing pohon sesuai dengan namanya. Hanna melangkahkan kakinya untuk mendekati satu pohon zaitun yang bernama “Balkis”. Ia perhatikan akarnya yang kokoh menancap ke dalam tanah. Batangnya tinggi menjulang dengan dedaunan yang hijau merindang. Pohon itu seakan-akan menirukan keadaan seorang ratu dari Saba yang bernama Balkis, megah dan agung duduk di atas takhta. Pohon zaitun yang bernama Balkis seperti ratu di antara pohon-pohon lainnya. Hanna kagum saat memerhatikan ketinggiannya. Sampai-sampai, ia pun terkejut saat mendapati sangkar burung di antara ranting-rantingnya. Ia perhatikan induk burung berwarna abu-abu yang hinggap di sarang itu. Sang induk ternyata sedang membawa makanan untuk anak- anaknya yang baru saja menetas. Anak-anak burung yang sedang lapar itu seakan-akan serempak dengan seisi tenaganya berteriak memanggil “ibu” kepada induknya. Ah, betapa hati induk burung itu menderap karena memberi makan semua anaknya satu per satu dari mulutnya? 68Luluh hati Hanna mendapati pemandangan seperti itu. Lebur seisi jiwanya di bawah pohon itu dalam perasaan pedih karena tidak juga kunjung mendapat karunia seorang anak. Ia pun bersimpuh, membuka isi jiwanya, menuangkan ke dalam panjatan doa. “Wahai Zat yang menjadi pencipta langit dan bumi! Yang menjadi Tuhan seluruh makhluk. Ke mana pun diriku mengarahkan pandang, selalu hamba dapati semua ciptaanmu berpasang-pasangan. Engkau yang telah menciptakan buah- buahan zaitun dan tin berpasangan dengan ranting-ranting keringnya. Engkau ciptakan pula lautan berpasangan dengan mutiara, lebah dengan madu. Engkau telah memberikan kapal kepada Nuh untuk menyelamatkan umatnya, mengamanahkan Ismail dan Ishak kepada Ibrahim . Duhai Allah, Engkau adalah Tuhanku Yang Mahakuasa, Mahaagung, yang tidak mungkin merasa susah untuk menciptakan sesuatu. Engkau juga tidak mungkin berat mengeluarkan dari perbendaharaan- Mu jika menganugerahkan sesuatu. Duhai Allah yang kekuasaan-Mu adalah mutlak adanya, sungguh berkenanlah menganugerahkan seorang anak yang saleh bagi keluarga Imran! Mohon berkenan Engkau mengabulkan doaku ini.” Kadang, sepeti inilah keadaan manusia. Setelah kedua tangannya ditengadahkan ke angkasa, hilang sudah beban yang menindihnya. Lepas sudah tali-tali yang menjerat jiwa. 69Lega serasa bagaikan kesegaran gelombang air yang berlarian ditiup angin di permukannya. Hilanglah sudah sesak yang dirasa Hanna. Hatinya seperti terbang begitu selesai memanjatkan doa. Bagai pepohonan yang kembali terbangun dari tidur panjang di musim salju; bermekaran kuncup daun dan bunga-bunganya. Hanna seakan-aka kembali pada usia dua puluhan tahun. Memerah terasa pipinya, kemilau lembut rambutnya. Saat kembali ke rumah, Imran pun terheran-heran dibuatnya karena mendapati sang istri yang begitu penuh dengan luapan cinta kepadanya. Apa yang terjadi dengannya? -o0o- Imran adalah salah satu pemuka agama yang bertugas di Baitul Maqdis. Alim mulia keturunan Nabi Harun  yang kini mengajari Taurat kepada empat ribu ahli tulis dan empat belas ribu penghafal. Zahter, teman dekatnya, sesekali berkunjung ke al-Quds untuk bertemu dengannya. Setelah selesai mengunjungi kota itu, Zahter akan melewatkan waktunya bersama para santri ahli tulis dan penghafal untuk beribadah. Selanjutnya, ia akan memotong kambing kurbannya di halaman depan masjid untuk kemudian dimasak dan dihidangkan kepada para anak yatim dan janda. Zahter juga selalu mengunjungi Nabi Zakaria, seorang yang sangat disegani olehnya dan diberi kepercayaan untuk mengurus tempat kurban yang diberi nama Betlehem. 70Demikianlah, kunci-kunci Baitul Maqdis pun selalu tergantung di pinggang Nabi Zakaria. Zahter juga selalu membawakan hadiah, baik untuk Hanna maupun untuk al-Isa, berupa bumbu-bumbu yang ia bawa dari tempat yang sangat jauh. Imran telah mengingatkan istrinya saat bersama-sama makan di meja makan. Sepuluh hari lagi, Zahter akan datang berkunjung. Hanna pun gembira dengan berita ini. “Seolah baru kemarin dia datang,” katanya saat menyuguhkan makanan di depan suaminya. Empat tahun lalu, dalam waktu yang sama, Zahter telah datang mengunjungi rumahnya. Saat itu Hanna merasa bahagia mendapat penjelasan akan tabir mimpi yang dialaminya. Hanna bermimpi mendapati mentari terbit dari dalam rumahnya. Zahter pun menafsirkan mimpi itu dengan berkata, “Dengan seizin Allah, mahkota raja bangsa Yahudi akan muncul dari dalam rumah ini.” Mimpi dan tabir itulah yang semakin memberi harapan kepada Hanna sejak saat itu. Sementara itu, Imran tidak lantas bahagia setiap kali membicarakan anak. Demikian pula saat itu. Apalagi, penuturan Zahter semakin memberi harapan kepada Hanna untuk menjadi seorang ibu. Imran rupanya khawatir kalau kerinduan untuk menjadi seorang ibu akan kembali membuat jiwa sang istrinya guncang. Jika saja percakapan tentang anak ini tidak pernah terjadi, mungkin saja keduanya tidak akan menjadi sedemikian merasa pedih. Demikianlah apa yang dipikirkan Imran. Acara makan pun berlangsung hening. Kepedihan Hanna yang memang selama berpuluh- puluh tahun telah dirasakan karena merindukan seorang anak akan semakin terasa pada saat-saat seperti ini. Air mata 71pun berlinang di kedua pipinya. Suasana di rumah menjadi sedemikian hening. Jika saja ada seorang anak, suasana akan menjadi ramai. Ia akan berlarian di dalam rumah, kamar, dan halaman. Kehidupan terasa semakin membesar, sementara Hanna sendiri merasa kerdil dalam pandangannya. Setiap kali masalah anak muncul ke permukaan, setiap itu pula tubuhnya terasa mengerdil, luluh, mencair hingga seolah-olah akan mengalir. Tidakkah suaminya ikut bersedih dengan keadaan ini? Tentu saja ia juga sangat menginginkan kelahiran seorang anak. Namun, hal itu adalah urusan Allah. Apa pun yang telah digariskan Allah, itulah yang akan terjadi. Terhadap pemahaman seperti ini, Imran selalu lebih teguh daripada Hanna. “Bukankah semua ini adalah ujian dari Allah, takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya atas kita? Karena itu, janganlah bersedih wahai Istriku,” katanya selalu. Bahkan, kadang Imran bicara lebih keras untuk mengeluarkan kepedihan dan kesedihan yang terpendam di dalam hati Hanna. “Wahai Istriku! Engkau adalah wanita mulia dari keturunan Harun . Seorang wanita yang beriman. Pantaskah engkau berpedih hati seperti ini? Jangan lupa kalau bersedih hati merupakan bentuk penentangan. Allah sangat berkuasa untuk menguji kita dengan segala hal. Tentu saja ini adalah bagian dari ujian kita di dunia. Tidakkah kamu mengerti hakikat ini?” Tentu saja ia tahu karena ia adalah seorang Hanna. Menjadi seorang ibu adalah hal yang lebih diidam- idamkannya melebihi apa saja di dunia, meski semua anak 72yatim, anak terlantar, dan para tamu Allah yang datang ke kota al-Quds telah menganggap Hanna sebagai ibundanya. Demikianlah Hanna. Hatinya kembali meluap-luap saat sang suami menyinggung kedatangan Zahter. “Maksudku...,” katanya kepada Imran dengan nada penuh gugup. “Engkau adalah hamba Allah yang senantiasa mengerjakan apa yang disenangi oleh-Nya. Seorang hamba beriman yang mulia, rendah hati, suka membantu, dan tidak tega menelantarkan seekor semut sekali pun. Jika saja kita memohon kepada Allah untuk dikarunia seorang anak yang bersinar bagaikan terang cahaya…!” Mendapati kata-kata istrinya ini, Imran hanya memandangi wajahnya penuh belas kasih. Wajahnya yang begitu maksum seperti seorang anak yang sedang merajuk serta teguh meminta tanpa kenal putus asa telah begitu menyentuh hati sang Imran. Namun, ia adalah seorang yang tetap menunjukkan ketegaran. Ia pun kembali menata diri untuk memberikan pemahaman kepada sang istri. “Segala puji kita haturkan ke hadirat Allah. Ribuan kali syukur kita haturkan atas limpahan nikmatnya yang tiada terhingga. Namun, sebagaimana yang telah kita dengar dari apa yang telah disampaikan para pendahulu kita, seyogianya kita selalu mencegah diri dari memohon sesuatu kepada Allah untuk nafsu kita sendiri. Engkau adalah seorang yang beriman, setia, mulia, dan suka membantu sesama. Namun, entah mengapa kadang engkau terhasut oleh apa yang digunjingkan orang-orang sehingga tidak jemu untuk memiliki anak demi nafsumu. Engkau adalah seorang wanita, seorang istri, seorang teman hidup. Tentu saja keinginan untuk memiliki anak adalah hakmu. Hanya saja, engkau tidak bisa tahu mana yang 73lebih baik dan mana yang lebih jelek bagi kita. Semoga engkau tidak akan pernah lupa akan hal ini. Maksudku, apa yang sekarang ada adalah lebih baik bagi kita, meskipun teramat berat. Ketahuilah, pada hal itu ada kebaikan bagi kita. Jadi, janganlah kita masuk ke dalam ujian karena terlalu meminta. Semoga Allah melindungi diri kita dari meminta untuk nafsu kita sendiri. Semoga Allah menjaga kita menjadi budak dari meminta.” Hanna tertegun mendengarkan dan mencoba menyirami kobaran api di dalam hati dengan apa yang dinasihatkan suaminya. Ia pun hanya terdiam. Terdiam dalam berbicara. Meski hatinya terus berkata-kata. Meski jiwanya terus membara. Pada malam itu, Hanna bangun untuk berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan hati. Ia utarakan kepada Allah rahasia dan segala apa yang ada di dalam hatinya. Ia angkat kedua tangannya untuk berdoa sebagaimana yang dipanjatkan Nabi Daud . “Duhai Allah! Hamba memohon kepada-Mu untuk dilimpahkan cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan untuk mencintai segala amal yang akan mendekatkan diriku kepada-Mu. Duhai Allah! Jadikanlah hamba wasilah bagi limpahan nikmat-Mu yang aku cintai dan wasilah bagi cinta dari apa yang Engkau cintai. Jauhkanlah diriku dari permintaanku yang tidak Engkau kabulkan, dari permintaan yang menghindarkan diriku dari apa yang Engkau cintai. Duhai Allah! Jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai daripada cintaku kepada keluarga, harta, dan air dingin yang aku butuhkan di saat sangat kehausan. Duhai Rabbi! Jadikanlah diriku pengabdi 74kepada-Mu, kepada nabi-Mu, malaikat, rasul, dan hamba- hamba-Mu yang saleh. Jadikanlah diriku orang yang mencintai apa yang Engkau cintai dan jadikanlah diriku orang yang mencintai apa yang rasul, nabi, malaikat, dan hamba-hamba saleh-Mu cintai. Duhai Rabbi! Bangkitkanlah hatiku dengan cinta-Mu! Jadikanlah diriku hamba yang baik, sebagaimana yang Engkau kehendaki. Duhai Rabbi! Bimbinglah cinta dan perjuanganku kepada Zat-Mu! Jadikanlah semua usahaku hanyalah untuk meniti jalan yang Engkau ridai!” Sampai pagi hari Hanna bermunajat. Hanna adalah wanita Palestina. Demi Allah yang telah bersumpah demi zaitun dan Gunung Tur, dialah wanita Palestina yang paling pantas menyandang busana “seorang ibu”. Kesabarannya mirip pohon zaitun. Kesuburannya selebat buahnya. Pada esok hari, kembali Hanna mencurahkan isi hatinya kepada pepohonan zaitun di halaman belakang rumahnya. Kembali ia akan berbagi isi hati dengan pohon-pohon zaitunnya. Ia rawat pohon zaitun itu satu per satu. Ia berbicara dengannya, menyiraminya, membelai daunnya, dan menggemburkan tanahnya. Pohon-pohon zaitunnya seolah mengerti bahasa hatinya. Saat Hanna mendekatinya, masing- masing pohon itu seolah-olah tersenyum dalam keabu- abuan daunnya seraya berucap salam dengan suara gemersik dedaunannya. 75“Wahai para wanita cantik Palestina, bagaimana kabarmu pagi ini?” sapa Hanna kepada mereka. Hanna pun memerhatikan ranting-ranting zaitun yang tampak lelah menyangga buahnya. “Lelahkah dirimu karena begitu berat menyangga buahmu? Pegal sekali pasti pinggangmu menggendongnya. Namun ketahuilah, beban yang engkau tanggung itu adalah hal terbaik yang ada di dunia! Sungguh, betapa bahagia kalian dapatkan anugerah dari Allah untuk menjadi seorang ibu!” ujar Hanna yang akhirnya bersimpuh tak kuasa menahan tangis. Tidak lama setelah itu, Hanna terperanjat dengan burung- burung elang yang terbang dari rerimbunan pohon. Hanna pun mencari arah terbang burung berwarna abu-abu itu. Untuk kali ini, ia mendapati seekor burung yang hinggap di sangkarnya. Terdengar serempak anak-anak burung yang ada di dalam sangkar itu menyambut kedatangan sang induk membawa makanan. Hanna pun menyelinap di balik rimbun bayangan dedaunan agar tidak mengganggu induk burung. Sang induk tampak begitu gusar membagi rata makanannya kepada anak-anaknya yang sudah serempak membuka lebar- lebar mulutnya. Kedua cakar sang induk mencengkeram kencang salah satu cabang di depan sangkarnya. Kedua sayap mengepak untuk menjaga keseimbangan dan juga untuk melindungi anak-anaknya dari terjatuh maupun serangan musuh. Dengan saksama, Hanna memerhatikan induk burung sampai seolah-olah detak jantungnya pun terdengar oleh dirinya. Setelah selesai menyuapi satu per satu anak-anaknya, sang induk melompat-lompat di sekeliling sangkar untuk beberapa lama sampai kemudian terbang. Namun, beberapa 76lama kemudian sang induk kembali lagi. Kali ini ia membawa ranting kering dengan paruhnya. Ia pun mulai memperbaiki sangkarnya. Kemudian, ia pun kembali terbang dan kembali membawa ranting sampai beberapa kali untuk memperbaiki sangkarnya. Hanna lama berdiam diri di balik rerimbunan untuk memerhatikan apa yang sedang dilakukan induk burung. Dirinya pun seakan-akan telah menyatu dengan pohon zaitun yang ada di dekatnya. Kejadian yang ia perhatikan merupakan pemandangan terindah baginya di dunia, yang menerangkan indahnya menjadi seorang ibu. “Duhai Rabbi!” sebutnya. “Duhai Rabbi yang telah melimpahkan kepada pepohonan dan burung-burung untuk menjadi ibu! Perkenankanlah hamba merasakan menjadi seorang ibu!” -o0o- 778. Pereun di al-Quds Zahter mengenang hari-harinya di kota al-Quds dengan penuh kerinduan. Setelah hampir empat tahun tidak berkunjung, ia memutuskan melakukan perjalanan jauh guna mengobati rasa rindunya itu. Seperti biasa, setiap kali akan mengadakan perjalanan, Zahter memberitahukan para petinggi kota al-Quds. Mereka rupanya juga telah menantikan kedatangannya. Apalagi, Zahter sudah begitu lama tidak berkunjung ke Palestina. Kedatangannya kali ini tentu saja sangat berarti bagi mereka. Sesampai di sana, Zahter akan tinggal di rumah İmran. Zahter kerap bercerita tentang Nabi Adam dan Nuh . Setelah itu, ia akan melanjutkan ceritanya tentang Nabi Ibrahim dan juga keluarga Imran. Mereka adalah para hamba pilihan yang telah menjadi pelita bagi semua penduduk di dunia. Karena begitu sering bercerita tentang kedua nabi agung dan keluarga mulia itu, hal tersebut seolah-olah menjadi wasiatnya. Ia akan bercerita dan selalu bercerita dengan mengagungkan nama dan keturunannya yang telah membuat dunia mengenalnya dengan dakwah pada jalan kebenaran. Ya, 78keluarga Ibrahim dan Imran adalah penunjuk jalan kehidupan dan para pelindung sesama. Zahter juga berkali-kali mengisahkannya kepada Merzangus. Sudah disebutkan di dalam suhuf Nabi Idris tentang ciri-ciri manusia terpilih, yaitu cerdas, rendah hati, dan ahli hikmah. “Syarat menjadi orang pilihan adalah harus berpisah diri,” kata Zahter. “Berpisah dari kefanaan dunia, berpisah dari segala hal yang jelek dan kotor untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan begitu, kedudukan sebagai orang terpilih akan tercapai.” Menjadi manusia pilihan tidak bisa diraih dari sekadar garis keturunan yang diberkahi. Harus ada perjuangan, ketaatan, upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan berlepas diri dari jeratan dunia, dan teguh menjadi seorang hamba. Sebagaimana ia tidak bisa didapat dengan berupaya, ia juga tidak bisa didapat dengan tidak berupaya. Demikianlah untuk menjadi hamba terpilih dari sisi Allah. “Wahai anakku! Aku tidak menceritakan semua ini kepadamu sebagai hal yang percuma. Nanti, setelah aku mengamanahkanmu kepada keluarga Imran, engkau akan memahami semua ini dengan lebih jelas,” kata Zahter. “Allah telah memilih dan menjadikan Adam, Nuh, serta keluarga Ibrahim dan Imran lebih tinggi daripada seluruh 79alam. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Mahatahu,” tambah Zahter. Zahter kemudian bercerita kepada Merzangus tentang sosok Nabi Adam sebagai manusia terpilih di antara semua manusia. Bahkan, karena Adam  adalah manusia pertama, Allah telah memilihnya memikul amanah dari semua makhluk di jagat raya. Dengan amanah itu pula ia dimuliakan, diberikan kemampuan. Penunjukan Nabi Adam tersebut berarti pula sebagai momen manusia telah dipilih Allah sebagai khalifah di muka bumi. Ini merupakan tanggung jawab yang sangat berat, di samping sebagai sebuah kebanggaan dan kehormatan. Begitulah menurut penuturan Zahter. Manusia kedua yang sering Zahter sebut adalah Nabi Nuh. Allah telah mengutus Nuh  untuk membimbing kembali umat manusia sepeninggal Nabi Adam. Saat itu, umat telah rusak dan kehilangan arah sehingga menjadi manusia yang kerap menumpahkan darah dan membuat kerusakan di muka bumi. Dengan badai dan topan, semua daratan disapu rata oleh banjir besar. Semua peradaban diluluhlantakkan di dasar lautan. Tumbuhlah generasi manusia kedua yang dibangun kembali bersama Nabi Nuh. Dengan demikian, Nabi Nuh adalah generasi kedua bagi umat manusia. Mungkin kisah ini telah ratusan kali Zahter ceritakan kepada Merzangus. Namun, kali ini ia mengulanginya kembali seolah sedang berwasiat kepadanya. Zahter bercerita dengan serius, menatap ke dalam mata Merzangus. Wanita kecil itu seolah-olah almari buku sehingga Zahter ingin menyimpan catatan kehidupannya di dalamnya. Setiap kali Zahter bercerita tentang Nabi Nuh, wajahnya berubah penuh rasa takut. Punggungnya langsung membungkuk, tubuhnya merinding dan menggigil seolah 80sedang sakit malaria karena kemuliaan Nabi Nuh. Bahkan, Zahter tampak lemas tak sadarkan diri. “Satu tangan Nabi Nuh menggenggam kiamat, sementara tangan yang lain memegang erat kebangkitan dunia baru,” kata Zahter. “Nabi Nuh telah menjadi yang terpilih!” Orang ketiga yang selalu Zahter tekankan sebagi manusia “terpilih” adalah Nabi Ibrahim dan keluarganya yang mulia. Allah sendiri yang telah mengagungkan Nabi Ibrahim dan ahli baitnya. Nabi Ibrahim juga ayah para nabi. Sebuah keluarga yang menyusun garis keturunan mulia, mulai dari Nabi Yakub, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun.... Ditambah dua nabi agung yang tak lain adalah kedua putranya, yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishak. Setiap kali Zahter bercerita tentang kedua nabi ini, wajahnya berbinar-binar penuh luapan kegembiraan. Dengan penuh semangat, ia bangkit dari duduknya dan bersiap tegak seolah-olah hendak menyambut kedatangan seseorang. Ia juga membenahi baju dan menata sorban di kepalanya. “Insyaallah, berita gembira mengenai kedamaian dan keselamatan akan datang dari kedua nabi putra Nabi Ibrahim, yaitu dari keturunan Nabi Ismail dan Ishak. Allah akan menyempurnakan agamanya dengan mengutus khatimul anbiya yang merupakan keturunan dari salah satu nabi, Ismail atau Ishak,” kata Zahter selalu. “Setiap kali mengingat kedua nama itu, tercium semerbak wangi surga olehku.” Memang demikian. Ibrahim  adalah nabi pemecah berhala yang telah menjadi contoh akhlak mulia sepanjang masa. 81Sebagai orang terpilih keempat, Zahter sering mengisahkan kemuliaan keluarga Imran. Ia juga bercerita bahwa keputusan Allah menunjuk hamba-Nya menjadi manusia terpilih tidak hanya berdasarkan garis keturunan, keluarga, atau genetik. “Allah telah menjadikan para hamba-Nya menjadi manusia terpilih dengan ketakwaan, ketaatan menghamba, dan perjuangan dalam keteguhan tauhid.” Menurut Zahter, “manusia terpilih” itu berkait erat dengan perjuangan seorang hamba dalam memikul ujian. “Allah tiada akan memilih hamba-Nya tanpa melalui ujian,” katanya dalam senyum yang pedih. Bukankah Adam  telah diuji dengan kedua putranya, Qabil dan Habil? Nabi Nuh diuji dengan istri dan putranya yang tidak mematuhi ajarannya? Nabi Ibrahim diuji dengan ayahandanya sendiri yang mengusirnya dengan melempari batu? Setelah putra Adam , Qabil, membunuh saudara kandungnya sendiri yang bernama Habil hingga terjadi pertumpahan darah pertama di muka bumi, Nabi Adam kemudian melakukan uzlah. Saat itu, Nabi Adam merasakan kepedihan yang luar biasa karena satu putranya yang telah mendahuluinya, sementara satu putranya yang lain pergi tanpa kejelasan. Nabi Nuh juga memikul pedih dengan ujian dari putranya. Segala upaya yang dilakukan, setelah meminta dengan sangat, tidak mampu mengajak sang putra naik ke kapalnya. Ia pun harus menahan kepedihan menyaksikan putra kandungnya sendiri hanyut dalam kekufuran. Bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Sudah berpuluh-puluh tahun ia tak juga kunjung mendengar seseorang memanggilnya ayah. Setelah usianya 82telah menginjak lanjut, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang putra. Namun, ia harus memikul ujian melaksanakan perintah Allah untuk mengurbankan sang putra. Zahter bercerita tentang hubungan “seorang hamba terpilih” dengan ujian berat ujian yang dipikulnya. Lalu, apa hubungannya dengan keluarga Imran? Merzangus telah menanyakan hal ini kepadanya beberapa kali... Namun, ia akan mendapatkan jawaban yang hampir sama. “Engkau akan menemukan jawaban itu setelah menjadi saksi untuk mereka. Menjadi saksi kemuliaan keluarga Imran sebagai pendukung kebaikan. Mereka adalah para hamba terpilih dari sisi Allah. Bersaksi dan mengabdilah kepada mereka!” Inilah wasiat sang kakek kepada Merzangus. Ia telah mewariskan keluarga Imran kepada cucunya. Dan Merzangus pun telah memahami amanah ini dengan sepenuh hati. Ia menerimanya dengan berjanji akan mengabdi kepadanya. Sejak saat itu, Merzangus akan menuliskan kesaksiannya dalam lembaran putih untuk kakeknya. -o0o- Tibalah hari yang telah dinanti-nanti. Setelah melewati kota Damaskus, karavan kini mulai memasuki pintu gerbang kota al-Quds. Imran menyambut kedatangan Zahter bersama dengan rombongan di depan pintu gerabang Baitul Maqdis sebelah timur.. 83Empat tahun lamanya mereka tidak bertemu. Mereka pun saling merindukan satu sama lain. Ada tiga pemuda yang belum dikenal Imran dan juga seorang bocah perempuan berada di sisi Zahter. “Ini adalah para tamu Allah yang telah datang sampai ke pintu rumah Imran.” “Sementara itu, anak ini adalah putriku yang telah ikut bersamaku selama empat tahun ini. Merzangus namanya. Jangan lihat dari usianya yang masih kecil. Dia sudah hafal Taurat. Ketiga pemuda ini sahabatku yang telah menemani perjalanan di padang pasir. Kedatangan mereka ke Palestina untuk mengikuti jejak sebuah berita. Awalnya, mereka adalah para penyembah api. Namun, setelah mendapati berbagai peristiwa, mereka mendapatkan hidayah sehingga bertauhid dan memeluk agama yang benar. Aku memberi mereka nama seperti pada putra Nabi Nuh, yaitu Ham, Sam, dan Yafes. Mereka akan mengabdi untuk keluarga Imran.” Setelah berkenalan, ketiga pemuda itu diantar untuk menginap di Baitul Maqdis, sementara Merzangus melihat- lihat dulu sekeliling kota. Perempuan kecil itu heran karena belum pernah melihat kota sebesar ini. “Aku sudah sangat tua. Aku sudah lelah menempuh perjalanan panjang.” kata Zahter berulang-ulang saat berbincang dengan Imran. “Anak yatim ini diamanahkan kepadaku. Menurutku, ia juga bisa menjadi teman yang baik bagi istrimu, Hanna. Sungguh, Merzangus adalah anak yang baik.” Hanna menerima para tamu dengan sangat baik. Lebih- lebih kepada bocah yang akan menjadi temannya. Hanna merasa bahagia sehingga dunia seolah-olah telah menjadi 84miliknya. Keduanya berpelukan erat. Hanna memeluk Merzangus penuh dengan luapan kasih sayang dan perhatian. Saat itu, wajah kecil itu terlihat begitu kusut dan dipenuhi debu-debu padang pasir. “Sungguh, hadiah yang dibawa Zahter kali ini yang paling baik dari hadiah-hadiah yang selama ini ia bawa,” kata Hanna sembari memeluk dan menciumi Merzangus. Hanna kemudian membawa Merzangus untuk mandi di hamam bersama dengan adik perempuannya, al-Isya. Dengan penuh perhatian dan luapan rasa gembira, mereka memandikan Merzangus. Mereka mencuci rambut, menggosok wajahnya, mengusapkan parfum bunga mawar, dan membelikan pakaian baru dari beludru. Saat makan malam, Imran bercerita kepada Zahter mengenai perkembangan keadaan di Baitul Maqdis. Imran juga menyinggung keadaan bangsa Yahudi yang kian hari kian sulit semenjak al-Quds berada di bawah kekuasaan Romawi. Perseteruan di antara para rahib semakin menunjukkan perpecahan. Para rahib lebih berpihak kepada wali Romawi demi mendapatkan perlakuan khusus. Menurut Nabi Zakaria, Imran, para ahli tulis yang mendukungnya, keadaan para rahib yang terjun ke dunia politik hanyalah akan semakin membuatnya jauh dari Allah dan dari rakyat. Lebih-lebih, bangsa Yahudi juga telah merasakan pengalaman bahwa terjunnya para rahib ke dunia politik hanya akan membuat agama dan tauhid berada dalam tekanan dan rawan disalahgunakan. Imran sering mengatakan bahwa “al-Quds sudah kehilangan ruhnya; pergi meninggalkannya”. Al-Quds kini terguncang. Penindasan dan penjajahan telah menambah 85kepedihan hati rakyat sehingga kerusakan akhlak dan agama terjadi di hampir setiap sudut kota. Demi mendapatkan sedikit keuntungan dari pemerintah Romawi, sebagian rahib bahkan tega menjual berita palsu kepada penguasa untuk menjerumuskan sesama. “Nafsu dan pemenuhan hasrat jasmani telah membuat ruh meninggalkan Palestina. Ruh yang dikalahkan dunia dan materi telah membuatnya bersembunyi,” kata Imran. “Sungguh, ini adalah perniagaan yang teramat merugikan,” kata Zahter. Kekalahan adalah hal yang sangat berat dan pedih. Dalam tekanan dan kekuasaan pemerintah Romawi, para ahli tauhid yang memiliki keteguhan dan keberanian dibutuhkan untuk menyeru kepada agama dan kebaikan. Ini akan membuat ketulusan dan keteguhan iman setiap orang menjadi jelas. “Aku melihat para rahib Baitul Maqdis seperti bongkahan emas yang dimasukkan ke dalam tungku dengan nyala api yang sangat panas,” kata Zahter... “Sungguh para rahib telah mendapati ujian yang sangat berat. Mereka telah berada dalam ujian kobaran api. Hanyalah mereka yang memiliki ketakwaan teguh akan dapat selamat dari kobaran tungku api itu. Semoga Allah tidak menjadikan kita sebagai orang yang meleleh dalam kobaran api itu”. 86Para rahib telah terjerumus ke dalam perniagaan yang teramat sangat jelek lagi merugikan dengan terjun ke dunia politik demi mendapatkan tempat di sisi pemerintah dan wali Romawi. Mereka telah menjual harga diri, kehormatan, ruh, dan keyakinan dengan alat tukar pangkat, kekuatan, dan ketamakan terhadap harta dunia. Inilah sebuah jual beli yang akan membuat manusia merugi... Padahal mereka adalah kaum yang telah mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari sisi Allah dengan tugas mereka menyampaikan pesan ajaran-Nya. Padahal tugas mereka adalah membimbing umat ke jalan tauhid. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, meski dalam permukaan mereka menjalankan syariat, namun sejatinya mereka telah kehilangan nilai-nilai ajaran agama yang suci dalam hati dan kehidupannya. Rasa belas kasih dan ketulusan hati telah berganti pada keserakahan dan ketamakan dunia... “Terhadap mereka yang kepadanya diberi Kitab, Allah telah mengambil janji engkau harus menjelaskannya kepada umat manusia, engkau tidak bisa menyembunyikannya’. Sedangkan mereka tidak mendengarkan perintah ini. Mereka telah menggantinya dengan dunia yang bernilai rendah. Sungguh jeleknya perniagaan yang mereka lakukan.” -o0o- 879. Perjalnn Terkir aer Empat puluh hari setelah perjumpaan itu, penyakit yang selama ini Zahter sembunyikan mulai kambuh kembali. Setiap saat, ia merasa kedinginan seperti seorang yang menderita sakit malaria. Suhu badannya naik turun dengan sangat drastis. Tubuhnya pun lemah dan hanya mampu terbaring di rumah Imran sepanjang waktu. Merzangus terus menunggunya. Ia duduk menemani “kakeknya” di samping kepalanya. Setiap kali Zahter merintih, Merzangus akan segera mengganti kain lap yang dibasahi dengan air cuka untuk menyeka kening dan lengannya. Sesekali Merzangus meneteskan sirup bunga mawar ke bibir Zahter yang serasa tidak akan pernah terbuka lagi. Setelah itu, Merzangus akan memijit-mijit Zahter dengan minyak, menyisir rambutnya dengan minyak mint untuk meredakan rasa sakit di kepalanya karena tua dan sering berkelana. Akibat suhu badan yang tinggi, Zahter sering kali menggigau. Ia berkhayal mengenang masa mudanya saat masih berlari-lari di tengah-tengah padang pasir untuk berburu kijang. Ketika kembali sadar, Zahter akan membacakan beberapa hafalan doa kepada Merzangus dan memintanya 88berbisik lirih melantukan puji-pujian, sampai kemudian Zahter kembali tidak sadarkan diri. Tiga hari sudah Zahter sakit. Panas badannya tidak kunjung turun. Kata-kata yang selalu diulang setiap kali dapat siuman adalah “Semoga Allah berkenan mengampuni diriku. Semoga Allah berkenan mengambil nyawaku saat masih berada di kota al-Quds!” Namun, bagaimana dengan Merzangus? Ia akan kembali merasa kesepian di dunia yang begitu luas ini. Zahter telah menjadi ibu, ayah, dan juga temannya selama bertahun-tahun. Merzangus selalu memandangnya sebagai rumah tempat tinggalnya. Sejak kampung halamannya diserbu sekawanan perampok, tidak ada lagi rumah tempat bernaung baginya yang masih kecil. Sejak saat itu pula kehidupannya telah berubah untuk selalu mengembara, berjalan dan berjalan, hidup di atas punggung unta, serta memasang dan membongkar tenda. Hari-harinya kebanyakan dilalui dengan berjalan kaki. Ia tak pernah menetap sehingga tak memiliki rumah maupun kampung halaman. Dalam kehidupannya yang seperti ini, Zahter yang sudah tua renta adalah segala-galanya. Ia berarti rumah dan tempat tinggalnya, berarti pula kampung halaman bagi dirinya. Ya, Zahter adalah ibarat sebuah rumah bagi Merzangus, hamparan tanah yang tidak akan pernah meninggalkan dan tidak pula akan membuatnya tergelincir saat menapakinya. Karena itulah, saat Merzangus mendapati sosok yang sudah dianggap sebagai “kakek”-nya berada dalam ambang ajalnya, ia rasakan dunia ini semakin besar baginya, sementara dirinya makin kerdil mendapati kehidupan ini. 89Saat kehidupannya sebagai anak yatim baru saja mulai dapat dilupakan, saat itu pula segalanya kembali lepas darinya. Hidup sebatang kara terasa seperti memukul remuk jiwanya yang masih kecil. Hanna yang juga mengunjunginya mencari alasan untuk mengirimkan Merzangus ke rumah saudaranya, al-Isya. Merzangus pun menuruti permintaannya tanpa merasa curiga. Apalagi, ia juga sangat mencintai saudara perempuan Hanna itu. Sering ia bermain berlarian dan berlarian. Namun, kali ini Merzangus bukan dikririm untuk bermain bersamanya. Secara usia, al-Isya jauh lebih muda daripada Hanna. Mereka juga sama-sama belum dikaruniai seorang anak. Tak heran jika keduanya sering memperebutkan Merzangus. Al-Isya adalah istri Nabi Zakaria. Nabi Zakaria yang berasal dari keturunan Daud , seorang nabi yang begitu dihormati, diberi kepercayaan memegang kunci Baitul Maqdis dan mengurus tempat persembahan kurban. Dalam waktu yang singkat, Merzangus pun telah menjadi sumber keceriaan di rumah Imran dan Nabi Zakaria. Hanna rupanya tidak ingin Merzangus yang masih kecil menyaksikan saat-saat ajal kakeknya. Itulah alasan mengirim Merzangus ke rumah al-Isya. Al-Isya menyambut kedatangan Merzangus dengan riang. Ia mendekapnya seraya mengajaknya bermain. Namun, 90Merzangus malah menangis tersedu-sedu seraya berbisik, “Kakek tidak ingin mengajakku pergi untuk yang terakhir kalinya, al-Isya!” -o0o- Sesuai dengan isi wasiat, Zahter dimakamkan di lereng bukit, di bawah pepohonan zaitun di kota Palestina yang sangat dicintainya. Sementara itu, Ham, Sam, dan Yafes sama-sama beruzlah dengan mendirikan gubuk di dekat pemakamannya, seakan-akan menjadi penjaga Zahter sang cendekiawan yang telah meninggal dunia. -o0o- 91 masjiddarussalam18 Download PDF Publications 228 Followers 19 Maryam Bunda Suci Sang Nabi Sibel Eraslan Maryam Bunda Suci Sang Nabi Sibel Eraslan View Text Version Category 22 Follow 1 Embed Share Upload Novel by Sibel EraslanMaryam- Bunda Suci Sang Nabi - Kaysa - Bunda Suci Sang Nabi - Penulis Sibel Eraslan Penerjemah Aminahyu Fitri Penyunting Koeh Perancang sampul Zariyal Penata letak Riswan Widiarto Penerbit Kaysa Media, Puspa Swara Group Anggota IKAPI Redaksi Kaysa Media Perumahan Jatijajar Estate Blok D12/No. 1-2 Depok, Jawa Barat, 16451 Telp. 021 87743503, 87745418 Faks. 021 87743530 E-mail [email protected], [email protected] [email protected] Web dari Siret-I Meryem Cennet Kadinlarinin Sultani karya Sibel Eraslan Copyright c TİMAŞ Basım Ticaret Sanayi AŞ, 2013, İstanbul Türkiye Pemasaran Jl. Gunung Sahari III/7 Jakarta-10610 Telp. 021 4204402, 4255354 Faks. 021 4214821 Cetakan I-Jakarta, 2014 Buku ini dilindungi Undang-Undang Hak Cipta. Segala bentuk penggandaan,penerjemahan, atau reproduksi, baik melalui media cetak maupun elektronik harus seizin penerbit, kecuali untuk kutipan ilmiah. C/47/VII/14 Perpustakaan Nasional RI Katalog Dalam Terbitan KDT Eraslan, Sibel Maryam/Sibel eraslan -Cet. 1—Jakarta Kaysa Media, 2014 viii + 464 hlm.; 20 cm ISBN 978-979-1479-76-9 Penerbt Siapa tidak mengenal Maryam? Dialah wanita yangdianugerahi berbagai kelebihan oleh Allah . Kesabaran danketeguhannya dalam melaksanakan perintah Allah  sudahsangat dikenal. Tak heran jika Maryam termasuk 4 wanitapenghuni surga. Novel yang ada di hadapan pembaca ini adalah seriterakhir dari serial 4 wanita penghuni surga karya wanitanovelis terkemuka asal Turki, Sibel Eraslan. Tiga novellainnya berkisah tentang Khadijah, Fatimah, dan Asiyahistri Firaun. Tiga seri ini telah mendapatkan apresiasi positifdari pembaca di seluruh Indonesia. Untuk itu, kami denganbangga mempersembahkan seri terakhir dari serial 4 wanitapenghuni surga ini. Meski di negara asalnya, Turki, novel Maryam tidakterbit terakhir, di sini kami sengaja menerbitkan kisah inisebagai terbitan pamungkas. Hal ini didasarkan pada alasanbahwa kisah Maryam dalam novel ini begitu luar biasa jikad kecintaan kepada perintah Allah pantas menjadi teladanbagi seluruh umat manusia yang hidup setelahnya. Dalam ini, kita akan melihat bagaimana sosok Maryam SangBunda Suci ini yang begitu sabar dan kokoh menerima segalamacam ujian yang mungkin belum pernah diterima manusia,baik dulu maupun yang akan datang. Bahkan, beliau telahmendapat ujian sejak dirinya baru dilahirkan. Inilah salahsatu alasan mengapa kisah tentang Bunda Maryam begitulayak dibaca dan direnungkan sebagai bahan pelajaran untukmenapaki kehidupan. Novel Maryam ini beralur flashback. Kehidupan Maryamdan putranya dikisahkan oleh tokoh iktif bernama dibuka dengan kisah yang menggambarkan kondisidan situasi yang terjadi saat peristiwa penyaliban NabiIsa. Merzangus yang menyaksikan peristiwa itu kemudianmengisahkan kehidupan Bunda Maryam dan Nabi Isa kepadaistri Pilatus, wali Romawi yang memimpin sidang kisah ini bermula. Selanjutnya, Merzangus berkisah tentang dirinya danpertemuannya dengan keluarga Maryam. Dia menyaksikankelahiran Maryam dan peristiwa yang terjadi pada diri Maryamsejak kecil. Merzangus juga mengetahui kelahiran Nabi Isa danmenjaga ibu-anak itu dari gangguan kaum yang berniat jahatkepada mereka. Kisah terus berlanjut hingga Nabi Isa dewasadan diangkat menjadi nabi. Intinya, Merzangus menjadi saksipenting atas seluruh peristiwa yang terjadi pada diri BundaMaryam dan Nabi Isa, sejak dari mula hingga akhir. Seperti 3 kisah sebelumnya, kekuatan novel ini terletakpada kemampuan pengarang meramu berbagai sumberpengisahannya menjadi “dongeng modern” tentang wanita-wanita hebat yang pernah ada dalam sejarah. Kita akan diajakoleh pengarang untuk “berkelana” pada ruang dan waktu jauh serta merenungkan dan membandingkan kembalisemuanya dengan kehidupan masa kini. Di sinilah keempatnovel ini menjadi penting untuk dibaca. Dalam konteks kekinian, tokoh-tokoh yang luar biasa inihadir bukan hanya sebagai simbol kebaikan, keluhuran, dankeagungan yang tidak bisa ditiru. Apa yang terjadi pada mereka,pada beberapa sisi, pasti juga dialami oleh manusia membedakan adalah sikap dan respons positif merekaterhadap semua kejadian yang menghampiri. Untuk itulahkita bisa belajar mengenai pengorbanan kepada Khadijah,keteguhan memegang akidah kepada Asiyah, keikhlasan dancinta kepada Fatimah az-Zahra, dan kesabaran kepada BundaMaryam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada mereka, parawanita ahli surga dan ibunda orang-orang hangatPenerbit Kaysa Media vDafar IsiPengnar Penerbt - iii 9. Perjalnn Terkir aer - 88Pembka - 2 10. eika Marym Baru dalm Bera- 921. Cahaya eing Marym - 6 11. Hnna Mengndng- Tngn yng Slalu Terbka - 12 12. Susna Hti Imrn- 1103. Merangs Sng Dkn Bayi- 18 13. Susna Hti Hnna- 1144. Ksah Merangs- 29 14. elairn Marym - 1185. Pengembaran Merangs - 37 15. Pengsuh Marym - 1326. Para Pejaln Tiba di al-Quds - 61 16. Ibi Sraj, Sng Penklk Snga- 1377. Hnna, Istri Imrn - 65 17. Penerman yng Bak - 1518. Pereun di al-Quds - 78 18. Ksah irab - 154 vi19. Mlht Malakt- 184 29. Suara eiga - 25220. Lngt pn Bergerk- 201 30. Para Ali stronoi pn Dim - 25621. nugerah uar Bisa - 208 31. Marym Bernaar - Malakt Trn 32. Marym embai ke al-Quds- 268kpada Marym - 21523. Nabiyulah Yahya Lair - 227 33. Ksah Tiga Bayi yng Mmpu Bicara - 27224. Sift-Sift Yahya  - 229 34. Sift-Sift Isa  - 27625. Btng Bereor di Btleem - 232 35. ijrah ke Msr - 28626. Marym di Btleem- 237 36. eidupn di Msr- 30427. Caan Cta Sbang 37. Ksh Sayng Marym - 317Pohon urma - 244 38. Dalm Pengsngn - 32728. ithn Marym - 249vii39. Nabi Yahya  Waft - 332 48. Marym dn Buah Tn - 42340. eidupn di Nsara- 348 49. Pendkng Sejti Sng Putra- 42741. Bad-i Saba Berembs di Nsara - 350 50. Marym dn Seeor Kijng - 43442. Isa  Sng Nabi - 357 51. Marym dn Kam isin- 43743. Sahabt-Sahabt Marym- 366 52. Para Hawari dn Jmun al-Maidah- Ksah Seorng Ali Bahsa 53. Berpsah Slmnya - 449dengn Seorng Tkng Kapal- 387 Peutup - 46245. Marym dn Para WnaAli Srga - 39446. Menyberngi Dnau Jailah - 41247. Di Pnggr Sbuah olm - 418 Srah “Apa jadinya seorang yang mencintaimu?” Jariyah “Katakan kepadanya, Janganlah pernah merasa takut!’” Syah Sungguh betapa sulit menguak isi hati. Seperti menimbaair di sumur yang dalam, harus penuh kesabaran dan reladengan seberapa yang didapat. Padahal, tidak ada satu sumurpun dapat ditimba air kata-katanya yang pantas untuk SangKekasih. Sumur begitu pemalu, begitu menutup diri. Ialebih suka merahasiakan dirinya daripada seperti itulah adatnya. Sementara itu, air tak mungkin sama saat beradadalam wujud awan dengan saat berada di dalam lubuk hatisumur. Setiap air akan berasa seperti tanah tempat sumurmenyimpannya. Sama persis keadaannya dengan hatimu. Tak mungkinhatimu mampu menuturkan Sang Kekasih dengan hal ini sudah sejak awal engkau ketahui. Tentu saja, engkau tidak tahu bagaimana akan bertuturkata tentang wanita cantik itu, tentang Sang Kekasih, tentangseseorang yang bernama Maryam. dia adalah Maryam milikmu. Bukan Maryam yangturun dari langit... Namun, engkau dapat menerka-nerka sosok Maryamdengan mengusapkan tanganmu pada hamparan jalan yangsepanjang abad dilewati penuh dengan linangan air mata,dengan meraba pada hamparan bebatuan besar dan kecilyang menutupinya, dengan menyapu debu-debu jalanan yangmeninggalkan jejak tentang dirinya. Kemudian, engkau melewati jalan yang penuh membawakenangan itu dengan ribuan kali pertobatan. Oh tidak, tidakmungkin engkau akan melewatinya.... Tidak mungkin engkau dapat melewatinya... Tidak mungkin kekuatanmu cukup untukmelakukannya... Cakrawala pengetahuan tentang “hakikat sang kekasih”hanyalah yang berharga bagimu, meski tidak mungkintergapai sebagaimana tingginya langit, meski begitu membuaibagaikan dimabuk cinta yang tidak diketahui. Tidak pernahpula terukur ambang batasnya. Jika semua tentang dirinya menjadikan rasa ingin tahuyang begitu mengguncang, seluruh yang bercerita tentangdirinya telah membuat jari-jemari tanganmu sebuah hakikat, cerita penuh kebohongan dangosip yang paling tidak mungkin sekali pun telah memberimukekuatan untuk selalu mengejarnya. Dan aku pun berlari. Aku kumpulkan. Aku perhatikan. Dan aku menjadi urung kemudian. Sampai aku bangkit, untuk mengumpulkan kembali. kumpulkan. Dan aku kumpulkan. Aku siapkan. Namun kemudian, terlihat bahwa setiap pigura yangmembingkai kenangan tentang dirinya terasa seperti sebuahketidakadilan, aib, dan rasa tidak tahu diri. Aku pun terdiam. Hingga aku kembali tersentak dengan perasaan tidaksabar. Tidak sabar untuk segera menggoreskan tinta tentangsesosok Wanita Cantik itu. Hingga remuk diriku; tercerai berai. Kerdil diriku. Kerdil hingga mendekati lenyap akibat luapan cinta. Inilahyang untuk sekali lagi aku ketahui. Sampai ia pun mengajarikubertatakrama seperti seorang malang yang ditempa untukpengabdian. Mereka adalah orang-orang sebelum bertanya kepada Syah, “Apa jadinya seorang yangmencintaimu?” Mereka itu para pembantu dan budak Maryamyang menuliskan namanya pada bebatuan pegunungandemi mendapati sesosok dirinya pada setiap apa saja yangdilihatnya. Sementara itu, sebagian yang lain melukiskan sosokdirinya agar tidak pernah lupa dan meninggalkannya. Yanglain lagi mencoba melupakan guncangan cintanya denganmenuliskannya ke dalam bait-bait puisi, seperti seorang yangminum sampai mabuk tanpa bisa berbuat apa-apa. Setiap disebut nama “Maryam”, semua orang yangmencintainya, kita menyebutnya para penggilanya, tetapmeniti jalan sekehendak mereka sendiri. Sementara itu, diriku adalah orang baru. Karena itu, aku lewati jalan mereka semua satu per satutanpa pernah mengenal jemu. Aku kunjungi setiap mimbar kitab-kitab lama, cerita-cerita terdahulu, kisah-kisah penuh hikmah, Perjanjian Lama dan Baru, Mazmur,Alquran al-Karim, kasidah gubahan Daud , Suhuf Idris yang hilang berserakan, kitab-kitab tabir mimpi, zodiak,peta bintang, rintihan-rintihan para unta yang dengan sabarmenarik pasungnya, kisah yang terucap dari penuturan buahzaitun tentang dirinya, cerita ikona, lukisan-lukisan, sertagoresan-goresan karya kaligrai. Aku dengarkan semuanyatanpa sedikit pun menyela untuk berbicara. Kesemuanya adalah para pengembara, ibarat dua matabuta yang jatuh ke dalam cinta buta. Sampai selang beberapa lama aku dapati diriku seolahbersimpuh di depan tungku perapian mendengarkanpenuturan cerita sepasang suami istri. Siapakah diriku selain sebagai seorang tukang gosip? Pudar wajahku dalam bayangan cermin di pasar perhiasansaat mencari seorang Maryam… Ya… cinta ini telah membuatku tidak tahu malu. Hingga selang beberapa lama kemudian, saat aku lantunkansalawat ke haribaan baginda Muhammad , kudapati dirikusadarkan diri. Sungguh, ia telah menjadi pundak dan juga kainkafan bagiku. Telah menjadi satu kesatuan dalam kelahirandan juga kematian dalam pengembaraanku. Tak lebih daripekerjaan “merangkai” mengenang nama baginda Muhammadyang mulia. Tak lagi diriku memiliki cara yang lain sehingga akubergenggam erat kepadanya Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa ala aliSayyidina Muhammad… -o0o- Cahaya eing Marym Ia adalah kening sang kekasih, tertuang dalam bait setiappuisi, dalam goresan setiap lukisan, dalam setiap relief, daningatan... Sedemikianlah ia dimuliakan. Bagi orang Timur, gambar adalah pantangan. Takut kalaumenyinggung, memenjarakan kenangan dari sang kekasih.“Mencintai tanpa menyentuh,” demikian kata orang untukdirinya. Wajahnya telah mengajari kita melukis. Gambar sangkekasih bukanlah lukisan. Ia adalah “riwayat” bagi kita, kisahmulia. Karena itulah nama kita hanya sebatas disebut sebagai“ahli riwayat” dalam pembicaraan tentang cinta. Dan menurut riwayat pula, dibaca dengan mad panjang,saat menyinggung tentang keningnya. Bacaan panjang. Demikianlah kening Maryam. Ia harus seperti jauh dan terang kilau pancaran cahayayang tak disentuh, tak pernah disentuh tangan. Ia adalah sebuah rumah yang bersih bagaikan pun tak pernah terbang dari atasnya. Sebuahrumah yang terbuka luas untuk setiap anak yatim. Sebuahtitik koordinat ukhrawi yang menjulang tinggi ke langit. Letakpersimpangan jalan samawi. Demikianlah “terang keningnya”. adalah “tempat” yang telah dipilih untuk menuangkankalimat Allah . Ia adalah peluang. Kemungkinan. Dan Maryam adalah seorang terpilih. Terbebas dirinya dari semua ikatan duniawi, bersihsuci, zakiyyah, perawan. Ia adalah sosok sempurna, sampaikehidupan pun tak pernah bisa meninggalkan bercakkepadanya. Itu karena ia adalah orang yang rasa gentar pun sama sekali tak pernah bisamenyentuh, mendekatinya. Sempurna tanpa cacat. Licin, tanpa kotoran barang sebercak. Dan Maryam adalah seorang yang telah diberi isyarat. Yang telah dilukis dengan tinta Allah . Ia adalah sebuah garis, yang mempertemukan antara bumidan angkasa. Sebuah titik, tempat pertemuan antara malaikat danmanusia. Dan Maryam menunggu dengan penuh kelembutan,selembut kain sutra. Dirinya adalah batu keseimbangan. Batu keharmonisan. Batu tirai. Sebuah tirai yang melarang dua sisi bersentuhan, bagaigaris arus yang memisahkan dua lautan. Dan ia adalah barzakh. Yang menjaga rahasia; yang tidak berbagi, tidak pulabercerita. Ia mengandung kalimat. Berpuasa untuk bicara. Terkuncimulutnya, terjaga dari membuka rahasia. Berbuka puasanyaadalah bicara sang anak. Saat putra Maryam berbicara, saatitulah seisi alam ikut berbuka puasa. Terbuka pula hati yang dari hakikat sehingga seisi alam penuh dengan kilaucahaya. Ketika putra Maryam berbicara, saat itulah Maryammenjadi penuh cahaya seperti lilin yang menyala terang dimalam-malam mulia dari atas menara masjid. Ia diam, sementara sang putra bicara. Semakin terusbicara, semakin terang lilinnya berpijar. Nyala lilin itulah yang menjadikan terang keningMaryam. Adalah nyala obor. Obor Maryam, yang memancar cahayanya dalam setiaptarikan napas Jibril. Napas yang membuat setiap benda yangdisentuhnya bernyawa; menjadi hamparan taman kembali jasad yang telah mati, sembuhkembali seorang yang sakit, terbang kembali seekor burungatas izin Allah, atas takdir yang telah digariskan-Nya. Takdirpula yang telah menjadikan kening Maryam sebagai sanalah pagi bermula. Di sana pula mentari menampakkanwajahnya dan kembali lagi menyelinap setiap datang waktumalam. Kening Maryam juga sebuah peta terang yangmengantarkan setiap pejalan ke tempat tujuan, yang memberiisyarat, tanda, lambaian tangan, melawat, mendoa. Adalah bahtera waktu yang tiada henti terus berlayar darizaman yang kekal menembus hari esok yang tidak diketahuiujungnya, menapaki jalan yang terang oleh pancaran cahayalampu lautan, yang tak lain adalah terang kening Maryam. Ya, Maryam adalah terang lampu lautan. Cahaya kening Maryam seterang sorotan lampu di ketinggian menara yang tak pernah tersentuh, tak sekalipun dipadamkan oleh tangan seorang. Sebab,pancaran cahayanya adalah inayah dari Allah . Cahaya kening Maryam yang menerangkan titah takdiryang begitu pedih bagi seorang ibu. “Yaa laytani....”, demikian jerit pedihnya. “Jika aku mati, tanpa mengalami semua kejadian yangditimpakan kepadaku ini. Jika aku mati, dilupakan, tanpaseorang pun akan tahu...” Cahaya kening Maryam. Beban terberat yang pernah ada di dunia. Dalam beratnya ujian, tinggi menjulang Gunung Araratpun hanya menempel kepadanya. Demikian pula itulah punggung Maryam merunduk. Dalam cahaya keningnya, ia diitnah dengan dakwaanyang paling memalukan. Terguncang dirinya bagaikan perahutongkang dalam lautan berbadai dakwaan, “Mungkinkahsaudara putri seorang Harun berbuat senista ini?” Sebatang jarum dalam hamparan samudra. Terhempassampai ke dasar yang paling dalam. Apalah daya ia sebatangkara. Adalah Maryam dalam tempat ketika matematika danangka keluar darinya. Setiap hitungan lebih pada Maryam. Terempas ia sebagai seorang wanita, dalam kenihilanyang tak pernah bisa terhitung oleh matematika. Diitnah. Dalam dasar sumur yang terdalam. Ia didakwa dengan tuduhan yang paling pedih bagiseorang wanita. Allah telah menuliskan surat pengampunanbaginya pada seluruh alam! Maryam adalah satu senjata. Dan memang, dirinya adalah seorang yatim, sebatangkara. Lebih dari itu... ia juga menjadi ibu dan juga ayah bagiputranya. Seorang wanita yang garis takdirnya begitu beratmelebihi berat massa besi. Seorang manusia. Seorang wanita. Tak ada seorang pun yang mengusap-usap punggungnya,tak ada seorang pun yang membelai rambutnya. Yatim dia,dan juga sebatang kara... Ah! Tapi janganlah engkau bersedih karena rezeki datangdari Allah. Termasuk rezeki seorang yatim seperti Allah ada, apalah artinya berpedih hati! Tak ada kerisauan adalah saat kita tak menghadirkan Allah .Kita sendiri dari Allah dalam keramaian keinginan, harapan,harta-benda, pangkat, dan jabatan... Dan Maryam adalah muqarrib. Hamba yang dekat denganTuhannya. Seorang yang menggenggam kalimat Allah di dalamkepalan tangannya. Yang dengan itu, tak ada satu pintu punyang tak akan terbuka. Ya, terbuka semua pintu bagi seorangsahabat akrab seperti dirinya. Dan terang kening Maryam adalah tanpa pintu. Seorang hamba! Cahaya keningnya adalah setia pada perintah “Uqnut yaMaryam!” Bersujud hormatlah setiap malaikat untuk menciumterang keningnya. Terang kening yang sama sekali tidak memberi muka selain pada keridaan Allah , cahayayang menjadi tanda nur hidayah-Nya. Maryam adalah seorang yang telah tergadai. Bagaikankening hewan kurban yang diberi isyarat warna. DemikianlahMaryam, ia telah diberi tanda. Ya, Maryam adalah seorang yang telah dirias denganriasan sujud pada keningnya dan air pada tangannya. Sebagaimana mawar juga telah merias lembut bibirnya;dengan stempel bacaan doa, dengan segel lantunan zikir. Adalah sifat pemalu dalam cahaya kening karena malu. Seorang yang malu pada dirinya. Maluuntuk menjadi dirinya. Jika saja harus meminta demi dirinya,ia pun akan lebih memilih menjadi tanah yang tak Maryam. Ia adalah seorang yang terpendam, tertutup, terlarang. Ia adalah Maryam. Seorang ahli rida. Melarang diri dariterlihat. Tertutup, terlindungi dengan selimut. Begitulah, diaadalah seorang yang maksum atau terjaga. Tak pernah seorang pun mampu memintal selimutpelindungnya karena jilbabnya adalah tangga Allah yang telah menjadikan jilbabnya sebagai tanggamihrab. Adalah putih lembut kening Maryam, seputih, sehalal airsusu ibu. Terang kening Maryam, yang mengangkat ke derajatyang tinggi, yang khusus bagi hamba yang selalu memuji... Terang kening Maryam, yang telah distempel dengankalimat tauhid. -o0o- yng Slalu Terbka Tangan Maryamlah yang menuntun, mendekap,melindungi, menopang, dan meninggikan putranya. Dalamsejarah, tak ada seorang pelukis yang menggoreskan kuasnyadan menggambarkan Maryam dengan tangan tertutup atauterkepal. Seorang Maryam selalu digambarkan dengan tanganterbuka. “Tangan terbuka” adalah perjuangannya dalam kerelaanmenerima takdir yang telah digariskan kepadanya. Tanganterbuka yang digubah dalam syair dan puisi sebagai tanganpenyabar dan penyayang. Sebagai tangan yang selalu perjuangan memikul ujian menghadapi berbagaikesulitan, memegang amanah dari Allah  untuk masa depandengan kekuatan yang terhimpun dari doa. Bukanlah tangan Maryam, tangan yang berkepal,tertelungkup, dan lemah. Bukankah tangannya sebagai “perantara” yangmenggenggam “Kalam Allah”? Sebagai penggenggam yangmenggemakan Kalam Allah. Ia adalah kotak kalimat. Gelas. Lahan. Dan pembungkus kalimat... Dialah seorang ibu yang putranya adalah “kalimat” Allah. Sementara itu, putranya sendiri adalah kebaikan yangtelah dihibahkan untuk umat sekalian alam. Bukankah pada dasarnya setiap bayi yang lahir adalahkarunia dari Allah ? Sementara itu, ibundanya adalah orangyang menerangkan, menuntun ke dalam kehidupan duniaini, mendekap, serta menyelimuti untuk melindunginya darisegala marabahaya. Maryam adalah buaian bagi Isa , selimut, pakaian bagiputranya. Tegak Maryam, menuntun sang putra di atas dirinya ibarat tanah itu sendiri. Laksana seorangrendah hati yang menumbuhkan “benihnya” di dalam jiwanyasendiri. Terbuka tangan Maryam, menengadah ke langit. Tangan yang menggenggam alam langit dan bumi iniseperti kontur di antara Pencipta dengan ciptaan-Nya. Seolah-olah Rabb telah menghamparkan seisi langit dan bumi kepadaseorang ibu yang mendekap erat anaknya. Dan seorang ibu adalah faktor penting yang merekatkanmasa lalu, masa yang akan datang, dan kehidupan di masasekarang demi hormat atas terbukanya kedua tangan untukberdoa. Perekat, yang menurunkan langit mendekati bumi, yangmeninggikan bumi sejengkal dari langit. Dan Maryam adalah perantara. perantara, yang menjadi poros pusat sebagai acuandesain segala ciptaan di antara langit dan bumi. “Adalah tangan para ibu”. Tangan yang menggenggam penuh dengan tangan seorang Maryam, yang menggenggam“kalam”, yang mendekapnya, menjaga, dan menjadi tempatpertama berlindungnya. Allah  telah mengamanahkan “Kalam-Nya” kepadadekapan ibu dan kepada tangan-tangan yang relaterhadapnya. Dan Maryam, seorang ibu yang tangannya tiada henti berkerja. Meski lemah secara itrah untuk selalu bekerja, bergerak,dan melakukan sesuatu, dalam kaitannya dengan tugasmelindungi, tangan Maryam ibarat tangan petani yang sabarmerawat tanamannya. Perjuangannya untuk menumbuhkanbenihnya adalah jerih payah tangannya, cucuran keringatnyasendiri. Dan Maryam memikul kedua tugasnya, sebagai tanah danjuga sebagai petanai yang merawat tanah itu. Mungkin, karena hal inilah menjadi ibu adalah mulianamun susah. Dalam waktu yang bersamaan menjadi perawat,baik tanah maupun benihnya, melekat di dalam hal yang kontradiktif dalam ruhnya. ibu yang rendah hati, serendah tanah yangmemandang ke langit, menantikan turunnya curahan airhujan, seraya membuka dirinya di bawah hamparan menjadi ibu yang begitu gigih, meradang,menerjang, berjuang demi menghadiahkan apa yangdianugerahkan kepadanya dari langit. Ibu adalah seorang yang merobek jiwanya untukmengeluarkan Kalimat yang ada di dalam lubuk hatinya. Seorang pemikul amanah. Seorang yang menerima untuk diberikan. Yang satu dari dalam jiwanya dan yang satunya lagi daridalam sikapnya. Dua tindakan yang membubung seperti madjazir dalam kehidupan seorang ibu. Ia terima dengan penuhperasaan malu dan tertunduk apa yang telah ditiupkan malaikatsebagai takdir dari Ilahi. Putranya pun akan mengeluarkan“perkataan” dari dalam lubuk jiwanya yang akan membuathamparan dunia berubah. Maryam adalah satu namun dua. Sebagaimana dua sisidalam satu neraca. Maryam begitu piawai. Kehidupan sebagai seorang ibu telah menjadikan dirinya piawai, ahli. Mampu menjadikan malaikat kehidupannya sebagai manusia. Karena itulah ibu merupakan satu kesatuan dengananaknya. Tiada arti keberadaan dunia ini seisinya tanpakeberadaan sang anak sehingga dirinya sangat “khawatir” hal ini. Gesit, dan bertangan terbuka. Menyatudengan sang anak di sepanjang waktu. Demikianlah, Maryamtak pernah berlepas tangan dari Isa, putranya. Tak mungkin ia berlepas tangan. Dan oleh karena itulah putranya juga akan selalu diingatbersama dengan ibundanya. Berkat itu pula nama kenabianIsa adalah “Isa Ibnu Maryam”. Demikianlah tangan Maryamyang selalu terbuka, selalu menopang punggung putranya.... -o0o- Sng Dkn Bayi “Nah, orang inilah!” kata Wali Pilatus dengan suara lantangsembari tertawa. Ia memandang ke bawah dari atas balkon marmeristananya. Satu tangannya menunjuk ke arah seorangpemuda terlilit rantai yang disangka Isa. Satu tangannya lagiberganti memukul ke arah udara. Tatapannya penuh dengankemarahan. Urat-urat nadi di lehernya terlihat keluar. Dalam pandangannya, patung Raja dan Tuhan Caesar disebelah selatan tempat peribadatan istana yang didatangkandari Roma dengan menghabiskan dana besar seolah-olahbangga kepadanya sebagai seorang Pontius Pilatus, banggamendengarkan seorang Wali al-Quds yang sedang bicara. Untuk sekali lagi, sang wali menatap ke arah parapenduduk al-Quds yang berduyun-duyun memadati halamanistana dengan tatapan yang begitu sinis setengah kasihan. Jubahnya yang memanjang sampai ke lantai memaksadirinya berjalan pelan dibantu beberapa orang. Ia punberhenti di tataran pertama sebuah tangga di samping semua orang tertuju kepada seorang pemuda. orang inilah!” kata Pilatus. “Inilah orang yangmengajak kalian berbuat makar dengan berpura-pura rendahhati, berpura-pura menjadi guru rohani. Inilah sosok yangmenyebarkan itnah dan kebencian. Dia ingin memecah belah,menentang Roma dan Tuhan Caesar. Inilah orangnya!!!” Napas setiap orang seolah-olah terhenti, terpaku menatapke arah balkon. Pada saat itulah anak muda yang tubuhnya dililit rantaiitu dengan penuh susah payah dibawa ke hadapannya. Padapunggung anak muda itu melekat sehelai kain penutup yangterbuat dari bulu domba yang sering dipakai para pemudayang telah menganut agama baru. Cukup tinggi tubuh anakmuda itu. Rambutnya memanjang sampai ke yang putih tertunduk, dengan kedua tangan dankakinya terlilit rantai. Saat itulah ia dipertontonkan kepadasemua penduduk. “Orang inilah,” kata Pilatus, “yang sudah gila danmenyatakan dirinya mampu menghidupkan kembali yangsudah mati. Seorang juru sihir dan juga mata-mata yangmengembuskan kebencian kepada Roma!” Pilatus kemudian bicara dengan suara lirih, berbisik, seolahmenirukan gaya bicara para pembantu penjilatnya, “Sekarangmari kita tanya kepada orang ini! Siapakah ayahmu, wahai ruhsuci? Bisakah kamu menyebutkan nama ayahmu sendiri?” Sama sekali tidak terdegar jawaban apa-apa. “Heiii! Kami tidak bisa mendengar kamu bicara. Ceritakantentang siapa ayahmu agar semua warga Yahuda tahu, haianak yatim malang! Bicaralah!” Anak muda itu hanya terdiam tanpa menjawab barangsepatah kata. Ia terus menahan rasa sakit oleh luka yang darah sampai telinganya. Ia tak mampu untukberdiri. “Inilah orang yang kalian ikuti kata-katanya untuk berbuatmakar. Ketahuilah, sesungguhnya dia tanpa ayah, wahaiwarga Yahuda! Ibunya yang bernama Maryam juga seorangwanita pendosa yang telah diusir dari tempat ibadah yang dikatakan para tetua kalian. Oh tidak, tidak....Aku bersumpah demi Caesar, aku tidak berucap demikiantentang Maryam. Semua ini adalah apa yang telah diputuskanpada Maryam dan putranya di hadapan hukum kalian wahaibangsa Yahuda!” “Inilah orangnya!” “Coba perhatikan! Orang ini pun tidak menjawab apa yangaku katakan. Jangan sampai kalian ikut tertipu olehnya. Dirinyasendiri pun tidak tahu siapa ayahnya. Dia juga tidak tahu darahketurunan siapa yang mengalir dalam urat nadinya. Karenadia hanya diam saja tidak bisa menjelaskan siapa ayahnya,kita pun akan mendapatkan jawabannya dengan bertanyakepada darah yang sebentar lagi akan mengucur dari uratnadinya!” kata Pilatus penuh kemarahan, sampai-sampai diajuga memukul keras seorang pelayan minuman yang berdiridi sampingnya saat sedang membawa nampan. Pelayan itupun tersungkur sehingga gelas-gelas dan nampan yang dibawajatuh berserakan. Minuman keras berwarna merah darahpun tumpah membasahi tangga. Pilatus menunduk sambilmenyapu minuman keras yang membasahi tangga itu dengantangannya. Jarinya yang basah dikecap seakan-akan sedangmeminum darah sosok yang disebut Isa itu dengan berlagakseperti seekor binatang buas. begitu, kita akan tanyakan siapa ayahnya kepadadarah yang akan mengalir dari urat nadinya! Wahai HakimKaldion, segera bacakan hukumannya!” Setelah dua kali berpura-pura batuk, Kaldion mulaimembaca beberapa bait surat keputusan dalam bahasa Latinyang diambil dari dalam gulungan kotak emas. Dalam suratitu, Augustus memulai tulisannya dengan sanjungan danpernyataan setia kepada Caesaria yang memiliki kekuasaanmembawahi Mesir, Antakia, al-Quds, dan seluruh wilayahSyam. Penyebutan kesetiaannya kepada Roma ini menunjukkansebuah tantangan kepada bangsa Yahuda. Setelah kekuasaan Batlamyos atau orang-orang Yunani,semua daerah tersebut digabungkan ke dalam wilayah pasti, untuk mengatur negara bagian Timur yangsangat jauh dari pemerintahan pusat, Roma akan mengangkatseorang wali yang setia atau akan menunjuk seorang dariRoma. Sudah pasti pula kalau permasalahan paling pelik didaerah kekuasaan Timur ini adalah beragam keyakinan yangtidak sejalan dengan keyakinan Roma. Meski sebenarnya Roma tidak pernah menerapkanperlawanan terhadap keyakinan lokal setiap daerah yangberhasil mereka kuasai, dengan mapannya kekuasanpolitik dan ekonomi, lambat laun keragaman keyakinanlokal tersebut dipaksa untuk tunduk. Hal ini juga terjadipada keyakinan Tauradi yang mendominasi kebanyakanrakyat Yahuda. Awalnya, pemerintah Roma tidak langsungmemeranginya, bahkan terhadap para pendeta pun pemukaagama Roma berpura-pura menjalin hubungan yang baiksampai memberikan status politik tersendiri. pendeta Baitul Maqdis juga sebisa mungkin menjalinhubungan baik dengan Wali Roma, Pilatus. Namun, padamasa-masa terakhir ini, keadaan mereka sebagai para pendetaberada dalam kondisi yang sangat susah karena wilayah al-Quds dilanda masalah kekuarangan air. Bersamaan dengandiberlakukannya pajak yang sangat berat untuk membuatsaluran air ke dalam kota, warga mulai tidak simpati kepadapara pendeta. Terlebih dengan adanya patung besar Caesardari Roma yang didirikan di Meydan yang terletak disebelah Mabed, tempat ibadah mereka, yang telah menyulutkemarahan bangsa Yahuda. Bangsa Yahuda telah siap melakukan tempur, ibaratgranat yang telah dibuka pelatuknya. Masyarakat telah ramaimenyerukan bahwa “Membayar pajak dan menjadikan kaisaryang fana sebagai Tuhan adalah hal yang tidak benar.” Sebenarnya, pembicaraan yang santer terdengar dari mulutke mulut ini sudah sangat mengganggu pejabat Roma dan jugapendeta di Baitul Maqdis. Lebih-lebih, dengan kedatanganseorang bernama Isa ibnu Maryam, hal itu semakin menyulutkeadaan yang sudah memanas. Seorang pemuda yang menamakan dirinya “mualim” atauguru ini telah menyatakan dirinya sebagai utusan Allah. “Kita semua adalah bersaudara,” katanya. Ia bercerita tentang Ibrahim, Musa. Ia mengajak semuapenduduk untuk hanya taat kepada Allah yang Esa. Karenaajakannya inilah ia dituduh telah menghasut dan membuatpropaganda kepada masyarakat untuk berbuat makar.“Sungguh, apa yang telah dilakukan pemuda ini adalah sebuahkesalahan besar di sepanjang sejarah kehidupan Roma,” katamereka. itu pun harus dihukum. Karena telah berbuat makar kepada pemerintah, dia harusdisalib. Tiga hari sudah dari persidangan yang menghasilkankeputusan bahwa pemuda itu akan dipancang di tiang salibdengan kedua tangan dan kakinya dipaku. Setelah itu, sekujurtubuhnya akan diremukkan sampai mati. Saat Hakim Kaldion mengumumkan bahwa sidangdan vonis hukuman akan dilakukan tiga hari lagi, wargayang berkumpul menjadi ribut. Sekerumunan pemudayang mengenakan baju yang sama dengan terdakwa salingberbisik. Sementara itu, seorang wanita tua bernama Merzangussaat itu sedang menunduk dan membungkukkan badannyamelihat ke bawah dari ketinggian balkon. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat ke arah Kaldion dan sesekali melihatke arah si pemuda seraya dengan khusyuk memanjatkan itulah Wali Pilatus memerhatikan wanita tua itu dankemudian membisikkan sesuatu kepada para lama kemudian, dua penjaga kerajaan menuruni tanggake arah balkon untuk mendatanginya. “Hai Nenek! Nyonya Prokula memanggilmu!” kata merekaseraya menggandeng kedua lengan tangannya untuk dibawamenuju pintu istana bagian barat. -o0o- Lama sudah Nyonya Prokula menunggu Merzangus dalamtangisan penuh linangan air mata sehingga kedua matanyamembengkak. Segala cara sudah dilakukan, namun tetap tidakbisa meyakinkan Wali Pilatus yang menjadi suaminya. Baru kali Nyonya Prokula pernah bertemu dengan Isa putraMaryam yang disebut-sebut masyarakat sebagai seorangpembimbing. Pertama kali ia melihatnya saat mengobatiorang buta. Yang kedua ia mendapati Isa putra Maryam saatberdakwah kepada masyarakat untuk tidak menyembah tuhanselain Tuhan Yang Maha Esa. Sebenarnya, seseorang yang telah membuat hati Prokula tersentuh hingga luluh adalah ibunda Isa, yaitu Maryam. “Bunda Maryam,” demikianlah masyarakat menyebutnya. Tepatnya, beberapa tahun lalu, setelah dengan penuhsusah payah meyakinkan suaminya, ia akhirnya dapatmengunjungi Maryam. Ia meminta doa kepada Maryamsehingga putrinya yang bernama Dafne sembuh dari sakitparah. Hanya saja, beberapa waktu lalu Dafne jatuh dari punggungnya patah dan kemudian meninggal duniapada usia yang masih sangat muda. Remuklah hati malam ia menangis dan mengurung diri di dalam kamartanpa mau keluar. Ia juga sama sekali tidak mau bertemudengan siapa pun. Sampai-sampai Pilatus berkata, “Jika terusbegini, ia akan jadi gila.” Semenjak putrinya yang bernama Dafne sembuh, hampirdelapan tahun lamanya Nyonya Prokula taat pada ajaranMaryam. Sesekali ia mengunjungi rumahnya. Merzangussendiri adalah wanita tua yang menjadi teman dekat sekaligustempat berbagi rahasia Ibunda Maryam. Maryam sama sekali tidak pernah menginjakkankakinya ke istana. Jika berkeinginan untuk menyampaikanberita, ia akan mengutus Merzangus untuk Maryam juga menganjurkan Merzangus seseringmungkin mengunjungi istana demi memberikan dukungankepada Prokula yang menjadi satu-satunya orang di dalamistana yang beriman. Pilatus, sang suami, sangat keras kepala. Segala cara akania lakukan demi mendapatkan simpati penguasa Prokula merasa sendiri dalam kemewahan parapejabat negara yang begelimangan kenikmatan menjadi dusta baginya dan kehampaanlah yang iarasakan. Sementara itu, Pilatus mendasarkan semua penderitaanyang dialami istrinya lantaran putrinya yang bernama Dafnemeninggal dengan begitu mendadak. Karena itu pula, Pilatusmembiarkan seorang dukun bayi dari al-Quds bernamaMerzangus keluar-masuk istana dengan bebas. Meski tahu Merzangus dekat dengan Maryam, Pilatustetap menahan diri karena dialah sosok satu-satunya yang bisamenjadi pelipur lara bagi istrinya. Pilatus pun membiarkandirinya bersama istrinya. Selain itu, ia sebenarnya juga telahmenyebar mata-mata di seluruh penjuru al-Quds. Karenaseorang yang menjadi pelindung bagi rakyat yang menderita,yaitu Isa, telah berhasil ditangkap olehnya, biarlah Merzangussementara menenangkan hati istrinya. Di saat Pilatus sedang memikirkan semua ini, Merzangustelah berada di dalam kamar Prokula. Meski Prokula telah berupaya menerangkan mimpi yangdialaminya kepada sang suami, dan meski telah berupaya bahwa pemuda yang ditangkapnya hanyadengan alasan yang tidak masuk akal sebenarnya adalahutusan dan kekasih Tuhan, tetap saja ia keras kepala. Bahkan,Pilatus semakin benci, marah, serta menganggap istrinya cara penyembuhan pun sudah diusahakan. Namun,para tabib yang dipanggilnya tidak kunjung menjadi perantarabagi kesembuhan istrinya. Pilatus pun semakin marah danakan memenjarakan atau mengasingkan para tabib yangtidak bisa mengobati istrinya. Hampir tidak tersisa sudah carayang ditempuhnya untuk mengobati istrinya. Segala macamobat tumbuh-tumbuhan, sihir, dan tabib tidak mampumenyembuhkan istrinya. Hampir selama dua belas bulan terakhir ini Prokula bermimpi hal yang sama ada bulan yang tiba-tibaturun dari langit ke dalam istana, menjadikan ranjangsang suami bersimbah darah dan para malaikat yang wajahnya tidak dikenal melaknat sang suami. Sejak saat itulah Prokula terus mengurung diri tanpamau makan dan minum. Tubuhnya semakin kurus dan tidakbertenaga. Ia terus menyendiri tanpa mau bertemu selaindengan Merzangus. -o0o- Dengan penuh kesombongan, Pilatus menyapu pandanganke arah kerumunan rakyatnya yang memadati alun-alun Ia merasa semakin bangga mendengar kerumunanrakyatnya yang serempak mengelu-elukan namanya. Ah,seharusnya istrinya saat itu berada di sampingnya, bersamamerasakan kebanggaan itu. Ah Prokula! Mengapa istrinyabisa menjadi sedemikian gila sampai mau meninggalkannyademi mengikuti seseorang yang ayahnya pun tidak jelas danmengaku sebagai nabi.... -o0o- “Bagaimana keadaanmu, wahai anakku?” tanya Merzangussaat memasuki pintu. Seharusnya Prokula tidak mendengarpanggilan itu karena wajahnya tertelungkup di saat itu juga ia bangkit seraya berlari menyambutkedatangan Merzangus. Ia bersimpuh di depan kakinya. “Dia akan membunuhnya, dia akan tahu, pasti dia akan membunuh Isa, nabi kita. Ah,Ibunda! Seharusnya kita melindunginya. Seharusnya kitamenyembunyikannya secepatnya,” kata Prokula sembarimenangis sejadi-jadinya. Ibunda Merzangus juga ikut menangis. “Janganlah engkaumenangis anakku. Kita tidak boleh menangis. Pasti Tuhantelah menggariskan takdirnya untuk Isa putra Maryam. “Namun, sekarang orang-orang telah mendengar pengumuman semua pembesar kerajaandipanggil untuk menyaksikan hukumannya.” “Apakah kamu benar-benar telah menyaksikan siapa yangtelah ditangkap, anakku? Apakah benar ia adalah Nabi kita?Aku mengenal baik dirinya sejak di hari kelahirannya. Akujuga mengenal dekat ibundanya sejak sang putra dilahirkan. benar, pemuda yang ditangkap itu sangat miripdengan Nabi kita. Namun, bersabarlah sampai terkuakhakikatnya. Kita bicarakan mengenai hal ini nanti. Sekarang,kita harus segera mencari cara untuk bisa keluar istana. Waktukita hanya sebentar. Ibunda Maryam telah menunggumu. Ayo,segera bersiap-siap. Kita tidak lagi dapat tinggal lebih lama disini.” “Tapi, bagaimana mungkin aku kuat berjalan. Tubuhkusangat lemah.” “Aku akan membantumu anakku. Ayo, biar segera akuambilkan pakaianmu sembari bercerita kepadamu. Pernahkahkamu mendengar cerita hidup seorang dari Gendora bernamaMerzangus? Ah... banyak sekali hal yang sudah aku lihat, yangsudah aku alami...” Merzangus terus bercerita sambil dengan cepatmempersiapkan pakaian dan barang-barang yang bercerita mengenai masa lalunya dari satu topik ke topikyang lain yang berlalu bersama masa lalu Ibunda Maryam... Seolah-olah, apa yang diceritakan Merzangus adalahsebuah catatan harian. Sebuah catatan harian yang dia tulismengenai Ibunda Maryam... -o0o- Ksah Merangs Di antara makhluk di bawah bintang-bintang di langit,siapakah yang jauh lebih dekat kepada Allah daripada seorangyatim... Merzangus hidup sebatang kara. Tidak ada yang dia milikidi dunia ini selain langit yang memayungi dan hamparan bumiyang menjadi penyangga tempat berbaringnya. Tidak ada lagi seorang yang dapat ia panggil sebagai“saudara”, tidak pula seorang yang akan membantu danmelindunginya. Padahal, usia Merzangus baru delapan tahun. Ayah, ibu,keluarga, dan sanak saudaranya tewas dibantai para penyamunyang menjarah kampung halamannya. Untunglah, saat ituterjadi, Merzangus sedang diminta menimba air di sebuahsumur di kampung sebelah bersama teman-teman enam belas anak dan mereka menjadi yatim saat kembalike kampung tempat tinggalnya. Tak beberapa lama, datanglah sekelompok penunggangkuda dari Gendora. Merekalah yang kemudian mengumpulkananak-anak yatim ini untuk dibawa menempuh perjalanan dua sampai ke pusat kota Gendora. Pembantu wali Gendoramemerintahkan agar mereka ditempatkan sementara di pantiasuhan. Tempat sementara agar dapat mandi, menyisir rambut,dan mengganti pakaian sebelum adat diberlakukan. Pegawaikerajaan akan menyebarkan berita ke seluruh pelosok untukmengumumkan nama-nama para yatim. Jika dalam waktusepuluh hari tidak ada keluarga yang mendapatkan mereka,anak-anak yatim itu akan dibawa ke pasar budak untuk dijualkepada siapa saja yang mampu memberikan uang palingbanyak. Dua kali dalam satu tahun diadakan pesta hiburanbertepatan dengan pertengahan bulan. Para pemain musik,tukang sulap, pedagang, peliput berita, pemain teater, dankelompok sirkus berdatangan dari berbagi penjuru untukikut meramaikan pesta rakyat. Pada hari akhir pesta itulahdiadakan acara “lelang yatim”. Para anak yatim akan diberipakaian baru, dirias, dan didandani untuk dipertontonkankepada para keluarga kaya atau pengusaha yang membutuhkanpembantu. Remuk hati Merzangus mendapati kejadian yangdialaminya dalam beberapa hari terakhir ini. Dalam kurunwaktu sekejap saja ia telah sebatang kara. Tidak tersisa lagiseorang pun dari keluarganya. Demikian pula kampunghalamannya. Kini, setiap orang telah menjadi kejam dan asingdalam pandanganya. Semua orang suka memaki dan berlakukasar terhadap dirinya. Bahkan, para pengurus panti asuhanjuga tega memisahkan dirinya dari teman-teman sekampunghalamannya. Mereka membenci kebersamaan di antarasesama anak yatim. Sejak saat itulah Merzangus paham bahwadirinya tidak boleh lagi mengharapkan bantuan dan belas orang lain. Ia pun mulai berpikir bahwa keberadaannyahanya untuk mengabdi, setia kepada seseorang yang akanmenjadi tuannya. Demikianlah kisah seorang Merzangus. Seorang anakyatim yang kini kenangan terakhir akan wajah teman-temandari kampung halamannya pun sirna sudah. Semua orangdi panti asuhan tidak saling bertegur sapa satu sama mereka tidak tahu akan jatuh ke tangan siapa setelahitu? Satu-satunya hal yang mereka tahu, barang siapa bersikapburuk terhadap keluarga kaya yang telah membelinya, ia akandisiksa, dicambuk, dan dipotong lidahnya. Demikianlah apayang diceritakan para pengasuh di panti asuhan. Bahkan, jikasemakin terus nakal, ia akan disuruh untuk menjadi pengemisdi pinggir jalan! Merzangus pun kerap terbangun di keheningan malamakibat mimpi buruk yang menghantuinya. Ia terbangundengan tubuh dipenuhi keringat dingin. Seakan-akan rasasakit masih terasa menyayat ujung lidahnya karena goresanpisau yang dilakukan orang-orang yang telah menebas leherkeluarganya. Remuk sudah hati Merzangus. Beban seberat meriamseolah-olah telah menindih tubuhnya yang kecil. Atau mungkin karena dirinya adalah seorang yatimsehingga beban itu terasa sedemikian berat baginya? -o0o- “Segera hentikan acara ini!” Demikian teriak seorang cendekiawan tua bernamaZahter sembari memukul-mukulkan tongkatnya, meneroboskerumunan warga. Kedatangannya langsung mendapatperhatian karena penampilannya sangat berbeda. Janggutpanjangnya hampir sampai ke perut. Warnanya putih. Dikepalanya terlilit serban putih yang sudah lusuh dan juga putih dan lusuh memanjang hingga ke orang yang melihatnya heran seraya memberi jalandengan perasaan takut. Rupanya, begitu memasuki Gendora dari pintuBesagaclar, cendekiawan yang sudah tua ini telah mendengarberita buruk. Untuk itulah ia bergegas menuju alun-aluntempat diselenggarakannya pesta rakyat. Setelah menempuhperjalanan panjang selama tiga bulan melewati padang sahara,ia akhirnya sampai, meski di penghujung acara. Begitu mendengar berita dari penjaga pintu gerbangbahwa warga telah berduyun-duyun memadati alun-alunkota untuk menyaksikan “lelang anak-anak yatim”, pedihsekali terasa hatinya. “Jangan sampai inilah yang membuatkumeninggalkan kampung nenek moyangku untuk pergi keGendora,” katanya dengan penuh amarah. Sejak enam bulan terjadi perubahan yang tidak sewajarnyadi langit. Sebuah rasi bintang bergerak tidak pada jalursemestinya. Padahal, di usianya yang hampir seratus tahun,ia belum pernah mendapati kejadian seperti itu. Sepanjangmendalami dan mengajarkan ilmu astronomi kepada parasiswanya, tak pernah ada teori yang menunjukkan perubahanarah bintang yang sedemikian tak beraturan. setiap tempat yang dikunjunginya, selalu terdengar keras pembicaraan-pembicaraan tentang berita kelahiran seorang yatim yang akan menjadi raja mereka. Setiap orang saling bertanya kepadanya apakah “Sudahtiba waktu kedatangan seorang yang akan menjadi raja bangsaYahudi yang baru?” Sepanjang sepuluh hari terakhir, Zahter mendapat mimpiyang hampir sama. Mimpi yang memaksanya menempuhperjalanan panjang melewati padang pasir yang sebenarnyabukan hal yang mungkin ia tahan di usianya yang telah hampirmencapai seratus tahun itu. Mimpi buruk yang sama selalumenjumpainya hampir setiap hari, yang selalu membawanyake negeri para leluhur, yaitu Gendora, yang telah dimakan kobaran api itulah terdengar suara seorang yang tidakjelas rupanya. Namun, jelas terdengar di telinga apa yangdiinginkanya. “Hentikan... Segera hentikan!” -o0o- Berarti, kejadian inilah yang dimaksud dalam mimpinya... Sembari memukul-mukulkan tongkatnya ke tanah, Zahterberteriak dengan sekeras-kerasnya. “Hentikan!” “Segera hentikan lelang anak yatim ini!” pedagang budak memberi salam dengan penuhrasa hormat kepada Zahter. Sebenarnya, menurut adat yangberlaku, “lelang anak yatim” adalah hal yang lumrah. Hanyaitulah cara yang mereka lakukan agar anak yatim mendapatkanpengasuh. Jadi, ia tidak mengerti mengapa Zahter tiba-tibamarah dan meminta agar acara lelang itu segera dihentikan. Zahter lalu memandangi satu per satu anak yatim yangsedang dipertontonkan. Setiap anak yatim yang ada telahmendapati kerabat dekat maupun jauh yang akan menjadipengasuhnya. Hanya tinggal satu anak yatim yang tidakmendapati kerabatnya. Tidak ada orang yang dekat dengan Merzangus. Sesuaidengan peraturan, siapa yang mampu membayar denganjumlah uang paling banyak, ia berhak Zahter datang tepat waktu. Dengan menggantisatu keping uang emas untuk setiap tahun usianya, Zahtermemberikan delapan keping emas kepada pengasuhMerzangus. Ternyata, untuk inilah Zahter harus datang ke hatinya sudah tenang. Ia dekap erat Merzangus yangmasih kecil dengan penuh kasih-sayang. “Setelah saat ini, engkau adalah siswaku yang paling kecil,”katanya. Tibalah saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Zahtermemberikan kotak berisi buku, pakaian, dan perbekalankepada Merzangus. Mereka berdua duduk bersama di ataspunggung unta dengan pelana yang di atasnya diberi perjalanan yang hendak mereka tempuh. Sesekali merekaberhenti untuk beristirahat dan mempersiapkan makanan. -o0o- akan pergi ke mana, Kakek?” Zahter tidak mau menjawab pertanyaan itu. Iamengalihkannya dengan bercerita hal lain. Berceritabagaimana caranya seseorang membuat rumah. Bahan apasaja yang dibutuhkan agar dinding rumahnya dapat kokoh. “Mengapa langit sedemikian luas, Kakek?” Zahter langsung mengambil tongkatnya untuk membuatgambar segitiga di atas pasir. “Coba perhatikan gambar ini. Namanya adalah bangunsegitiga. Jika dibuat garis lurus, segitiga ini akan terbagimenjadi dua bagian yang sama. Kemudian....” “Kakek, mengapa malam sedemikian lama?” Jawabannya? Lagi-lagi tidak ada... Semakin Merzangus melangkahkan kakinya, ia rasakanseolah-olah dunia ini semakin licin bergulir, semakinmengguncang jiwanya. Namun, setiap kali Merzangus merasa sedih, setiap kaliitu pula Zahter mencari cara untuk mengajarinya sesuatu. Iaajari bagaimana berhitung dan membaca. Kadang, ia berikanlembaran-lembaran suhuf Nabi Idris  yang ia bawa dariHabasyah. Atau, ia ajarkan nama-nama tumbuh-tumbuhandan mengenali berbagai rasi bintang di angkasa. Kembali Merzangus menangis. Zahter pun mencari caralain untuk membuatnya melupakan masa lalunya denganmengajari matematika, kimia, astronomi, huruf, puisi, danmenghafal nama-nama tumbuhan obat. Keduanya mengertikalau semua ini adalah cara aneh yang mereka temukan untuktetap bahagia di belantara padang sahara. demikian, tetap saja jiwa Merzangus yang masihberusia delapan tahun begitu sedih ketika teringat kembalidengan keluarganya yang tewas akibat dibantai parapenyamun. Setiap kali Merzangus menangis, Zahter hanyadapat berusaha membuatnya bahagia dengan mengajaknyabelajar, mengambar bangun ruang di atas hamparan tanahberpasir. Demikianlah kehidupan mereka berlalu di sepanjangperjalanan padang pasir yang siangnya panas menyala danmalamnya dingin membeku. “Perjalanan kita masih sangat jauh!” kata Zahter Berjalan dan terus berjalan. Meninggalkan kenangan dankepedihan jauh di belakang. Sampai saat usianya mencapai sembilan tahun, jadilahMerzangus seorang bocah yang pandai membaca danmenuliskan suhuf-suhuf Nabi Idris , menghafal danmelantukan doa dan puji-pujian yang terdapat dalam Taurat,mampu menggambar dan menganalisis peta angkasa, dapatmemacu kuda dengan kencang, bahkan mahir menggunakanpedang. Setiap orang pun terheran-heran saat melihatnya.... -o0o- Pengembaran Merangs Merzangus dan Zahter telah melanjutkan perjalananmenuju ke kota al-Quds. Genap satu setengah tahun keduanyahidup dalam perjalanan. Mereka menyusuri hamparanpadang pasir, mendaki bukit berbatu, serta menerobos kotadan kampung yang amat jauh dari kampung halamannya. Dalam kurun waktu itu, Merzangus pun menjadi terbiasadengan padang sahara. Bahkan, ketika berjalan meninggalkansuatu kota atau perkampungan menuju padang pasir,Merzangus mengira perjalanan itu menuju ke rumahnya. Dan al-Quds. Kota seperti apakah dia? Begitu kuat kota ini menarik Merzangus dan kakeknyabagaikan kutub magnet. Kembali perjalanan mengantarkan mereka padakehidupan di tengah-tengah padang pasir. Siang udara panasmembakar, sedangkan malam cuaca begitu dingin. Meski ditengah-tengah lautan pasir yang tak berujung itu Merzangustidak tahu cara menemukan arah perjalanan, Zahter yakindapat mengenalinya dengan melihat bintang-bintang di langit memerhatikan deretan gunung yang sesekali menghilangdari kejauhan. Kini, Merzangus sudah terbiasa untuk pindah dari satutempat ke tempat lain. Melakukan perjalanan jauh denganmendadak sehingga harus mengemasi barang-barangnyayang hanya diperlukan saja dengan cepat sudah bukan halyang membuatnya takut seperti waktu dulu. Dalam waktu singkat, kehidupan Merzangus memangtelah terguncang tidak keruan. Ia mendapati dirinya saat masihberada di kampung halamannya dan di panti asuhan yangsebatang kara, seperti segenggam rumput yang terombang-ambing di tengah-tengah lautan. Namun, setelah saat ini,Merzangus sudah tidak begitu kaget lagi dengan kehidupanyang akan dialaminya. Bahkan, desir embusan angin menyapupermukaan padang pasir terasa begitu menenangkan hatinya,laksana suara seseorang yang sedang bercerita kisah-kisahpurba kepadanya. Waktu tampak diam di padang pasir. Kemarin dan esokseolah bertemu dalam saat yang sama. Semua orang akandipaksa terbiasa hanya memikirkan sesaat yang sedangdialaminya. Sementara itu, Zahter ibarat pantai berair yang sejukpenuh dengan perhatian serta kasih sayang yang akan menjaditempat berlabuh setiap waktu. -o0o- “Setelah dari Damaskus, masih ada tiga persinggahan lagiyang harus kita lalui untuk sampai ke al-Quds,” kata Zahter. beberapa jam tidur dalam keheningan malamyang dingin, Zahter mengaduk-aduk makanan yang tersisadalam kantong perbekalannya. Hanya ada sisa-sisa roti keringdan beberapa helai daun salam. Zahter menyalakan memasukkan roti kering dan daun salam itu ke sebuahpanci berisi air. Merzangus memerhatikannya dari kejauhansaat Zahter mengaduk-aduk dengan sebuah kayu kering. Dengan kecepatan berjalan kaki, mereka baru akansampai ke Kampung Baharat esok hari setelah siang. Karenawaktu sudah begitu larut dan juga kelelahan, Merzangussudah bersiap-siap tidur di samping unta sembari memainkantelingganya. Zahter yang masih terjaga memerhatikanwajahnya dengan saksama. “Sungguh, dia seorang yang penyabar dan kuat,” kataZahter dalam hati. Sejak pagi, keduanya belum makan apa-apa. “Wahai Zahter! Usiamu kini telah begitu tua. Mungkinsudah dekat waktumu meninggalkan dunia ini,” kembaliZahter berkata-kata dalam hati. “Jika aku mati, bagaimana nasib anak ini, duhai dia masih anak-anak dan sebatang kara. MohonEngkau berkenan jangan mencabut nyawaku sebelummenyerahkan anak ini ke orang yang bisa dipercaya, jikamungkin ini adalah perjalanan terakhir bagiku.” “Engkau bicara dengan siapa, Kakek?” “Dengan siapa lagi? Kakek sedang bicara dengan parawanita kecil di langit untuk meramal besok cuaca akan sepertiapa?” “Kakek bicara dengan wanita-wanita kecil yang tinggal diDubburu Akbar-kah?” bangun dengan wajah penuh senyum. Iamenunjukkan bintang kutub dan gugusan rasi bintang disekitarnya. Gugusan bintang-bintang itu tampak seperticangkir kopi di mata Merzangus. Ia kemudian menunjukDubburu Akbar yang ada di sebelah utara. “Bintang-bintang di langit, sungai, dan gunung-gunung dibumiadalahanugerahyangtelahdilimpahkanolehAllahkepadakita, Merzangus. Dengan memerhatikan keberadaannya, kitadapat menentukan arah jalan,” kata Zahter. “Tapi, Kakek. Engkaulah bintang, sungai, dan gunung-gunung itu bagiku. Jika engkau tidak ada, mungkin padangpasir yang luas ini sudah lama menelanku.” “Ah padang pasir...,” kata Zahter sembari menghela napas. “Padang pasir ternyata lebih baik daripada kebanyakanmanusia. Sungguh, telah Kakek dapati begitu banyak kota,perkampungan, dan masyarakat. Mereka jauh lebih keringdaripada padang pasir. Jauh lebih terik panasnya. Jauhlebih sepi dan kering daripada padang pasir. Waktu telahrusak, Merzangus. Umat manusia telah rusak. Ajaran telahdianggap usang oleh mereka. Perjanjian diinjak-injak dansumpah dilanggar. Berkhianat pada amanah telah menjadikebiasaan. Pandangan kedua mata mereka hanya tertuju padaketamakan, keserakahan. Harta benda dikumpul-kumpulkanhingga menggunung, namun rasa hormat mereka kikis tersisa lagi belas kasihan kepada anak-anak yatim,tetangga yang tidak mampu, atau para musair. Mungkinkarena semua inilah kita sekarang berada di tengah-tengahpadang pasir untuk menyusuri jejak berita gembira yangakan Allah turunkan sebagai penawar kehidupan yang sudahmenjadi padang pasir, mengering bagaikan sungai yang sudah ada lagi airnya. Apakah kamu paham dengan semua ini,Merzangus?” “Apa yang Kakek maksudkan dengan berita gembira?” “Usia Kakek sudah tidak akan panjang lagi di dunia ini. Namun, Kakek baru akan merasa tenang setelah menyerahkan dirimu kepada keluarga Imran di kota al-Quds. Setelah itu, engkau akan melanjutkan wasiatku untukmengadakan perjalanan jauh yang telah kakek tempuhsepanjang kehidupan ini.” “Namun, aku tidak mau berpisah denganmu, Kakek!” kataMerzangus sambil menangis sesenggukan. Merzangus lalu bangkit untuk memeluk kakeknya.... Zahter pun mengambil selimut untuk melindungibadannya yang masih kecil dari udara dingin. Ia membelaiwajahnya dan memberikan bubur roti yang masih panaskepadanya. “Minumlah ini agar badanmu hangat. Setelah itu, kamubisa tidur dengan lelap.” Keesokan hari, sebelum matahari terbit, mereka sudahmelanjutkan perjalanan. Seberapa pun jarak yang dapatmereka tempuh sebelum terik matahari mulai menyengatadalah suatu keuntungan. Inilah siasat perjalanan mereka ditengah-tengah padang pasir. Begitulah keadaan dua satu berlangkah kecil dan satu lagi sudah terlalu tuasehingga langkahnya pelan. Namun, perjalanan yang dimulai 41 Maryam juga seorang guru sebagaimana Fatimah. Para wanita dari al-Quds setiap hari mendatangi rumah Maryam pada waktu tertentu untuk mendapati nasihat dan pelajaran darinya. Maryam menjelaskan kepada mereka tentang isi Taurat, kisah hikmah para nabi, dan menyampaikan ceramah tentang ahlak yang mulia. Ketika sang putra mendapatkan wahyu berupa Injil, Maryam pun melanjutkan pengajarannya dengan bersandar pada kitab yang diturunkan kepada putranya. Begitu pula dengan Fatimah. Ia adalah santri dan pemberi nasihat Alquran yang sejati. Buku catatan yang Fatimah gunakan saat memberi pelajaran disebut dengan “Mushaf Fatimah”. Di luar perkataan yang baik seperti ini, Maryam maupun Fatimah bukan orang yang banyak bicara. Keduanya senantiasa lebih memilih berdiam diri dalam keadaan tafakur daripada ikut dalam keramaian. Apalagi, keramaian yang sarat dengan ghibah dan perkataan yang tidak berguna. Semoga Allah rida terhadap kedua ibunda ini dan para ibunda kita yang lainnya.... -o0o- 44252. Para Hawari dn Jmun al-Maidah Begitu cepat waktu berlalu. Masa tiga puluh tahun serasa tiga puluh bulan. Demikianlah waktu yang dialami sepanjang kehidupan Nabi Isa. Takdir telah membawanya terus berlari dan berlari cepat dalam masa yang singkat. Setiap hari, setiap waktu, dan setiap saat Isa berlari dari ujung ke ujung kota al- Quds demi berdakwah. Dalam perjalanan dakwah ini, para hawari ikut menyertai. Mereka, para pemuda yang di kemudian hari menyebut Rasul dengan sebutan “Mualim”, suatu hari telah berkata demikian, “Seandainya Tuhanmu menurunkan makanan bagi kami dari langit sehingga hati kami pun menjadi tenang...!” Nabi Isa tersentak kaget dengan permintaan seperti itu. Apalagi, para hawari ini telah menyaksikan begitu banyak mukjizat yang jauh lebih besar daripada makanan dari langit. Lebih dari itu, mereka adalah para santri yang telah mendengarkan langsung dari utusan Allah. Bukankah seharusnya hati mereka jauh lebih tenang? Karena hal inilah Isa sedikit gemetar saat memandangi mereka. 443“Jika ada sedikit iman pada diri kalian, takutlah kepada Allah.” -o0o- “Hati seorang ibu tidak pernah tertidur,” demikian dikatakan sebagian orang. Semakin banyak mukjizat besar dan semakin tegas ajaran nabawi, Maryam kian mengkhawatirkan putranya. Meski Maryam yakin bahwa tugas kenabian yang telah dititahkan kepada putranya datang dari Allah, kini semua pandangan telah tertuju kepada Isa . Isa  juga menyadari keadaan ini. Bahkan, ia meminta para hawari saling berikrar mendukungnya. Mereka pun selalu menyatakan dukungannya demi rida Allah. Mereka telah saling mengikat janji. Dalam keadaan seperti inilah keinginan mereka untuk meminta makanan dari langit terasa sangat berat bagi Isa . Namun, titah takdir telah memiliki banyak arti dan fungsi. Jamuan makanan yang akan diturunkan dari langit memang akan menambah keimanan orang-orang Mukmin. Namun, di sisi lain, hal itu juga akan membuat kekufuran orang-orang kair semakin menjadi-jadi. Dan memang, bersamaan dengan kedatangan mukjizat, diturunkan pula ujian yang sangat besar kepada kaumnya. “Al-Maidah” bisa berarti hidangan makanan, bisa pula berarti “ilmu” sebagai hidangan bagi ruh. Sebenarnya, permintaan para hawari agar hati mereka dapat menjadi tenang sangat memungkinkan jika ilmu yang diinginkan. 444Nabi Isa pun segera mengambil wudu, mendirikan salat, dan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Allah pun mengabulkan doanya dan menyampaikan peringatan mengenai ujian yang mengikutinya. Setelah Nabi Isa berdoa, turunlah dua makanan dalam warna semerah api di antara dua awan di langit. Makanan berupa ikan tanpa sisik dan duri yang masih hangat terhidang. Di dekat kepala ikan terdapat garam, di sebelah ekornya tampak air lemon, dan di sekelilingnya ada sayuran segar serta lima macam roti. Semua roti itu juga dilengkapi bumbu zaitun, madu, mentega, keju, dan daging. Petrus segera bertanya, “Wahai al-Masih! Apakah ini hidangan surga atau dunia?” “Bukan keduanya. Ini adalah makanan yang telah diciptakan dengan kebesaran Allah dan tidak ada yang menyamainya. Sekarang, silakan makan dan bersyukurlah kepada Allah.” Hari makanan turun dari langit ditetapkan sebagai hari raya bagi umat Nasrani. Limpahan nikmat ini genap empat puluh hari. Setelah hari keempat puluh, meski telah diperingatkan agar orang-orang kaya dan yang tidak sakit dilarang mengambil darinya, mereka tetap melanggarnya. Allah pun mengangkat nikmat itu dan menghukum mereka. Mukjizat yang semakin banyak itu justru diingkari, meskipun pada awalnya percaya. Seolah-olah masyarakat al- Quds telah diuji dengan telah meminta mukjizat. Atas permintaan Maryam mengenai upaya pengamanan putranya, berkumpullah para sahabat terdahulu. Mereka adalah Ham, Sam, Yaves, Yusuf tukang kayu, Merzangus, dan Ibni Siraj yang baru saja kembali dari Gazza. Meski demikian, Nabi Isa tetap tidak menginginkan tugas dakwahnya menjadi 445terhalang. Ketika mereka memikirkan kemungkinan untuk berhijrah kembali ke Mesir dan atau tempat lain, Maryam yang telah mengundang mereka untuk berkumpul pun berkata, “Wahai para sahabat Allah! Kini, Isa adalah seorang rasul yang mengemban risalah-Nya. Tidak mungkin dirinya mengikuti apa yang telah kita pikirkan. Ia hanya akan mengikuti perintah Allah. Dan sebagaimana semua orang, ia juga akan mengikuti kehendak takdir yang telah ditetapkan untuknya. Untuk sekarang ini, apa yang bisa kita lakukan hanya sebatas berdoa.“ Mendengar ucapan ini, luluh sudah hati setiap orang. Mereka terhening dalam kepedihan atas ketidakberdayaan. Mereka semua kini telah menginjak usia lanjut. Ham, Sam, dan Yaves telah hampir berusia delapan puluh. Rambut mereka telah memutih dan hanya dapat berjalan dengan bersandar tongkat. Meski Ibni Siraj telah memasuki usia enam puluh lima, kesehariannya yang gesit telah membuatnya menjadi yang paling muda di antara para sahabatnya. Yusuf tukang kayu dan Merzangus sudah berusia enam puluhan. Bahkan, pedang Ridwan yang selalu Merzangus sandang kini sesekali menggores tanah. Merzangus sendiri kerap mengira ada orang yang datang dari belakang saat suara goresan ujung pedang dengan bebatuan di jalan terdengar. Yusuf sendiri selalu seperti sediakala, tetap setia dan penuh penderitaan hidupnya. Ia menempatkan diri laksana seorang ayah yang 446selalu menanggung kepedihan namun setia. Ia akan selalu mengulurkan tangannya. Namun, ia pun kini telah lelah karena faktor usia. Dan Maryam adalah ibu dari semua umat yang telah mulai memanggilnya, bahkan sejak ia berusia belasan tahun. Ibu yang senantiasa menjaga kehormatan dan keteguhan, sama seperti saat masih kecil dan muda dulu. Malam hari itu semua terlihat menatap dengan pandangan aneh. Tiba sudah waktu bagi para sahabat yang saling mencintai satu sama lain demi Allah itu saling berpisah... Bangkitlah mereka. Berucap doa.... Para sahabat laki-laki berpisah pergi ke gunung tempat untuk mendengarkan pengajian dari Isa al-Masih. Sementara itu, Merzangus bersiap-siap untuk bertakziah ke Wali Pontius Pilatus atas kematian putrinya yang jatuh dari kuda beberapa hari lalu. Saat mengenakan jubah hangat, ia bertanya kepada Maryam, “Apakah Anda tidak ikut bertakziah, Tuan?” Maryam tampak sangat pucat dan sedang berpikir keras. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak lagi kuat untuk mengadakan perjalanan ke istana. Ia hanya menyampaikan salam untuk Prokula, istri sang wali yang secara diam-diam telah beriman kepada Isa. “Sungguh, hatinya sedang begitu bersedih. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Semoga Allah melindungi kita semua dari kejahatan suaminya yang telah menyelimuti seluruh al-Quds.” Sebenarnya, tidak mungkin Pilatus mengizinkan Merzangus memasuki istana. Namun, karena takut kehilangan istrinya yang sangat berduka setelah kematian putrinya, ia 447pun memutuskan memanggil Merzangus ke istana. Hanya dengan kedatangannyalah Prokula dapat kembali merasa lebih nyaman. “Tidak tega saya meninggalkan Anda malam ini. Namun, Prokula telah begitu lemah sehingga ia hanya menerima diriku ke dalam ruangannya. Berkali-kali dirinya jatuh pingsan karena menahan kepedihan. Mohon izinkan saya menemaninya untuk beberapa saat,” kata Merzangus sambil memandangi wajah Maryam. “Dengan senang hati, pergi dan sampaikan salamku kepada Prokula. Dia saudara seagama dengan kita. Jangan kita meninggalkan dirinya dalam hari yang pedih ini. Kebetulan, malam ini Miryam dari Mecdiye juga akan bertamu. Dia bisa membantuku. Engkau jangan terlalu merasa khawatir, Merzangus.” “Oh ya... masakan untuk makan malam juga sudah saya siapkan. Masih berada di atas tungku. Jika Rasul kita datang bersama dengan para hawari, semoga Miryam dapat membantu menyajikannya. Mohon perkenankan saya pamit! Keduanya pun berpisah... Berpisah dan berpisah... Berpisah untuk tidak pernah bertemu lagi.... -o0o- 44853. Berpsah Slmnya Merzangus telah menceritakan kisah ini kepada Prokula, istri wali Pilatus, ketika mengantarnya ke tempat Maryam menghabiskan waktu untuk beribadah dan mengasingkan diri. “Aku sendiri telah menyaksikan semua mukjizat luar biasa mulai dari sejak lahir! Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ibunda Maryam. Engkau dapat mengetahui secara lebih dekat bagaimana putranya dilahirkan dengan penuh kesulitan. Namun, sejak saat itu pula Maryam telah membekali diri untuk membentengi putranya yang kelak akan membawa mukjizat luar biasa.” Saat bicara seperti ini, Merzangus hanya bisa tersenyum menahan pedih di dalam hatinya mengingat semua peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Merzangus terbatuk-batuk. “Pada masa-masa itu, orang-orang Yahudi telah menganggap bahwa perempuan adalah lebih lemah dari pada anak laki-laki. Inilah adat kehidupan dunia pada masa itu. Kaum wanita sama sekali tidak pernah dianggap sebagai bagian dalam kehidupan oleh para ahli politik, pembesar 449kerajaan, bangsawan, dan bahkan oleh pemuka agama. Maryamlah yang mengguncang kesombongan dan pangkat dunia yang selalu mereka agung-agungkan. Perempuan yang saat diasingkan dari tanah kelahirannya hanya berbekal sehelai pakaian yang melekat di badan. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa perjalanan itulah yang akan membawanya pada pertolongan Ilahi. Sebuah perjalanan yang membawanya menyaksikan Isa al-Masih yang dengan seizin Allah mampu menghidupkan orang yang sudah mati atau menyembuhkan yang sedang sakit keras. Maryam mungkin tidak bisa menunjukkan semua mukjizat agung itu. Namun, Allah telah membuatnya mampu melakukan sesuatu yang juga sangat luar biasa. Allah telah menjadikan Maryam sebagai seorang ibu yang melindungi sang Kalamullah saat semua orang menghardiknya, menghinanya. Dengan kehangatan seorang ibu, pada masa-masa sulit itu Maryam mendekap erat sang putra. Mukjizat kesabaran dan kasih sayang yang begitu luar biasa itu akan menjadi contoh dan panduan bagi seluruh umat manusia di sepanjang masa... Seharusnya engkau menyaksikan masa-masa itu, wahai putriku, Prokula. Saat semua orang melemparinya dengan batu, menghalang-halangi jalannya dengan menebar duri, meneriakinya dengan penghinaan yang tiada tara, memukulinya tanpa kenal kasihan. Namun, dalam semua kesulitan itu, Ibunda kita, Maryam, tetap tegar dalam kecerahan wajah penuh pancaran nur, dengan hati yang teguh penuh dengan kekuatan iman. Ia berjalan dan terus berjalan tanpa sedikit pun bicara. Seolah-olah semua kejadian itu baru saja terjadi pada hari ini. Waktu itu, di tengah-tengah keramaian, aku merasakan 450diriku begitu lemah tak berdaya. Terdetak dalam hatiku untuk mendapatkan jalan keselamatan darinya saat pandanganku bertemu dengan pandangannya. Saat semua warga al-Quds yang telah terbakar hatinya dengan amarah berteriak sekeras- kerasnya, Engkau adalah saudara perempuan Harun, wahai Maryam! Lalu bagaimana engkau begitu terlaknat untuk melakukan perbuatan dosa besar itu! Dengan siapa engkau telah melahirkan anak itu!?’ Sungguh, pedih sekali hati ini aku rasakan saat itu. Aku pun tersungkur seolah-olah ribuan belati yang tajam datang menghunjam. Namun, beribu syukur semoga tercurah ke hadirat Allah. Terjadilah apa yang telah Allah titahkan untuk terjadi. Saat Maryam mengulurkan sang bayi ke hadapan para rahib Baitul Maqdis semua orang yang menentangnya atau berhati sekeras batu pun terdiam seribu bahasa dengan lidah terkunci saat dengan seizin Allah bayi yang baru saja dilahirkan itu dapat berbicara. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Maryam sehingga engkau akan memahami semuanya dengan lebih terperinci...” Perjalanan malam hari itu menyusuri jalan setapak nan terjal, berlika-liku, licin, menyusuri semak-semak belukar pepohonan hena. Akhirnya, Merzangus dan Prokula tiba di sebuah surau kecil di selatan al-Quds. Sepanjang jalan, Merzangus juga bercerita panjang lebar tentang tanaman hena. Ia juga menceritakan petualangannya menyusuri padang sahara yang ia alami di masa kecil bersama Zahter. Entah sudah berapa kali Merzangus menceritakan kisah ini? Seolah-olah semua kejadian yang mengisi waktu kehidupannya sampai saat ini telah begitu padat memenuhi angannya dalam bayangan seperti embusan kabut yang terbang dengan begitu lembut. 451Sungguh, semua kejadian sepanjang kehidupannya itu telah berlalu penuh kepedihan. Meski demikian, ia tetap bersabar dan berusaha tegar seraya menghunus pedang. Ia akan terus berjuang. Meradang dan menerjang menjadi sikap seorang Merzangus. “Pohon perdu ini jenis yang tidak sabar. Ia tidak ingin seorang pun mendekat, menyentuhnya. Persis sekali keadaannya dengan para pengembara yang tak sabar. Hatinya selalu dipenuhi dengan keinginan untuk dapat segera menempuh perjalanan secepat-cepatnya. Itulah kalian, wahai pepohonan hena!” kata Merzangus. Jika disentuh bunganya, bagian itu langsung pecah. Benih dari dalam kelopaknya mencuat dalam waktu dan kecepatan yang membuat semua orang kaget dengannya. Seolah-olah ada sebuah surau tempat dia menimba ilmu dan beribadah yang ingin segera dikunjungi. Seakan-akan ingin sesegera mungkin berlari, menghindarkan diri dari pesona dunia. Berlari dan terus berlari untuk meninggalkan dunia sejauh- jauhnya di belakang... “Berlari menuju ke haribaan Allah,” tambah Merzangus. “Tahukah engkau mengapa bunga hena ini berteriak pedih? Dia katakan lepaskan, biarkan aku! Jangan sentuh aku, jangan halang-halangiku karena aku harus segera pergi! Seolah-olah mereka berteriak, Noli Me Tengere’.... berlari menuju Allah.” -o0o- 452Saat sampai di surau, mereka menyaksikan Miryam sedang bersimpuh di pangkuan Maryam, menangis sejadi-jadinya. “Linangan air mata hamba yang bartobat tidak lebih rendah daripada linangan air mata para hamba zuhud yang meninggalkan keduniaan dan penyabar,” demikian kata Maryam. “Sampai saat ini belum ada seorang wanita ahli tobat yang sedemikian banyak menangis kepada nabi kita, Isa ,” kata Maryam lagi sehingga Miryam pun semakin menjadi-jadi tangisnya. Ia terus bersimpuh di atas pangkuan dalam belaian lembut tangan Maryam. Setelah beberapa saat, keempat wanita itu bersama-sama beranjak pergi ke pemakaman... Ini sungguh perjalanan yang dipenuhi kesedihan. Mereka ditemani lentera yang ikut menahan kepedihan dalam keremangan cahayanya. Semua orang saat itu masih mengkhayalkan nabi mereka yang sedang menikmati makan malam sehari sebelum sang pengkhianat memberitahu kepada wali Roma mengenai keberadaannya. Sampai saat itu pula semua orang masih belum memahami hikmah di balik contoh yang diberikan Nabi Isa untuk selalu bersedekah, baik saat makan maupun setelahnya. Bahkan, Miryam begitu senang mempersiapkan hidangan makan yang penuh dengan pengabdian dan ketulusan. Saat itu, Miryam selalu membersihkan nampan tempat makan dengan mengusapkan minyak yang menjadi kesukaan Nabi Isa. Suatu ketika, Miryam tidak kuasa menahan kepedihan hati sehingga terlintas keinginan untuk membersihkan sisa- sisa makan Nabi Isa dengan harapan agar Allah mengampuni 453dosa-dosanya. Tanpa mengganggu siapa pun, ia membersihkan nampan dan tikar yang digelar untuk acara makan. Miryam begitu malu dengan perbuatan dosa di masa lalu. Setelah bertobat ia tidak pernah melepaskan diri dari pakaian bercadar. Ia selalu merasa malu dengan sesama. Malu dan merasa tersiksa dengan kehidupan masa lalunya. Begitulah seorang Miryam setelah bertobat.... Pada suatu malam, Miryam juga melakukan hal yang sama. Ia merangkak memasuki ruangan untuk membersikan nampan dan semua perkakas tempat makan malam. Saat itu dirinya tidak tega melihat Nabi Isa yang begitu lelah dan merasakan kepedihan dari kedua kakinya yang penuh dengan tusukan duri hingga darah keluar sana. Miryam tidak kuat membayangkan perjuangan Nabi Isa. Ia tak kuasa menahan tangis seraya membersihkan tempat makan. Di tempat duduk Nabi Isa tampak noda darah. Dengan air mata bercucuran, Miryam terus membersihkan bercak-bercak darah itu dengan minyak. Sesampai di pemakaman, mereka mulai mencari-cari berharap ada tanda dari kejadian hukuman mati dilaksanakan siang hari. Meski Merzangus dan Maryam yakin bahwa yang dijatuhi hukuman mati itu bukan Nabi Isa, mereka masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah al-Masih masih hidup ataukah sudah meninggal? Lalu, di mana keberadaan Nabi Isa sekarang? Karena tiga hari ini tidak ada tanda dan kabar dari Isa , keempat wanita itu datang ke pemakaman untuk mendapatkan tanda keberadaanya. Selama tiga hari Maryam dengan tegar menghadapi seluruh kepedihan yang menghunjamnya. Namun, dalam tiga 454hari terakhir ini kepedihan itu menikam hatinya begitu dalam. Ia pun luluh bagaikan lilin yang terbakar. Malam itu, Maryam seakan-akan menjadi seorang ibu yang terhimpit di antara langit dan bumi. Garis takdir sepanjang masa telah mendapati diri Maryam sebagai hamba yang selalu teguh, taat, dan rajin bagaikan seorang santri. Namun, seperti apa pun itu, ia adalah seorang ibu, yang hatinya juga begitu terluka. Remuk jiwanya merasakan kepedihan perasaan yang tidak juga kunjung mengetahui keberadaan putranya. Maryam diam terpaku, seakan-akan seisi jiwanya telah membeku.. Mungkinkah jiwanya membeku? Bagaimana rasa jiwa yang membeku? Kadang air begitu keras membeku, kemudian retak dan patah hingga berkeping-keping. Begitu juga jiwa saat disentuh dingin kepedihan merindukan anak. Jika itu adalah jiwa seorang ibu, saat itulah seisi jiwanya akan membeku kemudian hancur berkeping-keping. Malam itu seakan-akan menjadi masa-masa kelahiran putranya di Betlehem. “Sungguh, kehilangan dirinya sepedih melahirkannya, duhai Tuhanku!” rintih Maryam. Terhimpit hati Maryam. Ingin sekali ruhnya terbang dari jeratan jasadnya. Bukan dengan kedua matanya, melainkan dengan dua ribu mata untuk mencari keberadaan putranya. Ingin sekali kedua tanganya segera mendekap erat-erat putra yang juga nabinya. Remuk hati Maryam.... terbakar kepedihan merindukan putranya... 455Apa yang sebernarnya telah terjadi pada putranya? Padahal, sepanjang hidup, Maryam memang telah mendekap erat-erat sang putra yang lahir tanpa ayah. Maryam ingin sekali meringankan kepedihan putranya dengan mencurahkan seluruh cintannya kepadanya. Namun, begitulah yang terjadi setiap kali menyisir rambutnya, setiap mencium keningnya, setiap mengangkatnya saat terjatuh, setiap memerhatikannya dari kejauhan saat bermain dengan teman-teman sebayanya. Hati Maryam selalu gemetar. Adakah seorang ibu yang bosan memerhatikan anaknya tumbuh? “Ah... kedua tangannya begitu lembut...” pikir Maryam dalam perasaan begitu pedih. “Sungguh, kedua tangannya selembut sutra.” Isa seakan-akan tidak tumbuh dewasa untuk ibunya. Kedua tangannya maksum dan lembut sehingga tak jemu- jemu Maryam membelai dan menciumnya Ia laksana hujan yang mengguyur pada musim semi. Ah, betapa wangi aroma putranya, laksana delima yang diturunkan dari surga, minuman segar yang diambil dari saripati telaga Salsabil di surga. Mutiara. Zamrud. Dialah Isa  bagi Maryam. “Rambutnya yang terurai sampai ke keningnya...” pikir Maryam kemudian. “Ah rambut putraku.... sungguh rambutnya...” kata Maryam kemudian seraya hanyut dalam tangis. Pikiran, khayalan, dan perasaannya tumpah merindukan putranya. Baru sekali ini Maryam menyebut Isa al-Masih dengan kata “anakku” dengan suara lantang. Padahal, selama ini tidak pernah Maryam mengatakan “milikku” pada apa pun. Sungguh, ia tidak pernah 456mengatakannya. Ia merasa malu kepada Tuhannya. Baru sekali ini Maryam mengatakan kepada para sahabatnya. “Sungguh, putraku begitu indah bagiku. Tahukah engkau?” tanya Maryam sehingga semua orang pun menangis saat mendengarnya. Maryam saat itu seakan-akan telah berbuka dari puasa bicara. Berbuka dengan jerit kepedihan hati seorang ibu. “Sering aku memerhatikan wajahnya saat tidur. Pada keningnya terurai seikat rambut. Tepat di sini....” “Tepat di sini...,” kata Maryam sambil menunjukkan keningnya sendiri. “Namun, apa yang telah terjadi dengan rambutnya, Merzangus? Di manakah sekarang keindahan wajahnya? Di manakah ia tertidur sekarang? Dengan bantal batukah ia kini tidur? Aku tidak pernah tega dengannya! Tidak tega untuk melihatnya, untuk membelainya, untuk menyentuhnya.” Di pinggir pemakaman, Maryam menggenggam sambil menciumi ranting-ranting pohon cemara yang begemerisik tertiup angin. “Dedaunan ini seharum wangi rambutnya. Wahai sahabatku, pohon Palestina, mengapa selama ini engkau diam saja tanpa memberiku berita akan keberadaan putraku? Mengapa bebatuan dan angin yang bertiup juga terdiam seribu kata?” Sahabat-shabat Maryam belum pernah melihatnya seperti itu. Sungguh, jika seorang anak meninggal sekali, seorang ibu akan meninggal seribu kali. Jika seorang anak hilang sekali, bagi ibu ia berlipat menjadi seribu kali. Seribu kali mati dan menghilang. Dan Maryam telah merasakan ketidaannya. Jika 457Tuhan tidak menuntunnya, jika Ia tidak membentenginya dengan kesabaran yang luar biasa, mungkin saja di malam itu Maryam juga ikut luluh. Merzangus hanya mampu berkata, “Isa al-Masih adalah hamba dan utusan Allah.” “Namun dia juga anakku. Sungguh, dia anakku yang sangat tampan,” kata Maryam memotong kata-kata Merzangus. Jika keduanya mendapati kejadian ini saat masih berusia muda, mungkin hancur dan guncang sudah seisi jiwa. Saat itulah, dalam kondisi yang sudah mulai ringkih karena tua, Merzangus tiba-tiba mengarahkan pedangnya yang terhunus ke arah bayangan seorang musuh dalam kegelapan. Dirinya seakan-akan telah menjadi gila. “Apa yang telah Anda katakan, wahai wanita mulia? Mungkinkah Allah akan meninggalkan Kalamullah-Nya? Pasti Allah akan memberi kabar akan keberadaannya ke dalam hati Anda, ke dalam jiwa hamba yang kembali kepadanya...” Inilah kata-kata Merzangus. Namun, dalam hati, ia juga berkata, “Jika saja angin yang berembus itu adalah seekor kuda tunggangan sehingga aku akan melompat ke atas punggungnya seraya memacunya dengan sangat kencang untuk segera menemukan keberadaan al-Masih. Mereka mencari tanda keberadaan Isa  di seluruh pemakaman. Merzangus sesekali menghunus pedangnya seraya menebaskan ke arah kegelapan, menyangka ada suara gemeresik kedatangan musuh yang akan menyerang Maryam. Yang lain berjalan dalam tangisan pilu mencari tanda keberadaan maupun kematian Nabi Isa. Jika Allah tidak menggenggam alam dengan menurunkan kesabaran, niscaya langit akan pecah berkeping-keping karena 458kemarahan-Nya di malam itu. Alam dan isinya tentu tidak akan tinggal diam saat menyaksikan seorang yang maksum dibunuh, bukan? Pernahkah langit terpaku dan membisu saat melihat seorang maksum dihardik tanpa kenal belas kasihan? Pernahkah bumi diam tanpa mengguncangkan dirinya saat Kekasih Allah disiksa? Jika sampai saat ini alam dan isinya masih diam, pasti itu karena kesabaran-Nya. Pada malam itu, langit dan bumi telah menghamparkan kesabarannya seluas- luasnya... Sepanjang malam Maryam membelai setiap nisan. Merebahkan rerumputan yang ada di atasnya dengan air mata kasih sayang. Tanah kuburan pun ikut merintih pedih bersama tangisan Maryam. Jika Allah tidak menurunkan kesabaran kepadanya, niscaya tanah akan terbelah, meneriakkan kemarahan dengan teriakan sejadi-jadinya. Namun, langit dan bumi telah berada dalam kesabaran seorang ibu. Sementara itu, malam masih menyelimuti wajah dalam tangisan kepedihan sehingga malam yang gelap gulita pun menjadi terang di samping Maryam yang begitu menanggung kepedihan perpisahan dengan putranya. Jika seisi alam sedemikian pedih, menjerit, meratapi kepergian Isa, lalu bagaimana dengan Maryam? Apa yang mesti dikatakan kepada seorang ibu yang jiwanya terbelah meratap pedih karena kepergian putranya? Ia mencari dan terus mencari, bertanya kepada setiap makhluk, tanah, embusan udara, runcing duri yang menghalanginya di jalanan, kalajengking yang gemetar lemah dalam sengatan kepedihan, ular yang berlidah setajam pisau, bahkan kepada bulu-bulu burung hantu yang terbang dengan malu. 459Saat dalam keadaan seperti inilah, saat Maryam tak lagi sadarkan diri, mencari dan terus mencari jejak putranya ke segala penjuru, tiba-tiba tercium wangi bunga melati... Bau ini...! Ya, bau ini adalah....! Sampai saat itu pula Miryam tiba-tiba melompat mengejar bayangan kedatangan seseorang dari kegelapan yang dia sangka seorang juru kunci. “Wahai penjaga kuburan! Wahai seorang yang bertugas menggenggam kunci-kunci kepedihan di pemakaman ini! Apakah engkau membawa berita tentang keberadaan tuanku, Isa al-Masih? Tunjukkan kepada kami tempat ia dimakamkan? Atau tunjukkan kepada kami di mana keberadaannya saat ini? Wahai seorang yang menjaga pintu perantara di antara kehidupan dunia dengan alam akhirat, berkenankah membantu kami?” Demikian tanya Miryam. Padahal, bayangan nurani itu tidak lain adalah nur Isa al- Masih yang diutus untuk menemui ibundanya sesaat sebelum kepergiannya. Ia pun mulai menuturkan apa yang sebenarnya telah terjadi kepada mereka, terlebih kepada ibunya agar tidak larut dalam kesedihan. Dirinya telah diangkat ke langit atas izin Allah. Selain itu, sosok yang telah dijatuhi hukuman mati adalah Yahuda yang telah berkhianat karena menjual berita. Itu semua bisa terjadi juga atas kehendak Allah agar orang- orang zalim tertipu dan menangkapnya. Hanya beberapa saat penuturannya... Kemudian, bayangan nur itu tersenyum seraya berbalik sebelum pergi. Terang senyuman pada wajahnya. Tampak jelas hiasan di balik jubahnya yang tak lain adalah hasil 460pintalan Maryam. Kemudian, ia mengangkat jari telunjuknya, mengucap salam dengan menganggukkan kepala, lalu menghilang ke angkasa. Dan lagi, tepat sebelum kepergiannya, ia berpesan kepada ibundanya. “Wahai Ibu, janganlah menangis. Sungguh telah datang waktu yang ditentukan bagi Kalamullah,” katanya berpesan kepada ibundanya dalam tetesan air mata. Mereka pun berpisah... Seperti biasa, Miryam ingin mendekatinya. Berharap untuk sekali lagi dapat melihat wajahnya dari dekat. Namun, Sang Ruh telah berpesan kepadanya, “Mohon relakan diriku. Jangan engkau mencegahku,” katanya sebelum hilang dalam sekejap mata. Demikianlah, Sang Kalamullah yang turun dari langit telah kembali lagi ke langit. Sementara itu, Maryam mengumpulkan para sahabatnya seraya mendekap mereka dengan erat... -o0o- 461Peutup Kasih sayang adalah kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding cinta. Ia bahkan telah menjadi mahkota dan dipakaikan oleh malaikat kepada Maryam… Lalu, tertutuplah Maryam oleh tirai... Hingga tak seorang pun melihat wajahnya, tak seorang pula mendengar suaranya. Tak pernah ia bertutur kata… Selalu berdiam sebagai titahnya. Rahasia kasih yang hakiki adalah bersandar pada kemampuannya untuk diam. Jiwa seorang kesatria adalah menggenggam cinta untuk tidak melepaskannya. Namun, berlepas darinya tanpa pernah merasa memiliki hak atasnya adalah perbuatan yang membutuhkan jiwa kesatrianya kesatria… Dan Maryam, bahkan sebelum kelahirannya, telah dilepas, dikurbankan kepada Allah... Maryam semakin menutup diri, terlebih setelah kelahiran putranya... Demikianlah dunia baginya. Tak lebih dari setarik napas atau sehelai bulu yang terhempas... Segala yang ia cintai telah diberikan kembali kepada Allah. 462Telah ia berikan lagi “Kalamullah” miliknya ke langit. Dan setelah itu, semua kata tidaklah lebih dari sebatas kulit, selebar bayangan, dan gunjingan cinta. Karena itulah Maryam diam… Terdiam dalam keteguhan laksana gunung… Bagaikan mata air terjun dari ketinggian… Demikian ia telah meleburkan diri… Melebur ke dalam rahasia cinta dan kasih sayang… Melebur untuk menampik segalanya, mengasingkan diri menjadi hamba ahli tobat…. Semoga salam dan rahmat Allah terlimpah untuk para hamba saleh yang senantiasa menyeru kita untuk bertobat. Semoga salam dan rahmat Allah senantiasa tercurah kepada Maryam, Asiyah, Khadijah, dan Fatimah… ratunya para wanita surga. Semoga salam dan rahmat Allah, berkah dan kemuliaan Zat yang tiada sesembahan selain Dia, untuk baginda dan rasul-Nya, panutan dan kekasih kita umat manusia, sultan para nabi, Muhammad al-Mustafa , beserta segenap sahabat dan ahli baitnya…. 2 Rajab-14 Syakban 1429 3 Juli – 16 Agustus 2008 -o0o- 463Serial 4 Wanita Penghuni Surga 464 adat istiadat yang telah diajarkan para leluhur? Maukahsaya katakan sesuatu kepada Anda! Setiap kejelekan yangterjadi di dunia ini selalu saja dinisbatkan kepada para leluhuryang telah memulainya. Coba katakan siapa yang pertama kalimembuat patung? Biar saya ceritakan kepada Anda. Ada seorang raja yangsangat mencintai ayahnya yang bernama Baal. Begitu sang ayahmeninggal dunia, ia jatuh sakit karena sangat sedih. Akhirnya,dia membuat patung yang sangat mirip dengan wajahayahnya. Patung itu ia dirikan pada sebuah pasar di tengahkota. Ia juga perintahkan semua orang ikut menghormatipatung itu. Yang menghormatinya akan mendapatkankebaikan dan keselamatan. Semua orang, termasuk paraberandal, perampok, dan pembunuh ikut bersimpuh di depanpatung itu sambil menyuguhkan uang dan berbuat demikian, mereka akan dimaafkan sangraja. Akhirnya, uang dan persembahan yang diberikan untukpatung itu sangat berlimpah. Hal ini dimanfaatkan untukmendulang uang. Sang raja lalu memerintahkan mendirikanpatung Baal di seluruh penjuru. Padahal, sebagaimana ajaranyang disampaikan kepadaku, Allah sangat melaknat perbuatanseperti ini. Hamba-Ku telah melakukan sesuatu yang telah meniadakan hukum yang telah Aku sampaikanmelalui Musa dan berbalik mengikuti adat para leluhurmereka.” Raja Hagerce yang mendengarkan kisah itu menyela,“Mualim! Engkau bicara seolah Bani Israil memiliki patungdari batu dan kayu yang selalu mereka perkataanmu sangat keras!” tahu Bani Israil tidak memiliki patung dari batu dan kayu pada hari ini. Yang saya maksud adalah patung berdaging,” jawab Isa . Semua orang yang ada di situ pun mulai menangis. Maryam lalu berkata, “Ketahuilah bahwa hanya Allahyang seharusnya dicintai dan menjadi tujuan setiap orang!” Merzangus pun kembali menyuguhkan air susu dengangelas kayu kepada masing-masing tamu. -o0o- Marym dn Para Wna Ali Srga Setelah Raja Hagerce kembali ke negaranya, rombonganmelanjutkan perjalanan ke Nasara bersama para musair dariJalilah. Kebetulan, pada saat itu Merzangus mendengar berita adaseorang hamba saleh yang sedang sakit berat di sana. Maryampun mengajak rombongan mengunjunginya. “Ada baiknya kita mengunjunginya,” kata Maryam Merzangus menyetujui ajakan itu. “Pasti ada hikmah di sana. Mari kita mengunjunginya.” “Akan terbuka dua pintu bagi setiap manusia saat-saatmenjelang kematian. Yang satu menunjukkan arah dunia, kearah para kerabat yang sedang berkumpul pintu yang lainnya ke arah alam akhirat.” “Pada saat-saat itu malaikat akan memperlihatkan pintuakhirat kepadanya. Siapa tahu saat berkunjung nanti kita bisaberbicara dengan para penduduk surga.” Ternyata, berita itu benar. masih hidup, Zahter selalu menyempatkan dirimengunjunginya saat sedang singgah ke daerah tempat orangitu bermukim. Hamba saleh itu rupanya senang melakukanperjalanan di waktu malam demi mendapatkan selalu beruzlah atau mengasingkan diri, menyendiri darihiruk-pikuk dunia untuk mengosongkan diri dengan berzikirdan bertafakur. Mujur, saat sampai di Nasara, Nabi Isa dan para sahabatnyatidak sulit menemukan tempat tinggal orang saleh itu. Saat memasuki rumahnya, hamba saleh yang sedang sakitparah itu mencoba bangkit demi menyambut kedatanganpara tamu. Dari wajah para tamu yang memancarkan nuritulah ia dapat mengenali siapa yang datang berusaha bangkit dari ranjang, namun dirinya tak lagimemiliki cukup tenaga. “Anda sekalian...,” katanya, “Saya sepertinya mengenalkalian dari nur yang terpancar dari dahi bekas sujud. Selamatdatang wahai saudaraku!” “Mungkin kalian akan berkata bahwa orang tua sepertidiriku yang sedang sekarat ini sudah tidak lagi lurus berbicara,sampai-sampai mengaku mengenali kalian. Dan benar, saat inisatu pintu telah terbuka ke alam akhirat bagiku. Apa yang aku lihat saat ini, satu sisi mengarah pada alam akhirat dan satu sisi lagi mengarah pada alam dunia. Diriku pun bingung membedakannya. Meski demikian, ada satu doa yang senantiasa aku panjatkan kepada Allah. Doa itu adalah agar aku dapat berjumpa dengan nabi yang kedatangannyatelah diberitakan dalam Taurat. Berita ini sebenarnya lama dirahasiakan oleh orang-orang siapa saja yang menyinggung berita ini akan dicap sebagai orang yang terancam’.” “Janganlah Anda merasa takut,” kata Merzangus. Meskiaku seorang wanita yang sudah berusia hampir enam puluhtahun, sampai saat ini pedangku tidak pernah lepas daritanganku. Sejak Isa  lahir, pedang ini belum pernah akumasukkan ke dalam kerangkanya. Sudah tiga puluh tahunlamanya ia terhunus untuk meradang dan menerjang,” kataMerzangus sembari menggantungkan pedangnya ke dindingkemudian mulai menyalakan tungku di dapur. Saat itu iaseolah-olah adalah penghuni rumah itu sejak lama. Maryam dan Isa  masih tetap berdiri. Tidak adasatu kursi untuk duduk di gubuk yang hampir roboh mereka mungkin untuk yang terakhir kalisebelum nelayan saleh itu wafat. Sang nelayan pun merasamalu dengan keadaan rumahnya. Ia terus mencoba sudah berusaha sekuat tenaga, ia tetap tidak mampubangkit dari ranjang. Saat selimutnya jatuh ke tanah, terlihatjelas betapa kurus tubuh hamba saleh itu. “Tidah usah repot-repot,” kata Merzangus serayamengambilkan selimut yang terjatuh. Hamba saleh itu kemudian membungkuk dan bersucidengan ember air yang ada di dekatnya. Sungguh, apakahorang tua ini tidak memiliki seorang kerabat? Dengan gayungdi tangan, nelayan itu membersihkan diri di sekitar tempattidur. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia melipat-lipat ikan yang hampir menutupi kamarnya. Dengan lipatanjaring itulah ia memberikan tempat duduk untuk Maryamdan putranya. “Terima kasih sekali,” kata Maryam, “Indah sekali tempatduduk ini!” Maryam dan Isa pun akhirnya dapat duduk sambiltersenyum. “Wahai anakku! Diriku tidak pernah keluar dari kamaryang kalian lihat ini. Sungguh, usiaku telah berlalu untukmendakwahkan agama yang benar kepada para nakhodakapal, nelayan, dan semua orang di sekitar sini. Aku yangmembuatkan jaring untuk mereka, sedangkan merekamembawakan ikan hasil tangkapannya. Orang-orang dahulusering bercerita bahwa nabi yang namanya disebutkan dalamTaurat kelak akan berdakwah dengan berpindah-pindah darisatu tempat ke tempat lain. Nabi itu tidak akan tinggal di satutempat dalam waktu yang lama. Sejak saat itulah aku selalumenantikan kedatangannya. Diriku hampir saja berputus asauntuk dapat berjumpa dengannya. Aku yakin kalian adalahorang-orang yang dekat dengan nabi itu. Hal ini terlihat jelasdari wajah dan sikap santun kalian. Karena itu, apakah kalianmemiliki berita tentang keberadaannya. Mohon sudilahbercerita kepadaku...!” “Wahai kakek!” kata Maryam. “Inilah Nabi yang selalu kau tunggu. Kini, Sang Nabi itubenar-benar telah berada di depanmu! Dialah Isa al-Masih,utusan yang membawa ajaran dari Allah.” Begitu mendengar penuturan Maryam ini, nelayan tua itumulai menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan rasa bersyukurdan gembiranya. Seketika itu pula ia menyatakan keesaan dan Isa sebagai Nabi dan Rasul-Nya. Di wajah kakek yangsaleh itu terpancar cahaya. Setelah beberapa saat tersengal-sengal dalam tangisan, nelayan saleh itu kembali sadar bahwaajalnya ternyata sudah dekat. “Ahh....!” jerit sang nelayan. “Duhai Tuan, betapa diriku terlambat bertemu saat yang lalu aku merasa sedih karena belum dapatmenemukan dirimu. Dan sekarang, kesedihan itu semakinmemuncak namun berganti menjadi pedih karena takutkehilangan dirimu. Sungguh, usiaku hanya tinggal sesaatsaja.” “Ahh...!” kata Maryam menimpali. “Duhai Allah... Apa yang akan didapatkan jika seseorang kehilangan-Mu, Dan apa yang hilang darinya jika seseorang mendapatkan diri-Mu?” Mendengar perkataan Maryam, nelayan itu tersentuhhatinya. “Betapa baik hakikat yang Anda ucapkan sehingga hatikuyang sekarat ini menjadi kuat kembali wahai wahai Ibunda al-Masih.” Setelah menghela napas panjang, nelayan saleh itu kembalibertanya, “Berkenankah Anda menerangkan surga?” “Wahai kakek yang saleh! Telah lama engkau menungguberita bahagia itu. Dan sekarang kami datang untukmenyampaikan apa yang kami ketahui,” kata Maryam. Sejak kecil, Maryam telah bermain bersama para malaikat. sangat suka bercerita tentang surga sebagaimana iamenyenangi orang yatim dan miskin. Surga berarti tempat yangdirahasiakan dari pandangan mata manusia. Seperti bunga-bungaan, kebun, dan taman yang menutupi permukaan tanahsebagaimana malam menutupi siang, dan siang menutupimalam, demikian pula alam akhirat yang menutupi surga daripandangan mata kita. Surga memiliki beberapa nama. Adn’ Firdaus’ Mawa’ Naim’ Huld’ Salam’ Illiyyun’ Kakek saleh itu ikut menyebutkan nama-nama surga satudemi satu. “Surga memiliki banyak kedudukan dan paling tinggi ibarat taman kasih sayang,” katanya. Bagi Merzangus, surga hadir saat berada di sampingMaryam. “Kini, diriku berada di pinggir taman surga,” kata nelayansaleh itu seraya memberi isyarat untuk bersalaman denganMaryam. Bagi Merzangus, surga datang saat berada di sampingMaryam dalam embusan lembut kata-katanya yang penuhhikmah. Ya, Maryam adalah bunga surga yang kehidupannyaselalu semerbak mewangi karena membawa berita darisurga. kadang tak kuasa menahan penderitaan dankesusahan yang dihadapinya. Remuk hatinya, tercerai berai,dan berlinang dalam tangisan. Pada saat itulah Maryam yangberusia lima puluhan, lebih muda muda dari usianya, datanguntuk membelai rambutnya. Dengan kata-katanya yang lembutlagi merdu, Maryam bercerita tentang surga. Kehidupanyang menjadi harapan kita. Kehidupan sebenarnya yangakan datang setelah ujian berat di alam dunia ini. Mendengarpenuturan itu, Merzangus pun kembali kuat serasa inginsegera menjemput kematian dengan penuh kegembiraan. Bagi Maryam, kematian adalah pintu terbuka bagiruh untuk mencapai alam abadi. Kematian ibarat kudatunggangan. Saat ditunggangi, ia akan mengantarkan manusiakepada tujuan akhir. Demikianlah, kematian disambut tanpaketakutan atau menakutkan. Setiap kali Maryam membahas kematian, ia selalumengakhirinya dengan menerangkan kehidupan surgasehingga orang-orang fakir dan yang sedang sakit kerasdengan penuh semangat merindukan kematian. Merekajuga kembali tabah menghadapi kesulitan hidup. Ketegarandan ketabahan Maryam dalam menghadapi segala musibahdan kesulitan adalah bersandar dengan keimanannya padakehidupan setelah kebangkitan. Kehidupan surga bukanlahharapan materi melainkan kerinduan pada perjumpaandengan Tuhannya. Inilah kedudukan tertinggi dalam surgayang selalu diharapkan. Dalam masa-masa sulit di pengasingan dan musimpaceklik, Maryam selalu menuturkan kehidupan surga bagipara hamba yang bertakwa. bawahnya mengalir sungai yang jernih danmenyegarkan. Dihidangkan pula berbagai macam buah-buahkan dalam rindang bayangan pepohonan. Inilah imbalanbagi orang-orang yang menghindarkan diri dari berbuatkejelekan.” Saat mendengarkan cerita ini, nelayan saleh itu luap dalamlinangan air mata. Ia memanjatkan puji dan syukur ke hadiratAllah. Pintu-pintu surga seolah-olah terbuka satu per satuseiring dengan penuturan Maryam. Namun, apakah Maryam tidak membenci orang-orangyang berbuat kejahatan? Saat hati Maryam sakit oleh kejahatan dan keburukanorang-orang yang memusuhinya, ia selalu mengadukannyakepada Allah. “Duhai Allah, Tuhan bagi semua orang yang baik dan jugayang jahat!” “Sungguh, tidak ada pintu keluar bagiku selain denganmembuka pintumu.” Maryam selalu menceritakan kehidupan surga kepadaorang-orang yang hatinya sakit demi memberikan dukungankepadanya. Maryam juga mengedepankan harapan, bukankeputusasaan. Ia selalu mendahulukan kasih sayang daripadamenggambarkan ketakutan. Nabi Isa juga selalu mengedepankan pembahasan tentangkehidupan di surga. “Wahai sahabatku. Takut kepada Allah dan kecintaanpada surga Firdaus akan memberikan kesabaran atas kesulitanyang diderita dan menjauhkan diri dari kilau dunia,” demikiannasihat Nabi Isa yang selalu didakwahkan kepada parasahabatnya. Maryam membahas kehidupan surga, Merzanguspernah mendengar beberapa nama. “Pernah engkau bercerita tentang taman di surga danorang-orang mulia yang menghuninya. Berkenankah engkaumenyebutkannya lagi?” harap Merzangus kepada dari harapan ini tentu saja untuk mengantarkannelayan saleh itu mengembuskan napas terakhirnya dengantenang. Maryam pun mulai menjelaskan setiap tingkatan surgadan menerangkan bahwa martabat paling tinggi bagi seoranghamba adalah rida terhadap Allah. “Allah telah menciptakan kita di alam antara, yaitukehidupan di antara alam Mulk dan Malakut. Ini dilakukanagar manusia memahami kemuliaannya. Namun, jika manusiatidak memahami bahwa kemuliaan telah dianugerahkankepadanya dan kemuliaannya di antara semua makhluk harusdiwujudkan dalam syukur kepada Sang Penciptanya, hal initidak lain adalah kejahiliahan yang nyata.” Nabi Isa lalu mengarahkan pembicaraan pada kehidupansurga, yang dipenuhi kemuliaan dalam keindahan taman-taman surga. Semua itu hanya bisa dicapai dalam kerelaan. “Seolah semua penciptaan ini telah Allah letakkan dalamgenggamanmu sehingga engkau pun mampu menerangkannyadengan sedemikian indah,” kata Merzangus. Setelah diam sejenak, Maryam menoleh ke arah Merzangusseraya melanjutkan perkataannya. “Merzangus, sebenarnya diriku sangat penasaran denganpara wanita ahli surga yang kelak akan dipertemukankepadaku,” kata Maryam. adalah para wanita ahli surga? Engkau tidakpernah menyebutkan hal ini kepadaku sebelumnya, wahaiMaryam?” “Berarti Allah telah menakdirkan untuk diterangkandi sini. Engkau tahu Merzangus. Saat aku tinggal di mihrabsampai menjelang kelahiran putraku, pada masa-masa itulahmalaikat menyampaikan wahyu kepadaku untuk bersujudbersama orang-orang yang sujud. Aku pun segera menunaikanperintah itu dengan ikut mendirikan salat berjamaah diKubah Suci, di Masjid al-Aqsa. Namun, waktu itu tidak satupun wanita diizinkan memasuki daerah Kubah Suci. Begitudiriku terlihat ikut mendirikan salat di saf paling belakang,para rahib sangat marah dan menghujaniku dengan sampai tak sadarkan diri. Sesampai di mihrab, aku masihmenangis dalam kesakitan hingga tertidur. Dalam mimpi,malaikat mempertemukanku dengan tiga wanita ahli surga.” “Ya Allah! Jadi engkau pernah dipukuli oleh para rahibitu?” “Tidak penting hujan pukulan yang menimpaku. Bahkan,sudah sejak lama aku melupakan kejadian itu. Yang palingpenting, sekarang aku ingin bercerita kepadamu sebuahkejadian suci yang aku alami di dalam mimpi. Tiga wanita surga yang disebut namanya satu per satu oleh malaikat dengan penuh ucapan sanjungan adalah Asiyah putri Muzahim yang telah membesarkan Nabi Musa di dalam istana dengan penuh kasih-sayang....” Firaun telah tega menyiksanya?” “Setelah mengetahui bahwa Asiyah memeluk agama yangdiajarkan Nabi Musa, Firaun memerintahkan kedua kakidan tangan beliau yang mulia diikat dengan seekor kuda dicambuk agar saling tarik. TubuhAsiyah juga ditindih batu besar. Saat itu, wanita saleh tersebutberdoa, Duhai Allah! Limpahkanlah sebuah rumah di surgakelak. Lindungilah diriku dari Firaun dan diriku dari orang-orang zalim ini’ sampai napasterakhir pun terembus dalam senyuman penuh kebahagiaan.” “Surga adalah pelipur dan harapan bagi setiap hamba yangmendapati kezaliman.” “Benar. Dalam mimpi aku diperlihatkan dirinyamengenakan pakaian yang begitu indah seperti seorangpengantin. Aku melihat ke dalam pandangan matanya. Iatersenyum penuh sinar bagaikan kilauan mutiara. Ia samasekali seperti tidak merasakan sakit. Para malaikat puntidak henti-hentinya membacakan takbir saat dirinya lewat.Telah lewat Asiyah, seorang wanita ahli surga’. Begitulahseruan malaikat dengan suara lantang. Kemudian, malaikatmembawaku ke dalam kedudukan kedua yang juga penuhdengan pancaran cahaya terang.” “Siapakah yang engkau jumpai di sana, wahai Maryam?”tanya Merzangus. sana aku bertemu dengan Khadijah binti Khuwaylid. Dia adalah istri baginda Nabi di akhir zaman. Ia akan datang setelah Isa . Berita kedatangannya telah diserukan dalam kitab-kitab sebelumnya. Dia adalah Muhammad . Dan Khadijah Kubra adalah istri baginda nabi yang mulia ini.” Saat Maryam menuturkan kata-kata terakhir dari kisahini, nelayan saleh itu tiba-tiba terperanjat dan bangkit daritidurnya seraya berteriak, “Apa kata Anda, wahai Maryam?Adakah nabi setelah Isa ?” Mendengar pertanyaan ini, Nabi Isa  pun berkatadengan kedua mata yang berkaca-kaca. “Sungguh, semoga salam dan keselamatan tercurah bagiSang Nabi akhir zaman itu . Jika dalam doamu engkaumeminta bertemu denganku, demikian pula dalam doaku. Akumemohon agar dapat dipertemukan dengan nabi akhir zamanitu sehingga diriku dapat bersaksi mengenai kenabiannya danmengabdi pada ajaran agamanya. Dia adalah Ahmad . Dansungguh, diriku beriman dan sangat mencintainya meskibelum mengenalnya.” Maryam kembali melanjutkan kisahnya. “Dialah Khadijah Kubra, istri Nabi  yang ditunjukkansebagai salah satu ratu para wanita ahli surga yangdipertemukan denganku dalam mimpi.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurahkepada baginda Nabi akhir zaman yang belum lahir dan jugauntuk para sahabat dan ahli baitnya!” sepanjang usiaku, belum pernah diri inimelihat wanita yang lebih cantik daripada Khadijah saat dirinya lewat, para malaikat terheran-heran hingga pingsan. Saat dirinya lewat, diriku yang Allahakan limpahkan Ruhul Kuddus ke dalam kandunganku jugaberada dalam barisan yang menunggunya. Aku mencintainya,merindukannya, sehingga tercium semerbak wangi ibukuyang diriku tidak pernah mengenalnya. Tebersit dalam dirikukeinginan untuk berteriak memanggilnya ibu’....” Semua orang yang ikut mendengarkan cerita Maryammenangis seketika. Jika saat itu mereka menoleh ke arah lautanyang terdapat di bawah gubuk nelayan saleh itu, niscaya merekaakan mendapati ribuan ikan yang sedang terpaku mendengarkankisah tersebut. Bukan hanya ikan, melainkan juga kerang,cumi-cumi, dan semua jenis makhluk di lautan. Mereka ikutlarut dalam tangisan. Jerit Maryam memanggil Khadijah Kubradengan panggilan ibu’ telah menggetarkan seluruh jiwa. Jikasaja jerit dan tangisan Maryam berlanjut untuk beberapa lama,niscaya seluruh ikan di lautan akan terguncang, mabuk dalamcinta, sehingga terdampar ke pinggir lautan. Maryam masih terus melanjutkan kisahnya tentang parawanita ahli surga kepada nelayan saleh yang sedang sekarat. “Kemudian, dalam mimpi itu aku mendengar suaralantang dari ketinggian. Suara itu adalah seruan seorangmalaikat. Wahai seluruh malaikat, lindungilah penglihatankalian karena akan terpancar cahaya berkat kedatangan putriMuhammad al-Mustafa, Fatimah az-Zahra.” Mendengar kisah itu, nelayan saleh itu ikut berteriakhisteria sehingga semua orang dengan susah payah membantumenenangkan dirinya. tempat menjadi begitu terang karena pancarancahaya Fatimah az-Zahra. Semua malaikat tertundukdalam sujud, bertasbih kepada Tuhannya. Diriku juga tidaksadarkan diri bermandikan cahaya. Tiba-tiba, aku seolah-olahmenemukan diriku dalam sebuah cermin. Seketika itu pulaterlihat seorang wanita yang wajahnya persis dengan muda itu tersenyum manis seraya mengulurkantangannya ke arahku. Sungguh, antara diriku dan dirinyaibarat dua pembiasan, dua wujud simetris. Ia juga bertatap muka denganku, wajahnya memerah. Akusendiri merasa gemetar menyambut uluran tangannya. Saat iamengangguk untuk memberi salam, tiba-tiba aku perhatikanada dua anak kecil yang menyelinap di balik jubahnya. Padaleher kedua anak itu tergantung tulisan baik’ dari emas. Keduatulisan itu ibarat gantungan dua anting surga. diriku masih juga belum tahu siapa kedua anakyang sangat manis lagi menyenangkan ini. Keduanya masihbermain petak umpet di balik jubah sang ibu. Sesekali merekamenampakkan diri dan sesekali bersembunyi. Tak lamakemudian datang para malaikat menggelar permadani daribunga untuk kami. Mereka juga menyuguhkan minuman yangsejuk lagi menyegarkan dalam gelas yang terbuat dari intandengan nampan emas murni. Saat aku bertanya tentang ini,malaikat menjawab bahwa yang ada dalam gelas itu adalah airputih yang sejuk lagi menyegarkan dari danau Salsabil dalamsurga yang khusus diberikan bagi para hamba yang muda bernama Fatimah az-Zahra adalah seorangmulia. Sosok yang telah mencapai tempat kebaikan yang memberi bukan karena berlebih, melainkan kasih sayang. Mereka rela menanggung lapar demidapat memberi makan kepada fakir, yatim, dan orang-orangpapa. Dalam melakukan kebaikan ini, mereka juga sama sekalitidak mengharapkan ucapan terima kasih. Hanya Allah yangmenjadi tujuannya. Dialah Fatimah az-Zahra. Sungguh mujursekali diriku dapat bertemu dengannya. Kemudian, datang seorang malaikat memberikan kainpembersih yang terbuat dari sutra. Apa ini?’ tanyaku kepadamalaikat yang membawanya. Inilah pembersih yang khususdihadiahkan kepada para ahli surga yang telah membersihkanjiwanya. Karena dari golongan yang telah menyucikan diri,kalian layak mengenakan pakaian ini. Sementara itu, keduaputra Fatimah tampak mengenakan stelan berwarna hijau danmerah api. Saat bermain kejar-kejaran, anak yang mengenakanbaju merah terjatuh. Aku pun segera mengulurkan tanganuntuk membantunya berdiri. Saat itulah terdengar suaralantang, Semoga Allah juga berkenan mengulurkan tanganuntuk menolong putramu’. Setelah itu, aku terbangun. Inilahperjalananku bertemu dengan para wanita ahli surga di dalammimpiku.” “Semoga salam dan keselamatan dari Allah tercurah untukFatimah dan kedua putranya,” kata Merzangus. “Amin...,” ucap semua orang yang berada dalam ruangan. “Amin...,” ucap semua jenis ikan yang menghuni lautan. “Amin...,” ucap semua malaikat yang bersaf-saf mengelilingigubuk itu. Pada saat itu, nelayan saleh memohon syafaat dari parawanita ahli surga. Napas terakhir pun terembus. Saat Nabi Isa menuruni laut untuk menyucikan jasadkakek saleh itu, ia menyaksikan ikan-ikan sudah berjajar Serombongan ikan lumba-lumba telahmenanti untuk membawa jasad nelayan saleh itu ke tengahlautan. Pada saat itulah semua orang baru mengetahui kalaukakek itu adalah dari keturunan Yunus . Beberapa saat kemudian terlihat seseorang menggerakkanperahu untuk menjemput kedatangan jasad sang serombongan ikan itu menyerahkan jasad sang kakekuntuk diangkat ke atas perahu, dalam sekejap lautan berubahseperti keadaan semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Merzangus pun bertanya-tanya. “Siapa gerangan sosok yang menunggu kakek itu di tengah-tengah lautan? Mungkinkah ia seorang malaikat?” “Mungkin Nabi Khidir,” jawab Maryam. Maryam merasa malu dengan apa yang telah selalu merasa malu jika rahasianya terkuak. “Hari ini aku telah begitu banyak bicara. Entah apahikmahnya. Duhai Allah! Hamba mohon ampun ataskesalahan hamba yang terlalu banyak bicara,” ucap Maryamkemudian diam sampai esok hari. Untuk beberapa saat, Maryam duduk di samping laut. Iabertafakur dan berzikir kepada Allah. “Ya Kuddus, Ya Allah!” Merzangus lalu menggambar sebuah denah bujur sangkardi atas pasir dengan cangkang kerang. Pada sisi kanan atas denah berbentuk bujur sangkar itutertulis nama “Maryam” membaca tasbih Ya Rahiim, YaAllah!’ Pada sisi kiri atas denah tertulis nama “Asiyah” membacatasbih Ya Mukmin, Ya Allah’. sisi kanan bawah denah tertulis nama “Khadijah”membaca tasbih “Ya Shadik, Ya Allah’. Sementara itu, pada sisi kiri bawah tertulis nama “Fatimah”membaca tasbih Ya Nur, Ya Allah”. Demikianlah. Maryam adalah lambang kasih sayang, Asiyah lambang keyakinan-keamanan, Khadijah lambang kesetiaan, dan Fatimah lambang pancaran nur. Dalam gambar itu, nama Maryam dan Fatimah terdapatpada sisi yang sama. Seolah-olah mereka simetris, salingmelihat satu sama lain. Nama Maryam dan Fatimah jugamewujudkan dua sisi “timur-barat” sisi Kakbah. Dan tempatFatimah az-Zahra tepat di sisi Hajar Aswad. Sementara itu, Maryam dan Khadijah adalah dua ujung“utara-barat” yang menunjukkan Hijr Ismail. Saat itu Merzangus sedang membayangkan masa dirinya berada di tengah padang pasir bersama sang guru,Zahter. Ternyata, gambar denah yang baru saja dibuatnyamirip dengan gambar-gambar yang telah dibuat Zaher saatdirinya mengajak bermain melawan waktu. Merzanguskembali memandangi gambar yang baru saja dibuatnyadengan menambahkan masing-masing sisi dengan menaruhsatu cangkang kerang. Tak beberapa lama, ombak datangmenyapu semua nama wanita ahli surga itu bersama dengancangkang kerangnya. Merzangus merasakan kembali guyuran dari tengah lautan. Ternyata, air yang kembali telahmeninggalkan kerang mutiara sebagai ganti keempat namayang baru saja tersapu ombak. Merzangus heran dengan kejadian ini... Saat Merzangus ingin menunjukkan keempat kerangyang diantar ombak itu, ia melihat Maryam sedang khusyukberdoa. Merzangus pun malu. Ia kemudian melemparkankembali kerang-kerang itu ke tengah lautan. “Sungguh, engkau telah menunda-nunda waktuku denganmengajak bermain dengan batu yakut dan mutiara,” katanya. Merzangus pun menurunkan cadarnya seraya bangkitdengan bersandar pedangnya untuk kembali menuju kegubuk. -o0o- Dnau Jailah Hari berikutnya, Maryam, Isa , dan Merzangusmelanjutkan perjalanan dari Nasara menuju Jalilah. Merekajuga akan singgah ke suatu daerah bernama Gur untukberdakwah kepada para musair dan kaum Badui. Saat menuju ke sana, mereka harus menyeberangi danaumenggunakan perahu dengan tiga pasang pendayung. Begitusampai di pelabuhan, seorang tua terlihat berdesak-desakan ditengah kerumunan. “Saya mencari seorang mualim dari Nasara. Katanya, iaakan berkunjung ke daerah Gur pada hari-hari ini. Ramaidibicarakan bahwa dirinya tidak memiliki mata uang untukmembayar kendaraan yang akan ditumpanginya,” kata orangtua itu. “Saya dengar mualim itu selalu berbagi makanan denganpara fakir miskin. Ia menyalahkan para rahib di Baitul Maqdisyang meninggalkan umatnya demi memperkaya diri,” tambahorang tua itu. “Mualim tidak pernah bicara dengan nafsunya, wahaiKakek. Menurut yang saya ketahui, dia adalah utusan hanya menerangkan apa yang diperintahkan Tuhannya.” cukupkah syariat Musa bagi kita?” “Jika saja syariat Musa telah disimpangsiurkan, Allah akanmengutus seorang rasul untuk meluruskan kembali orang-orang yang tersesat dari jalan tauhid.” “Dari mana engkau tahu semua ini, wahai anak muda?” Mendapati pertanyaan itu, Nabi Isa diam sejenak serayatersenyum. Maryam yang sejak awal diam ikut memberikansalam dengan menganggukkan kepalanya seraya berkata,“Seorang mualim yang engkau maksud itu adalah Isa, saat ini berada di hadapanmu. Berita gembira akankelahirannya sebagai nabi sudah diberitahukan kepadakusejak sebelum kelahirannya. Dialah al-Masih yang mampubicara sejak dirinya lahir.” Orang tua itu langsung gemetar. “Wahai al-Masih putra Maryam. Aku memiliki saudarakembar di al-Quds bernama Ardesyur. Ia sudah tiga puluhdelapan tahun sakit kusta. Setiap Hari Raya Fisih, ia selaludatang ke kolam al-Hayat di halaman Baitul Maqdis untukmendapatkan berkah kesembuhan. Bahkan, ia rela membawaranjangnya untuk tidur di dekat kolam. Namun, sudah sekianpuluh tahun ia tidak dapat mendekati kolam tepat padawaktunya. Aku mendengar dirimu dapat menyembuhkanorang sakit. Aku mohon datanglah ke al-Quds untukmenyembuhkan saudaraku yang sudah sakit sepanjangusianya.” “Wahai sahabat tua! Pertolongan hanya datang dari sisiAllah. Isa al-Masih hanyalah seorang hamba dan penawar juga bukan datang darinya, melainkandari sisi Allah. Tolong jangan sampai tercampur aduk. Isaputra Maryam hanya dapat menunjukkan mukjizatnya dengan Allah. Dan mukjizat itu tidak lain untuk memperkuatkeimanan kita.” “Sungguh benar apa yang engkau katakan, wahai wanitamulia. Sekarang, mohon izinkan diri ini untuk ikut bersamadengan kalian ke Gur dan kemudian ke al-Quds.” “Baiklah,” kata Maryam. Orang tua itu pun akhirnya ikut ke naik ke dalam juga menempuh jarak yang jauh, tiba-tiba ombaksangat besar datang menerjang. Saat itu, Isa al-Masih sedangtertidur, dengan kepala terletak di pangkuan Maryam. Saatterbangun karena teriakan panik orang-orang yang berada diatas perahu, Isa  menyaksikan gelombang yang semakinbesar dan cuaca gelap siap menerjang perahu. “Wahai mualim, tolong selamatkan kami. Akan hancurkami sebentar lagi!” teriak orang tua itu. Isa al-Masih mengangkat tangan seraya berdoa kepadaAllah “Wahai Allah! Tuhan langit dan bumi, pemilik angin danlautan, mohon rahmatilah hamba-hamba-Mu ini!” “Amin, amin, amin,” ucap Maryam berulang-ulang. Tak lama kemudian, air danau itu menjadi besar yang baru saja mengamuk kini telah hamparan danau berubah menjadi begitu tenangmenyejukkan. Semua orang pun dibuat heran. Penumpanglain yang berada di atas perahu, termasuk para pendayung,berbisik satu sama lain, “Siapa sebenarnya anak muda ini?Mengapa ombak dan angin taat kepadanya?” Begitu mendarat di kota Gur, yang diperbincangkanpara penumpang dan pendayung perahu telah tersebar kemana-mana. Bahkan, cerita tentang dirinya telah terlebih sampai ke semua telinga penduduk Badui. Lebih dariitu, masyarakat Gur telah berkumpul di alun-alun untukmenunggu kedatangan sang Mualim. Salah satu dari orang-orang yang ikut menunggu tidaklain mata-mata yang disebar para rahib Baitul Maqdis. Sesampai di tempat yang dituju, Nabi Isa akhirnya bicaradi depan umatnya. “Semoga salam tercurah untuk kalian wahai para musair!Apa yang ramai dibicarakan telah sampai juga ke ingin menyampaikan bahwa air di danau itu tidak taatkepadaku, melainkan taat kepada Zat yang kita juga taatkepada-Nya. Dialah Allah. Sepintar apa pun seorang, ia tidakakan mungkin bisa mengabdi kepada dua tuan. Jika salah satutuan berbelas kasih, yang lainnya akan membencimu. Jika satuorang memberi perintah kepadamu, sementara yang lainnyatidak menginginkannya, engkau pun tidak akan mungkinkeluar dari keruwetan yang para musair! Aku ingin menyampaikan kepadakalian bahwa tidak mungkin kalian mengabdi kepada Allah bersamaan dengan mengabdi kepada dunia. Dunia dipenuhi kebohongan, ketamakan, kepedihan,dan penderitaan. Tidak ada kenyamanan di dunia. Yang adahanya kezaliman dan kekalahan. Oleh karena itu, taatlahkepada Allah dan pandanglah dunia sebagai hal yang cara ini, engkau akan mendapatkan ketenangan kalian juga akan mendapatkan ketenteraman. Karena itu, Aku akan mengatakan hal yang benar kepadakalian. Diriku adalah seorang hamba yang setia sehingga akujuga mengajak kalian untuk berada dalam kesetiaan. Sungguh,betapa menggembirakan mereka yang menangis di duniaini karena mereka akan mencapai pada posisi betapa menggembirakan mereka para fakir miskinyang belum merasakan kesenangannya dunia. Mereka akanmerasakan kenikmatan abadi di akhirat yang telah dititahkanAllah. Mereka akan makan dan minum dari jamuan malaikat juga akan menjadi pelayan bagi mereka. Engkausekalian adalah para musair, sama halnya dengan orang-orangyang pergi menunaikan ibadah haji. Mungkinkah seorangmusair akan mengurusi hal-hal duniawi seperti sawah danladangnya, istana dan rumah megahnya serta bersenang-senang? Yakinlah, semua itu tidak! Mereka hanya akanmembawa bekal sebatas yang dibutuhkan dan ringan dibawaselama dalam perjalanan. Jadi, janganlah kalian membebanidiri dengan beban keinginan duniawi, dengan harta, pangkat,dan jabatan. Sungguh, kesadaran menghamba dan bertakwaadalah hal yang sangat berguna dan begitu berharga. Olehkarena itu, wahai para musair, beban yang hakiki untuk kitapikul selama di dunia yang fana ini tidak lain adalah berimandan beribadah kepada Allah.” Ungkapan yang disampaikan al-Masih ini berembusmenenangkan seluruh jiwa para musair serta kaum fakirmiskin. Sementara itu, para wanita berebut mendekati Maryamuntuk dapat mencium tangan dan memohon doa khotbah selesai, mereka bersimpuh di atas tanah dandengan berucap dengan seizin Allah’. Nabi Isa lalu berdoauntuk mereka. Isa lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kakibersama orang tua yang ditemui di pelabuhan, sementaraMaryam dan Merzangus menaiki kuda yang mereka sewa. “Kakek, maukah engkau aku ceritakan kisah tentang parapenghuni surga yang dirantai namun membuat semua orangheran kepadanya?” tanya Maryam. “Apa?” kata orang tua itu. “Adakah penghuni surga yangdiikat rantai?” Maryam mulai bercerita dengan kata-katanya yanglembut. “Tuhan kita adalah Zat Yang Mahatahu. Dia adalah juga Zat Yang Mahalembut, Mahatahu segala hal yangtersembunyi. Dengan limpahan anugerah dan karunia-Nya,Dia mewajibkan kita untuk menyembah, beribadah, kepada-Nya. Ibadah adalah panjatan rasa syukur seorang hamba. Yangterjadi, manusia sering mempermudah meninggalkan ibadah,meski diwajibkan bagi mereka. Lalu, bagaimana jika tidakdiwajibkan? Apa jadinya jika umat manusia menangguhkanibadah hingga waktu tua? Allah seolah-olah telah mengikatdiri kita dengan ibadah. Dia sangat cinta kepada para hamba-Nya yang terikat dengan rantai ibadah ini. Semoga Allahberkenan menjadikan kita sebagai hamba yang terikat denganiman dan cinta akan ibadah. Sungguh, betapa indah tali rantaiitu!” Mereka berdua tersenyum dan serempak mengucapkan,“Amin.” -o0o- Di Pnggr Sbuah olm Perjalanan Maryam bersama Isa, Merzangus, dan darwistua bernama Berdesyur telah hampir memasuki al-Qudssetelah melalui kota Gur. Kendaraan mereka hanya seekorkeledai. Mereka akan tinggal selama satu pekan sampai tibaHari Raya Fisih dan Sabat. Sambil mengucapkan salam kepada warga, merekaberjalan menuju pinggir sebuah kolam bernama Ab-i Hayatyang terletak di depan pintu Baitul Maqdis yang menghadaparah alun-alun. Benar seperti yang dikatakan Berdesyur. Saat itu, orang-orang yang menderita sakit telah berduyun-duyun memadatipinggir kolam Ab-i Hayat disertai keluarga dan kebanyakan cacat, buta, kusta, mandul, dan sebagianlagi mengalami gangguan jiwa. Sudah berhari-hari merekaberkumpul mengitari pinggiran kolam. Mereka bahkan relamembawa tempat tidur dan tikar demi dapat menunggukedatangan Hari Raya Fisih, sebuah hari untuk mengenangperistiwa pelarian Bani Israil dari perbudakan di Mesir. keyakinan pada masa itu, malaikat akan turunke kolam pada pagi Hari Raya. Siapa saja yang paling awalmencebur ke dalam kolam, ia akan mendapatkan penawardari segala macam penyakit dan segala permintaannyadikabulkan. Bahkan, ada orang yang kemudian menuturkanbahwa malaikat itu adalah putra Allah’. Padahal, Allah sendiriEsa, tak berputra dan tidak pula diputrakan. Keadaan inilahyang telah membuat Nabi Isa  menangis. Keadaan ini tidak lain timbul akibat kebodohan dankemiskinan sehingga manusia kerap berputus asa. Merekapun terjerumus ke dalam kesalahan. Selain itu, sikap pararahib sebagai pembimbing umat yang memandang merekadengan jijik dan merendahkan semakin memperparahkeadaan. Para rahib itu telah teperdaya. Mereka terus-menerus mengumpulkan harta benda dan ikut terjun ke dalampolitik Romawi. Mereka meninggalkan kewajiban berdakwahkepada umat dan malah sibuk dengan urusan dunia. Keadaanseperti inilah yang membuat umat sangat butuh seorangpenyelamat. Dalam kerumunan orang-orang yang terbaring dipinggir kolam, Berdesyur memerhatikan setiap wajah untukmenemukan saudara kembarnya yang bernama dia menemukan seseorang yang sudah lanjut kurus, tinggal kulit dan tulang. Dalam keadaanseperti ini, tidak mungkin dirinya ikut berdesak-desakan kekolam. Dengan penuh kemarahan dan perasaan pedih, orangtua itu mulai berkata-kata... “Sudah 38 tahun aku di sini menantikan kedatangannyasetiap pagi pada Hari Raya Fisih. Namun, diriku hidupsebatang kara sehingga tidak ada seorang pun yang menuntun sampai ke pinggir kolam. Sudah 38tahun lebih aku menunggu. Namun, aku tidak juga bisa kesana, meski sekadar mendekat ke pinggir kolam. Ah... tidakada seorang pun yang sudi membantuku dan diriku tidak pulamemiliki tenaga. Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, dankemudian mengembuskan napas terakhir bersama denganpenderitaanku ini di sini. Dan mungkin, pada saat kematianku,tidak akan ada seorang pun yang peduli dengan jasadku.” Maryam sangat sedih melihat keadaan orang tua itu. Iasegera memberikan secangkir air segar. Ia ulurkan pula separuhroti kering untuk sedikit memberikan tenaga. Ardesyurmemerhatikan hal itu dengan penuh perasaan utang budi. “Wahai saudaraku, kini harapanmu untuk mendapatkankesembuhan telah berada di sampingmu. Dia adalah hambaAllah dan juga Rasul-Nya, Isa al-Masih. Insyaallah dia akanberdoa untuk kesembuhanmu sehingga engkau tidak lagi butuhuntuk masuk ke dalam kolam itu. Dengan izin Allah, engkaupasti akan mendapatkan kesembuhan,” kata Berdesyur. Nabi Isa terlihat sangat sedih menyaksikan keadaan orang-orang yang tertimpa musibah sakit itu. Sudah tiga kali ia menangis di dekat kolam. -o0o- “Wahai umat manusia!” seru Nabi Isa. “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikuAlkitab Injil dan menjadikan aku seorang nabi. Dia pula yangmenjadikanku seorang yang diberkati. Dia memerintahkankusalat dan zakat selama aku hidup serta berbakti kepadaibuku. Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagicelaka. Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari akudibangkitkan. Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataanyang benar, yang mereka ragukan kebenarannya. Tidak patutbagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telahmenetapkan sesuatu maka Dia hanya berkata kepadanya,Jadilah’! Maka jadilah sesuatu itu. Sesungguhnya Allah ituTuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Ini adalah jalanyang lurus.” Kemudian, sambil menyebut dengan seizin Allah’ serayaberdoa, dengan izin Allah pula semua orang sembuhkan darisakitnya dalam seketika. “Sekarang, silakan Anda kembali ke rumah. Bawa ranjangdan tikarnya!” kata Nabi Isa. Itu adalah hari Sabat. Hari dilarang melakukan apa-apa. Mengumpulkan ranjang dan tikar untuk dibawa pulang kerumah melanggar adab di hari Sabat. Meski mereka merasatakut karena melanggar adat, kegembiraan telah sembuh darisakit yang selama ini mereka derita telah memberanikan dirimereka mengikuti anjuran al-Masih. Sementara itu, para rahib di Baitul Maqdis menganggapkejadian ini sebagai bentuk penentangan secara terang-terangan yang telah direncanakan sebelumnya. “Penentang ini telah sengaja melakukan semuanya demimenghina adat hari Sabat. Dia telah menghina adat kita. Secarasengaja dia menyembuhkan orang sakit dan menghidupkanorang mati di Hari Raya Sabat agar semua orang menaruhhormat kepadanya dan meninggalkan adat kita. Orang iniadalah ahli sihir, pembangkang yang akan menginjak-injak dan budaya kita. Jika dia masih melakukan hal yangseperti ini, budaya dan adat kita yang telah berlangsung selamaberabad-abad akan hilang ditelan bumi.” Sifat iri telah membuat Mosye menggigit jarinya karenatak kuasa menahan marah. Ia mengingkari hakikat yangbenar-benar telah nyata di depan mata. Sungguh, betapa menyedihkan keadaannya! -o0o- Orang-orang pun kembali ke rumah masing-masing… -o0o- Marym dn Buah Tn Merzangus baru saja kembali. Tugasnya sebagai bidantelah selesai. Tuan rumah yang dikunjunginya memberiimbalan sepiring penuh buah tin segar. Meski Merzangustelah menolak imbalan itu karena keadaan mereka yangmiskin, sang tuan rumah tetap memaksanya. “Mohon haturkan buah tin segar ini untuk Maryam. Kamiadalah keluarga yang sama sekali tidak memiliki Anda adalah orang terhormat rendah hati yang tidakakan mungkin menolak pemberian dengan setulus hati.” Dengan alasan inilah Merzangus menerima sepiringpenuh buah tin segar itu dengan senang hati. Buah tin segar itu berwarna hijau keunguan. Sebagiansudah begitu matang sampai pecah dan meleleh cairanmanisnya. Merzangus bertahmid kepada Allah yang telahmelimpahkan nikmat yang begitu segar, harum seperti misik,dan manis seperti madu. Maryam sangat menyukai buah tin, dan juga dua buah mulia yang telah dilimpahkan Allah sebagaianugerah kepada bangsa Palestina. sering berkata, “Manis madu buah tin ibaratperkataan seorang ahli hikmah. Jauh sebelum diriku menjadiseorang ibu, Allah juga telah menganugerahkan buah tinsehingga mihrab tempat diriku tumbuh besar bermandikanaroma wangi kesegaran madunya. Buah tin dan zaitunadalah kunci rahasia Palestina. Segala puji dan syukur hambapanjatkan kepada Allah, Tuhannya tin dan zaitun!” Berbinar-binar wajah Maryam saat melihat kedatanganMerzangus dengan sepiring penuh buah tin segar. Ia segerakumpulkan anak-anak yatim yang sedang menunggu di depanpintu. Gembira anak-anak yatim itu melahap buah tin Maryam semakin bahagia menyaksikan kegembiraananak-anak yatim itu. Ia belai rambut mereka. Maryam lalupergi menimba air dari sumur yang berada di dekat gubuknyaseraya mengajak anak-anak itu membasuh wajah itu, Maryam mengizinkan mereka untuk beberapalama bermain-main di sekitar sumur. Maryam sendiri duduk di bawah tenda yang tidak jauhdari tempat anak-anak yatim bermain. “Merzangus...!” panggil Maryam. “Tahukah kamu tentangkisah seorang penjual buah tin yang diceritakan Nabi Isa?” “Sebentar, biar saya panggil anak-anak kemari agar ikutmendengarkan cerita itu.” “Baiklah kalau begitu. Sekalian kita duduk-dudukmenunggu datang waktu salat.” Anak-anak yatim sudah berkumpul, duduk mengelilingiMaryam dengan suasana penuh kegembiraan. “Anak-anak!” kata Maryam mengawali cerita. “Pada suatu masa ada sebuah pasar yang teramat anehdibanding pasar-pasar pada umumnya. Ada seorang petani baik yang telah memetik buah tin yang segar darikebunnya untuk kemudian dijual di pasar itu. Namun, orang-orang yang datang untuk berbelanja di pasar itu sama sekalitidak melirik buah-buah tin yang segar dan baik itu. Merekajustru membeli buah tin mentah yang dipetik dengan melihat antusias para pembeli yang seperti itu, parapedagang jahat tidak ketinggalan untuk semakin berbuatjahat agar dapat menjadi kaya dengan cepat. Mereka memetiksemua buah tin yang masih mentah sebanyak-banyaknyauntuk segera dijual ke pasar. Dan ternyata, para pedagangitu mampu menjual buah tin dagangannya sesuai denganharapan. Para pembeli bahkan beramai-ramai memborongbuah tin itu dengan koin emas. Sementara itu, dagangan buahtin segar lagi baik milik seorang petani berhati baik samasekali tidak diminati. Sampai kemudian, semua orang ramai-ramai menderita sakit perut. Lagi, ada seorang tukang cuci yang mencuci pakaian milikpara pelanggannya dengan menggunakan air bersih dari sumurdi rumahnya. Pakaian para pelanggannya pun bersih orang ini justru tidak pernah mencuci pakaiannyasendiri. Tubuhnya bahkan dipenuhi kutu dan gatal karenapakaian yang dikenakannya begitu kotor.” Anak-anak yatim yang tadinya mendengarkan ceritadengan saksama kini tertawa sepuas-puasnya. “Sekarang wahai anak-anakku! Kalian pantas tertawamenyaksikan keadaan para orang tua yang seperti ini. Sungguhsayang, orang-orang yang sudah tua pun keadaannya dipenuhiironi. Ketahuilah, penjual buah tin itu adalah gambaranorang-orang dengan amal perbuatan mereka pedagang yang taat beribadah kepada Allah akan buah tin yang segar lagi baik, sementara para setanakan menipu manusia dengan berselimut di balik pun memilih berbuat dosa yang terasa manisterbungkus kebohongan. Padahal, dosa itu sesungguhnyaseperti buah tin yang pahit lagi menyakitkan. Sayang, manusiakebanyakan masih juga berpaling seraya memburu bujukansetan.” “Baiklah,” kata seoarang anak yatim yang pintar. “Kalauseorang yang tidak mencuci pakaiannya itu menggambarkanapa wahai Ibunda Maryam? Ataukah dia adalah gambaranseorang Mosye yang mengumpulkan dan menyiksa kamikarena telah mengemis di pasar?” Anak-anak yatim yang lain menyambut pertanyaan itudengan penuh tawa. “Ya benar. Tentu saja ia adalah seorang Mosye.” “Anak-anakku! Keadaan itu menggambarkan seorangyang berdakwah kepada orang lain namun dirinya sendirimengingkari apa yang dikatakannya. Orang-orang yangmengikuti apa yang dikatakannya benar-benar telah mendapatihakikat dan kebenaran sehingga menjadi bersih. Sayang, orangitu tidak mengikuti perkataannya sendiri, seorang munaikbermuka dua. Meski kata-katanya dapat membersihkan yanglain, ia tidak berarti sama sekali bagi dirinya sendiri.” Merzangus kemudian berseru... “Mari anak-anakku sekalian, sekarang sudah tiba waktusalat!” Hari bahkan sudah petang. Cahaya matahari telahberwarna jingga di seberang ufuk sana... -o0o- Sejti Sng Putra Allah  mengutus Nabi Isa dan mendukungnya dengandalil-dalil serta mukjizat yang luar biasa. Ini terjadi karenakaumnya sangat keras kepala dan sombong. Bahkan, parapemimpin agama mereka ikut dalam barisan perusak danpembuat kejahatan. Hidayah dan nur yang telah dianugerahkanhilang lantaran kesombongan dan perbuatan zalim yangmereka lakukan. Allah juga menjadikan Maryam sebagai pendamping danpendukung putranya, yang juga sekaligus nabinya. Hidupnyayang pendek penuh dengan kesulitan-kesulitan yang wanita yang dipandang sebagai al-azizah atau wanitamulia dan terhormat yang telah menghadapi semua ujiandengan penuh kesabaran sepanjang hidupnya. Maryam adalah mukjizat agung yang telah dianugerahkanoleh Allah kepada Nabi Isa yang bersinar begitu adalah tamsil dari cahaya Ilahi. Lembut dan terang yangsenantiasa menjadi penopang, dinding tempat bersandar,serta selimut kehidupan bagi Isa  dalam menunaikandakwahnya. umat Nabi Isa adalah orang-orang yang sangatsombong. Begitu banyak mukjizat yang dimiliki Nabi Isa dantidak pernah diberikan kepada nabi-nabi yang lain tak mampumeyakinkan dan meluruskan hati mereka. Pikiran dan hati para penduduk al-Quds tertutup rapatoleh dinding-dinding keingkaran yang begitu tebal sehinggamukjizat agung yang tampak di depan mata tidak diterimasebagai dalil oleh mereka, terutama soal kelahirannya yangtanpa seorang ayah. Padahal, mereka telah beriman kepadaNabi Adam dan Hawa yang tercipta tanpa seorang ayahdan ibu. Saat ini terjadi pada diri Nabi Isa, mereka justrumenyemburkan api itnah yang luar biasa. Salah satu hal yang membuat Allah murka kepada merekaadalah itnah kepada Maryam dengan tuduhan yang samasekali tidak terpuji. Kesalahan besar lainnya adalah membunuhNabi Zakaria dan Nabi Yahya. Padahal, keduanya adalahhamba dan utusan Allah yang diutus dari kalangan merekasendiri; kerabat dan keluarga mereka yang berbicara dalambahasa yang sama. Mereka dengan tega membunuhnya. Sungguh, hati mereka telah tertutup dengan tiraikeingkaran. Mukjizat Nabi Isa yang mampu mengubah burung darisegumpal tanah dan kemudian terbang tidak juga membuathati mereka luluh. Sebaliknya, mereka ingkar dan berkilahdengan berbagai sanggahan. “Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tandamukjizat dari Tuhanmu...” Kekuatan untuk menghidupkan dengan tiupan telahAllah turunkan kepada Nabi Isa dengan perantaraanMalaikat Jibril. Malaikat Jibril juga telah meniupkan kekuatan kepada Maryam sehingga dia menjadi seorangibu yang mengandung Kalamullah, memikul tugas menjagaKalamullah. Demikianlah takdir seorang Maryam. Ia mengandung,memikul, merawat, dan mencurahkan kasih sayangnya... Dia adalah pengemban amanah. Sungguh, apa yang diterima Maryam dan Isa  dari BaniIsrail adalah hal yang sama sekali tidak bisa diterima dan putranya sangat bertakwa menunaikan syariatMusa, berbicara dengan bahasa yang sama, dan berasal daribangsa mereka sendiri. Apalagi, Bani Israil bukanlah bangsayang belum pernah mengenal Tuhan. Kitab yang menjadipanduan dan dibaca sehari-hari telah memberitakan soalkedatangannya. Sayang, semua ini mereka tolak terang-terangan. Mereka memang telah menutup rapat-rapat hatidan jiwa dari menerima hakikat kebenaran. “Aku diutus untuk membenarkan kitab Taurat yang telahditurunkan sebelumku dan untuk menghalalkan beberapa halyang sebelumnya diharamkan untuk kalian. Aku membawamukjizat. Karena itu, takutlah kepada Allah dan taatlahkepadaku,” kata Isa dalam setiap menyampaikan dakwah. Bani Israil telah diharamkan memakan beberapa makanankarena perbuatan mereka yang sudah keterlaluan. Merekadilarang memakan hewan berkuku dan juga lemak dalamhewan ternak, seperti kambing dan sapi. “Semua ini adalah hukuman bagi mereka atas kezalimanyang telah diperbuatnya.” Iri dan dengkilah yang telah melandasi keingkaranmereka... harus Zakaria dan bukan aku?” begitulahpernyataan yang diungkapkan di antara para rahib. Pertanyaan-pertanyaan bernada iri dan kesombonganselalu berembus dari mulut dan hati mereka. “Mengapa Maryam dapat melihat malaikat sementara akutidak?” “Mengapa Isa yang mampu menghidupkan orang yangsudah mati, dan bukan aku?” Berpegang teguh pada adat yang mereka jadikan sebagaiagama adalah hal yang sejalan dengan keinginan hati itu akan semakin memberi kekuatan kepada para rahibuntuk mendapatkan harta dan juga otoritas politik. Merekamenyatakan diri sebagai pembimbing umat meski sebenarnyasebagai perusak. Ketika Isa berseru, “Allah adalah sesembahanku dan jugasesembahan kalian. Oleh karena itu, menghambalah kepada-Nya karena inilah jalan yang benar bagi kalian!”, mereka punmenentang seraya melakukan penyerangan. Suatu waktu, Nabi Isa dan Maryam menyadari sebuahrencana pembunuhan atas diri mereka. “Maka ketika Isa merasakan keingkaran mereka BaniIsrail, dia berkata Siapa yang akan membantuku menegakkanagama Allah?’ Para hawariun menjawab, Kamilah penolongagama Allah. Kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah,bahwa kami adalah orang-orang muslim.” Maryam sangat mengasihi para hawariun. Sampai-sampai,pakaian yang mereka kenakan adalah hasil pintalan Maryamatau kaum wanita yang setia jadi pembantunya. Maryam jugamemanggil mereka dengan sebutan “anakku”. hawari yang Alquran telah bersaksi untuk merekaadalah Dua nelayan bersaudara bernama Petrus dan Andreas... Seorang ahli pajak bernama Matta... Kedua putra Zebedi bernama Yuhanna dan Yakub... Taddeus... Yahuda Toma.... Bartholomeus... Philiphus.. Yakub putra Alfeus... Gayyur Simun... Yahuda Iskariot pembangkang Para hawari ini telah berkata, “Kami beriman kepada apayang telah diturunkan Tuhan, kini catatlah kami ke dalamorang-orang yang bersaksi!” Mereka selalu menyertai Nabi Isa ke mana pun setiap perkataannya yang penuh dengan ajaranhikmah. Setelah kepergian Nabi Isa, mereka menyebar keseluruh penjuru dunia untuk mendakwahkan karena kezaliman dan tekanan yang selalu dilancarkanpara penguasa zalim, sebagian dari mereka telah wafatdengan syahid, sementara sebagian lagi dimasukkan ke dalampenjara. Semoga Allah menjadi pembela perjalanan yang ditempuhmereka... -o0o- Sepanjang hidup, Nabi Isa telah menjauhkan diri daripolitik. Isa yang tidak pernah tunduk kecuali kepada Allahjuga mau tidak mau dianggap sebagai pemeran politik atausosok yang dituduh para penguasa telah menggerakkanpenentangan. Karena itu, setiap penguasa merasa ajarantauhid yang didakwahkan Nabi Isa dianggap ancaman bagikekuasaannya. Penghormatan dan kecintaan penduduk kepada ibu danputranya itu kian hari dirasa makin mengguncang posisi politikpara penguasa. Padahal, apa yang diperjuangkan keduanyabukan pangkat dan dunia sebagaimana yang diperjuangkanpara penguasa itu. Ya, saat itu tata kehidupan Bani Israil dalam kondisi kacau kemelut. Ini disebabkan agama yang telah dijadikan alat untuk mendapatkan harta dan pangkat dunia. Saat para pemuka agama membicarakan agama, yangmereka katakan sama sekali kering dari ajaran dan hakikatsuci. Yang ada, agama yang telah diperbudak untuk agama akhirnya menimbulkan berbagai kezaliman,kerusakan moral. Singkatnya, segala segi kehidupan telahhancur dibuatnya. Tak heran jika dikatakan bahwa Ruh telah meninggalkanal-Quds’ sebelum Isa  lahir dari rahim Maryam. Itulah salahsatu hikmah dari sebutan Ruhullah’ kepada Nabi Isa, yaitupenawar dahaga akan ruh bagi kota al-Quds yang kehidupannyatelah begitu materialistis dan dipenuhi hasrat duniawi. demikian, para penguasa selalu berlaku zalimterhadap Maryam. Maryam tidak pernah mengunjungi raja,tidak pula mendatangi istananya. Namun, setiap raja selalumembuntutinya. Terhadap aksi seperti itu, Maryam dan Isa telah berkatakepada umatnya, “Sebagaimana hikmah telah diserahkan olehmereka kepada kalian, serahkan pula dunia kepada mereka.” Sayang, kata-kata itu telah dimaknai dengan Hak Tuhanadalah untuk Tuhan, sementara hak Kaisar untuk Kaisar’.Ini membuat politik kezaliman dilancarkan dalam masaberkepanjangan. Padahal, sebagaimana pada kisah-kisah yangtelah kita coba ceritakan sebelumnya, Sang Ibu dan Putranyatidak pernah mengajarkan kezaliman. Kesabaran, ketabahan,dan kasih sayang justru dihadiahi perlakuan keji dari parapenguasa. -o0o- Marym dn Seeor Kijng Maryam sangat cinta pada bunga-bungaan, pada buahzaitun dan tin, pada keledai tunggangan milik Yusuf sangtukang kayu, pada pohon-pohon kurma, pada kupu-kupu,pada burung-burung, pada cicak, pada ikan.... Maryam sangat cinta dengan segala ciptaan Allah. Suatu hari, saat Isa sedang tidur di rumah, tiba-tiba datangseekor kijang mendekati rumah Maryam. Maryam tidak inginmembuat putranya terbangun dan tidak ingin pula kijang itulari menghindar. Ia hanya diam berdiri memandangi kijang itudari jendela. Seketika itu pula Maryam merasa mengenal kijang yang pernah menemani hari-harinya di Betlehemyang penuh kepedihan saat sang putra dilahirkan. Saat itu,kedatangan kijang yang juga sedang menyusui bayinya telahmenjadi hiburan dan teman bagi Maryam yang sedangmengasingkan diri selama empat puluh hari setelah ibu yang juga saling menyusui dan memandangi satusama lain. Kijang itu ternyata tidak takut dengan ajak anaknya mendekati Maryam dan Isa yang masih kijang itu meminum air dari tangan Maryam. kijang yang datang ini... Atau mungkin anak kijang itu yang kini telah menjadibesar? Dengan penuh tanya, Maryam terus memandangi kijangyang datang mendekati rumahnya itu. Ternyata, kijang itu menangis dan meneteskan air mata. Penuh kedua mata kijang dengan linangan air mata. Mengapa ia menangis? “Ya, Allah!” kata Maryam. “Jangan sampai terjadi sesuatu dengan anaknya!” Kemudian Maryam memerhatikan wajah anaknya yangsedang tertidur. Lelap tidurnya karena begitu lelah berjalandan bahkan berlari ke mana-mana untuk menunaikan tugasdakwah dari Allah sebagai nabi. Seorang yang hatinya setiapkali terasa remuk akibat kebengisan sebagian besar umatmanusia. Seorang nabi yang sama sekali tidak memiliki hartadunia apa-apa selain sehelai baju yang dikenakannya. Denganpenuh perhatian, Maryam terus memandangi wajah putranya. Jika saja Allah tidak berkenan mengaruniai kesabaran untuk berdakwah di jalan-Nya, baik Maryam maupun putranya tidak akan tahan dengan berat ujian kehidupan. Maryam terus memandang wajah putranya hinggameneteskan air mata dan mulai membasahi kaki putranya. Bagaikan mutiara tetes air mata Maryam terjatuh darikedua matanya. ditimba dari kedalaman sumur tempat Nabi Yusufdilemparkan. Laksana kobaran api cinta yang berubah menjadi tetesair mata untuk menyirami unggun api tempat Nabi Ibrahimdibakar. Isa al-Masih pun terbangun akibat tetesan air mata yangmembasahi kakinya. Ia segera bangkit sambil berucap salamhormat kepada ibunya. Isa  melihat seekor kijang yang berjalan mendekatirumahnya. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman memahamibahasa burung-burung. Demikian pula dengan Nabi yang begitu bersih telah memberikan pemahamandengan cepat bahwa kijang itu sedang menangis untukanaknya, sebagaimana ibu yang sedang menangis karenanya. Maryam bersama putranya, semoga rahmat Allah tercurahbagi keduanya, segera mengikuti sang kijang. Ternyata, anak kijang yang masih kecil itu telah matitergeletak di dalam dinding sebuah gua karena dilukai parapemburu. Bukankah seekor kijang juga yang telah memberimakan kepada Nabi Ibrahim saat ia ditinggalkan di dindingsebuah gua? Maryam kembali memandangi wajah putranya denganlinangan air mata kasih sayang seorang ibu. Dalam catatan kitab-kitab terdahulu diriwayatkan bahwaIsa al-Masih dapat menghidupkan kembali anak kijang yangtelah mati itu dengan izin Allah. Demikianlah, orang-orang yang berlari menghindar dariraja dan orang-orang kaya akan mencatat kenangan merekatentang seekor kijang yang merana... -o0o- Marym dn Kam isin “Kita adalah makhluk teramat lemah, wahai saudara-saudaraku,” kata Maryam terhadap kaum perempuan yangmendatangi rumahnya. Padahal, kebanyakan orang yangbersandar di pintu rumahnya adalah dari kalangan fakir,yatim, atau kaum papa lainnya. Oleh karena itu, kelemahankodrat manusia tidak diperlukan sebagai pengecualian. Sebab,mereka memang kaum papa dan dipandang lemah oleh orang-orang kaya dan pengusaha. “Di mana pun kalian berada, takutlah senantiasa kepadaAllah. Setiap apa yang kalian makan, meski sesuap, harus darirezeki yang halal. Jadikanlah masjid-masjid sebagai orang yang mendukung rakyat yang lemah dan bukanorang yang memiliki kekuasaan di dunia. Ajaklah nafsumuuntuk menangis, hatimu untuk berzikir, dan badanmuuntuk terbiasa bersabar. Janganlah engkau menjadi orangyang merisaukan rezekimu di hari esok,” demikian tambahMaryam. Sayang, bukan hari esok, untuk sekarang pun mereka tidakmemiliki apa-apa dalam genggamannya. Dalam pandanganorang-orang yang butuh sesuap nasi ini, “hari esok” adalah yang amat panjang. Mereka sangat berharap dapatselamat melewatkan detik-demi detik yang sedang dialami. Lalu, mengapa Maryam masih juga berpesan tentangkesabaran? Dengan penuh kasih sayang, Maryam pun menerangkankepada kaum perempuan. “Suatu hari, seorang yang teramat fakir hidup di kotaal-Quds. Saking papanya, ia bahkan tidak memiliki rumahagar dapat berbaring saat tidur. Ia pun akhirnya tidak pernahmeninggalkan masjid. Kehidupan sehari-harinya dicukupidari pemberian sedekah para jamaah. Pada suatu hari, ketikaorang ini mengambilkan tongkat Nabi Uzair yang terjatuh,ia mendapatkan doa mustajab dari sang nabi. “SemogaAllah berkenan memberi sesuai dengan apa yang ada dalamhatimu.” Orang fakir itu pun berkata, “Dalam hatiku terdapatkeinginan untuk memiliki dua ekor kambing yangmenghasilkan susu yang banyak, wahai Nabi!” Sang nabi lalu memandangi wajah orang itu seolah-olahbertanya apakah tidak ada hal lain yang engkau minta?’ Meski tidak seberapa, para malaikat berkata, “Sayangsekali. Pedih rasanya mendengar permintaan itu.” Nabi Uzair pun heran. “Apa yang membuat berat permintaan itu?” pikir NabiUzair. “Dua ekor kambing bukan kekayaan yang dilarang danjuga perlu dirisaukan, bahkan ini adalah sebuah kebutuhan?” Sementera itu, dalam waktu yang cukup singkat, keduaekor kambing itu telah beranak pinak menjadi empat, delapan,tiga puluh, empat puluh, sampai-sampai dalam beberapa lamajumlahnya telah menjadi seribu ekor. Saking sibuk mengurusiternak, tidak ada waktu lagi untuk pergi ke masjid. Bahkan, keluar dari kota al-Quds untuk menetap di dulu biasa menunaikan salat secara berjamaah, kinihanya bisa seminggu sekali. Beberapa lama kemudian, iabahkan sama sekali tidak bisa berangkat ke masjid. Pekerjaandan kekayaannya telah membuatnya terlena. Beberapa lama kemudian, Nabi Uzair bertanya tentangkeadaan orang tersebut. Setelah mendapatkan jawaban, NabiUzair baru menyadari mengapa waktu itu para malaikatmenyayangkan permintaan tersebut. “Jika saja ia tetap tinggal di masjid dengan kehidupan yangsangat sederhana dari sedekah jemaah namun imannya tetapteguh....” Maryam melanjutkan perkataannya di hadapan para ibuyang telah berkumpul di rumahnya. “Wahai saudaraku! Dari cerita ini, kita paham bahwasetiap permintaan akan materi, yang sepintas hanya sebuahpermintaan yang wajar, sejatinya adalah sebuah perangkapdunia. Jika kekayaan akan memalingkan kita dari Allah,keadaan lapar tentu lebih baik daripadanya. Namun, kita jugamemohon perlindungan Allah dari kelaparan dan kefakiranyang justru malah memalingkan kita dari Allah.” Setelah selesai cerita Merzangus pun segera membagi-bagikan kue yang ada di keranjang kepada para tamu. Setiap kali Maryam menyinggung masalah kekayaan dankefakiran, ia selalu berpesan, “Awas, hati-hati! Jangan sampaikita berdiri dengan kedatangan seseorang karena sampai berbuat demikian, iman kita bisa hilang. Jikaada orang yang berhak untuk kalian hormati dengan berdiri,mereka adalah ayah dan ibu. Dan juga terhadap haiz danpembaca Taurat yang fasih, hormatilah kedatangan merekadengan berdiri.”  juga berada di depan ibu dan para haiznya. Segeraia berdiri seraya memberi tempat kepada mereka. -o0o- Maryam dan Nabi Isa terikat pada syariat Musa . Meskidemikian, mereka justru mendapatkan perlakuan jahat daribangsanya. Para alim Bani Israil tidak juga mau menerimanyasebagai utusan dari Allah. Selain itu, kedudukan para rahib sebagai pemuka agama,yang secara politik dan ekonomi merupakan kedudukanmapan dalam kasta atas, membuat mereka kebal hukumdan memiliki status ekonomi tinggi. Mereka bisa membuatperaturan yang menguntungkan sekehendak hati. Bebas daripungutan pajak. Bebas membuat kebijakan demi kepentinganpolitik mereka. Menurut Maryam, mereka “telah beraktivitas dalamkeburukan”. Mereka menjual agama demi mendapatkan duniayang fana. Isa  dan Maryam, setiap kali ada kesempatan, selalumenyampaikan apa yang telah dilakukan Bani Israil. “Kata-kata Anda sekalian adalah obat yang menyembuhkanpenyakit, namun perbuatan Anda sekalian adalah derita yangtidak bisa diobati.” Dan sungguh, tidak ada hal yang jauh lebih berbahayadaripada alim agama yang tidak sama antara perkataan danamal perbuatannya. Maryam sering mengatakan demikian tentang paraalim agama yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya. adalah orang-orang yang kata-katanya adalahmakanan, sementara amal perbuatannya racun!” Sepanjang hidup, Maryam selalu belajar dan mengajar. Dialah guru sejati, yang baik dan kuat perkataannya. Guru yang memberikan kesan tak terhapuskan. Baginda Rasulullah Muhammad  sering bersabda saatputri beliau, Fatimah az-Zahra, bertutur kata baik lagi penuhhikmah. “Dalam bertutur kata penuh hikmah, engkau mirip sekalidengan wanita surga Maryam putri Imran, wahai putriku.” Suatu saat, asap dapur keluarga Rasulullah tidak mengepulselama beberapa hari. Fatimah lalu datang kepada Rasulullah dengan berlari membawa sepiring makanan yang mungkinia dapatkan dari hadiah tetangga. Senang sekali anggotakeluarga dengan kedatangan Fatimah. Saat itu Rasulullah bertanya kepadanya tentang asal makanan itu. Fatimah pundengan tersenyum manis menjawab, “Dari Allah, wahaiRasulullah. Dari Allah yang tiada terhitung limpahan rezeki-Nya.” Mendapat jawaban yang baik ini, Rasulullah  menyanjungputrinya dengan bersabda bahwa dirinya mirip sekali denganMaryam. Rasulullah kemudian mencium keningnya. Fatimah dan Maryam sangat simetris, bayangan satu samalain dalam hal sikap dan sifat. 441

maryam bunda suci sang nabi pdf